Kirim Artikel

BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Banjir Semarang, Rob Pasang Turun 40 cm

Dikutip dari IDXCHANNEL.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi banjir yang melanda Kota Semarang dan sekitarnya. Langkah ini diambil setelah hujan deras mengguyur wilayah Semarang selama beberapa hari terakhir, menyebabkan genangan di banyak titik.

Pengumuman OMC ini disampaikan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/6/2026). Ia menjelaskan bahwa OMC akan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan teknologi penyemaian awan (cloud seeding) dari pesawat Hercules milik TNI AU.

“Semarang dan beberapa daerah di Jawa Tengah masuk dalam prioritas penangan banjir kami. OMC akan dimaksimalkan untuk mengurangi intensitas hujan di hulu, sehingga debit air yang masuk ke kota bisa terkendali,” ujar Suharyanto.

Operasi ini bukan yang pertama kalinya. BNPB sudah beberapa kali menggelar OMC untuk daerah rawan banjir di Indonesia, termasuk di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan. Pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi modal penting untuk kesuksesan OMC di Semarang.

Kronologi Banjir Semarang

Banjir yang melanda Semarang pada akhir Mei hingga awal Juni 2026 disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Hujan dengan intensitas tinggi (>100 mm/hari) yang turun selama tiga hari berturut-turut, ditambah pasang air laut (rob) yang meninggi, dan sistem drainase kota yang belum optimal.

Akibatnya, beberapa wilayah tergenang cukup parah, di antaranya: Kecamatan Semarang Utara (ketinggian 30-80 cm), Kecamatan Genuk (50-100 cm), Kecamatan Pedurungan (20-50 cm), dan sebagian Kecamatan Tembalang (10-30 cm). Total ada 27 kelurahan yang terdampak dengan lebih dari 12.000 jiwa mengungsi.

Banjir terparah terjadi di Kelurahan Tambak Lorok, sebuah kawasan permukiman padat di pesisir utara Semarang. Mayoritas warga Tambak Lorok bermata pencaharian sebagai nelayan dan bekerja di pelabuhan. Saat rob dan banjir datang bersamaan, kawasan ini seperti “terkepung” air dari segala arah.

“Lumayan lama saya tidak melihat banjir separah ini. Tahun 2024 cukup parah, tapi ini lebih. Mungkin karena rob juga tinggi,” kata Suryono (55), tokoh masyarakat Tambak Lorok.

Teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

OMC adalah teknologi yang digunakan untuk memodifikasi cuaca dengan cara menaburkan bahan tertentu ke dalam awan. Bahan yang digunakan biasanya adalah garam (NaCl) atau dry ice (CO2 beku) yang berfungsi sebagai inti kondensasi, mempercepat proses terbentuknya hujan.

“Prinsipnya sederhana, kita bantu awan yang sudah jenuh untuk segera menurunkan hujannya. Dengan begitu, intensitas hujan bisa kita sebar dan tidak terkonsentrasi di satu titik,” jelas Dr. Hesti Widayani, ahli klimatologi dari BMKG.

Proses OMC dilakukan dengan pesawat terbang yang terbang di sekitar awan pada ketinggian tertentu. Petugas menaburkan bahan semai menggunakan flare atau dispenser khusus. Satu sorti OMC bisa berlangsung 2-4 jam dan mencakup area seluas ratusan kilometer persegi.

Kunci sukses OMC adalah timing dan penentuan lokasi. Tim BNBP harus bekerja sama dengan BMKG untuk menentukan kapan awan sudah cukup jenuh, arah angin, dan posisi yang tepat untuk penyemaian.

Tantangan Rob di Pantura

Banjir dan rob di Pantura Jawa Tengah memang menjadi masalah kronis. Setiap tahun, terutama saat musim hujan dan fenomena pasang naik air laut, kawasan pesisir seperti Semarang, Demak, Pekalongan, dan Brebes selalu terdampak.

Peneliti bencana dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sudibyakto, menjelaskan bahwa rob yang makin parah di Pantura disebabkan oleh beberapa faktor: kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, penurunan tanah (land subsidence) yang mencapai 10-15 cm per tahun di beberapa titik, dan kerusakan ekosistem mangrove di pesisir.

“Solusinya tidak bisa tunggal. Harus ada kombinasi: tanggul laut, pompa air, konservasi mangrove, dan pengelolaan air hulu yang lebih baik. OMC hanya solusi jangka pendek,” tegas Sudibyakto.

Khusus di Tambak Lorok, pemerintah sudah beberapa kali menganggarkan proyek peninggian tanggul dan pembuatan pompa air raksasa. Namun proyek-proyek ini sering molor dari jadwal dan terbentur pembebasan lahan.

Tanggapan Warga dan Pemerintah Daerah

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyambut baik keputusan BNPB untuk melakukan OMC. Namun ia juga menekankan pentingnya solusi struktural jangka panjang.

“OMC sangat membantu, tapi ini seperti memadamkan api dengan cipratan air. Kita butuh solusi yang lebih permanen untuk banjir dan rob,” ujar Agustina.

Ia menambahkan bahwa pemkot sudah menyiapkan beberapa program jangka panjang, antara lain: normalisasi sungai Babon, Karang, dan Kripik; pembangunan kolam retensi di beberapa titik strategis; serta revitalisasi sistem drainase kota yang sudah tua.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga turun langsung memantau lokasi banjir. Ia menginstruksikan jajarannya untuk melakukan langkah cepat, mulai dari evakuasi warga, distribusi logistik, hingga perbaikan infrastruktur pascabanjir.

“Kami akan kawal pemulihan pascabanjir. Tidak boleh ada warga yang kelaparan atau sakit karena dampak banjir ini,” tegas Luthfi.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Banjir dan rob di Semarang bukan hanya masalah kemanusiaan, tapi juga ekonomi. Aktivitas perdagangan di Pasar Johar, Pusat Grosir Setiabudi, dan beberapa sentra UMKM sempat lumpuh. Pelabuhan Tanjung Emas juga mengalami gangguan operasional.

Kerugian ekonomi akibat banjir ini ditaksir mencapai Rp150-200 miliar, belum termasuk kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum. Sekitar 3.500 usaha mikro kecil terdampak, dengan rata-rata kerugian Rp5-15 juta per usaha.

“Kami rugi belasan juta hanya dalam tiga hari tidak bisa jualan. Belum lagi barang dagangan yang rusak terendam,” keluh Supriyati (43), pedagang di Pasar Bulu.

Sektor perikanan juga terdampak. Nelayan di Tambak Lorok tidak bisa melaut karena perahu rusak dan pelabuhan tergenang. Produksi ikan turun 40-50 persen selama periode banjir.

Persiapan Pascabanjir dan Mitigasi Jangka Panjang

BNPB tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tapi juga mitigasi jangka panjang. Salah satu program andalannya adalah Gerakan Nasional 1.000 Embung, yang akan membangun 1.000 embung kecil di seluruh Indonesia untuk menampung air hujan di hulu.

Di Jawa Tengah sendiri, sudah ada 47 embung yang dibangun sejak 2023. Tambahan 25 embung sedang dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung akhir 2026. Embung-embung ini berfungsi untuk mengurangi debit air yang masuk ke sungai dan laut.

Selain itu, program rehabilitasi mangrove juga digencarkan. Di sepanjang pesisir Semarang-Demak, sudah tertanam 2,3 juta bibit mangrove sejak 2020. Mangrove berfungsi sebagai pemecah gelombang alami sekaligus penahan abrasi.

“Restorasi mangrove adalah investasi jangka panjang. Butuh 5-10 tahun untuk melihat hasilnya, tapi ini solusi yang paling sustainable,” jelas Dr. Endang Sukara, ahli lingkungan dari LIPI.

Partisipasi Masyarakat

Masyarakat juga diajak berperan aktif dalam mitigasi banjir. Beberapa aksi yang bisa dilakukan antara lain: tidak membuang sampah ke sungai, membuat biopori di halaman rumah, menjaga kebersihan drainase, dan melestarikan ruang terbuka hijau.

Komunitas seperti Semarang River Care dan Water Rescue Semarang secara rutin melakukan aksi bersih sungai dan edukasi ke warga. Mereka menjadi ujung tombak mitigasi berbasis masyarakat.

“Kami tidak bisa menunggu pemerintah saja. Setiap warga punya peran untuk menjaga lingkungan,” ujar Aulia Rachman, pendiri Semarang River Care.

Pelajaran dari Negara Lain

Indonesia bisa belajar dari negara lain yang sudah berhasil mengelola banjir dan rob. Belanda misalnya, dengan teknologi Rotterdamse Maakbare Waterkering-nya, mampu bertahan dari ancaman kenaikan permukaan laut.

Di Indonesia, konsep serupa mulai diterapkan, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Salah satunya adalah tanggul laut di kawasan Tanjung Emas yang dibangun dengan teknologi tinggi. Tanggul ini mampu menahan rob dan gelombang besar.

Kementerian Pekerjaan Umum juga sedang mengkaji pembangunan “giant sea wall” atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jawa (Pantura). Proyek ambisius ini akan membentang dari Banten hingga Jawa Timur, dan diklaim mampu melindungi wilayah pesisir dari rob dan kenaikan muka air laut.

“Tapi giant sea wall butuh biaya triliunan dan waktu puluhan tahun. Untuk jangka pendek, solusi seperti OMC dan revitalisasi mangrove masih menjadi pilihan paling realistis,” ujar Dr. Sudibyakto.

Pemulihan Pascabanjir

Setelah banjir surut, proses pemulihan menjadi tantangan berikutnya. Banyak rumah warga yang rusak, perabot terendam, dan sanitasi lingkungan yang terganggu. BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan langsung bergerak membantu proses pemulihan.

Fokus utama pemulihan adalah pembersihan lingkungan, distribusi bantuan logistik, dan perbaikan infrastruktur dasar. Pemerintah juga memberikan bantuan stimulan untuk perbaikan rumah, dengan nominal bervariasi tergantung tingkat kerusakan.

“Bantuan untuk rumah rusak ringan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat Rp50 juta. Plus bantuan kebutuhan pokok selama pemulihan,” ujar Ahmad Aziz, Kepala BPBD.

Untuk UMKM yang terdampak, pemkot juga menyiapkan program bantuan modal dan pelatihan. “Kami tidak ingin UMKM yang baru pulih dari pandemi kembali terpuruk karena banjir,” tambah Agustina.

Di sisi psikologis, banyak warga yang mengalami trauma pascabanjir. Anak-anak dan lansia paling rentan. BPBD bersama Dinas Kesehatan dan komunitas psikolog akan memberikan layanan trauma healing untuk warga yang membutuhkan. Pendampingan psikologis dilakukan di posko pengungsian dan berlanjut setelah warga kembali ke rumah.

Komitmen Anggaran

Penanganan banjir dan rob butuh komitmen anggaran yang kuat. APBD Kota Semarang 2026 mengalokasikan Rp85 miliar khusus untuk program pengendalian banjir, naik dari tahun sebelumnya yang hanya Rp60 miliar. Anggaran ini digunakan untuk normalisasi sungai, pembangunan pompa, dan revitalisasi drainase.

Sementara itu, anggaran BNPB untuk OMC dan operasi tanggap darurat dialokasikan dari APBN melalui Dana Siap Pakai (DSP). Untuk OMC Semarang, BNPB menyiapkan anggaran khusus sekitar Rp12 miliar untuk satu kali operasi penuh.

Sinergi Lintas Sektor

Keberhasilan OMC dan mitigasi banjir di Semarang tidak lepas dari sinergi banyak pihak. BNPB, BMKG, TNI AU, pemerintah daerah, komunitas, dan warga sipil harus bergerak dalam satu komando.

Latihan bersama (latgab) OMC rutin dilakukan setiap tahun untuk memastikan semua pihak siap saat darurat. Tahun 2025 lalu, latihan serupa digelar di Lanud Ahmad Yani Semarang dengan skenario penanganan banjir bandang.

“Sinergi ini yang membuat kita tidak panik saat banjir benar-benar terjadi. Semua sudah tahu tugasnya masing-masing,” ujar Danlanud Ahmad Yani, Marsma TNI Andi Kustamar.

Penutup

Operasi Modifikasi Cuaca oleh BNPB memang menjadi solusi cepat untuk meredam dampak hujan deras. Namun banjir dan rob di Semarang adalah masalah struktural yang butuh solusi komprehensif dan berkelanjutan.

Kombinasi antara teknologi (OMC, pompa, tanggul), konservasi lingkungan (mangrove, reboisasi), perbaikan infrastruktur (drainase, embung), dan kesadaran masyarakat menjadi kunci. Tidak ada satu solusi yang bisa berdiri sendiri.

Yang pasti, setiap tetes air yang merendam rumah warga adalah panggilan untuk bertindak. Bukan hanya pemerintah, tapi juga kita semua. Semarang adalah kota kita bersama, dan menjaganya adalah tanggung jawab bersama.

Ikuti terus update terkini tentang penanganan banjir Semarang dan program mitigasi bencana di website resmi BNPB, BMKG, dan BPBD Kota Semarang.


Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id

Ikuti Instagram @yuk.talk untuk update berita terkini