Dikutip dari MOJOK.CO, Saat Lebaran tiba, ada beberapa kuliner yang selalu dinantikan. Bisa berupa makanan berat atau camilan. Meski kuliner baru terus bermunculan, penikmat setia biasanya tetap memilih hidangan yang sudah melekat di ingatan karena nilai sentimental saat kumpul keluarga.
Untuk memahami fenomena ini, Mojok menanyakan kepada tiga pecinta kuliner: “Apa makanan atau camilan paling berkesan saat Lebaran?”
Ketiganya sepakat bahwa kuliner mainstream selalu menjadi pilihan utama. Alasan utamanya sederhana: makanan tersebut sudah identik dengan Lebaran dan selalu membawa cerita di balik rasa. Tidak karena tren atau ingin terlihat keren, tapi karena kebiasaan dan kenangan keluarga.
1. Camilan Nastar: Kue Kering Spesial yang Hanya Muncul Saat Lebaran
Pertanyaan tentang kue Lebaran yang paling berkesan hampir selalu dijawab nastar.
Tata (23) menegaskan bahwa nastar hanya ia nikmati saat Lebaran. “Jujur, aku nggak mungkin makan nastar di luar Lebaran,” katanya.
Nastar berasal dari bahasa Belanda ananas taartjes, artinya tart isi nanas. Kue ini lahir dari adaptasi pie Belanda dengan isian buah lokal. Karena nanas dulunya tergolong buah mahal, nastar menjadi simbol eksklusivitas dan hanya disajikan saat perayaan.
Bagi Tata, membeli nastar hanya saat Lebaran membuat momen ini lebih spesial. “Bukan tipe kue kering yang dibeli sembarangan,” tambahnya. Di keluarganya, nastar selalu hadir sebagai hidangan wajib Idulfitri.
2. Ketupat: Momen Membuat Bersama Keluarga yang Tak Tergantikan
Dhea (26) memilih ketupat sebagai kuliner paling khas Lebaran. Nilai utamanya bukan hanya rasa, tapi proses pembuatannya bersama keluarga.
“Kalau Lebaran aja, kayaknya ketupat,” kata Dhea. Keluarganya menyiapkan ketupat sejak jauh-jauh hari, menjadikannya momen berkumpul yang hangat. Hidangan ini biasanya dipadukan dengan opor atau rendang, membuat kenangan Lebaran semakin melekat.
Sejarah ketupat juga kaya makna. Menurut sejarawan H.J. de Graaf, ketupat sudah menjadi simbol perayaan Islam sejak abad ke-15 di Demak. Kulit janur melambangkan identitas budaya pesisir, dan ketupat digunakan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah melalui akulturasi budaya agraris.
3. Kacang Goreng: Camilan Sederhana yang Tak Pernah Absen
Berbeda dari Tata dan Dhea, Ifroh (23) menyoroti kacang goreng sebagai camilan yang selalu ada di meja Lebaran, meski tidak seikonik nastar atau ketupat.
“Di rumah, harus ada kacang,” katanya. Tradisi menyajikan kacang goreng membuat Ifroh merasa asing jika camilan ini tidak hadir.
Selain anak-anak, tamu yang datang ke rumahnya juga banyak dari kalangan dewasa dan sesepuh desa. Karena ayahnya seorang imam, kacang menjadi camilan wajib yang paling dicari. Hal ini membuat kacang goreng tak sekadar makanan ringan, tapi bagian penting dari tradisi Lebaran di keluarganya.
Kesimpulan:
Meski tergolong camilan atau makanan “mainstream”, hidangan Lebaran seperti nastar, ketupat, dan kacang goreng menyimpan nilai sentimental yang mempererat kebersamaan keluarga. Kenangan, tradisi, dan proses membuat makanan ini justru membuatnya lebih berharga daripada sekadar tren kuliner baru.







