SEMARANG – Di tengah kesibukan kota Semarang yang semakin modern, hadir sebuah oase kebahagiaan bernama Bernada Berswara. Acara musik yang digagas oleh iSWARA FM dan Komunitas Bukibuk ini menjadi ruang ekspresi bagi anak muda yang mencintai musik dan seni.
Konsep Bernada Berswara sendiri cukup sederhana: menyatukan musisi indie, penikmat musik, dan komunitas seni dalam satu panggung kolaboratif. Tidak ada ekspektasi komersial, tidak ada penilaian juara, hanya ekspresi dan kegembiraan murni.
Inisiator Bernada Berswara, Dimas Aria (32), menjelaskan bahwa acara ini dilatarbelakangi oleh minimnya ruang ekspresi bagi musisi indie di Semarang. Banyak band-band indie berbakat yang tidak punya tempat untuk tampil.
“Saya dan teman-teman di Komunitas Bukibuk sering diskusi tentang ini. Semarang punya banyak musisi hebat, tapi ruang untuk mereka sangat terbatas. Akhirnya kami buat Bernada Berswara sebagai solusi,” ujar Dimas.
iSWARA FM sebagai radio komunitas kemudian sepakat untuk bermitra. Setiap bulannya, radio ini menyiarkan program tentang musik indie Semarang dan secara rutin menggelar Bernada Berswara.
Konsep Acara yang Autentik
Bernada Berswara punya beberapa konsep yang berbeda dari acara musik komersial pada umumnya:
- Acoustic and Intimate – Format acoustic dan intim, dengan jumlah penonton terbatas (50-100 orang). Suasananya lebih dekat, lebih personal, lebih menyentuh.
- Kolaborasi Lintas Musisi – Setiap acara, musisi yang tampil diminta untuk berkolaborasi satu sama lain. Hasilnya, sound baru yang segar dan tak terduga.
- Tanpa Batasan Genre – Semua genre musik boleh tampil. Indie, folk, jazz, pop, dangdut koplo, sampai eksperimental, semua punya tempat.
- Tiket Terjangkau – Harga tiket sengaja dibuat terjangkau, Rp20-50 ribu per orang. Bahkan ada konsep “bayar seikhlasnya” untuk beberapa event khusus.
- Donasi untuk Musisi – Hasil penjualan tiket sepenuhnya diberikan kepada musisi yang tampil. Tidak ada potongan untuk promotor.
- Lokasi Bersejarah – Acara digelar di tempat-tempat unik: café heritage, rooftop, taman kota, dan studio musik indie. Setiap lokasi punya cerita.
Rutin Digelar Setiap Bulan
Sejak dimulai pada 2024, Bernada Berswara rutin digelar setiap bulan. Setiap edisi, tema dan lineup musisi berbeda-beda.
Edisi-edisi yang sudah digelar antara lain:
- “Malamsastro” (Malam Penuh Sastra) – Kolaborasi musisi dan sastrawan
- “Bicoustic” – 2 musisi akustik dalam satu panggung
- “Songs of Hope” – Lagu-lagu bertema harapan
- “Konser Mini Lintas Generasi” – Musisi senior dan junior dalam satu panggung
- “Srawung” – Kolaborasi musisi Jawa dan musik etnik
Acara ini selalu sold out. Antrean untuk mendapat tiket pun panjang, meskipun kapasitasnya sudah ditambah.
Dampak ke Ekosistem Musik Lokal
Bernada Berswara membawa dampak positif bagi ekosistem musik indie Semarang. Beberapa di antaranya:
- Munculnya Band Baru – Banyak band indie baru yang muncul setelah tampil di Bernada Berswara. Panggung ini jadi batu loncatan.
- Kolaborasi Kreatif – Kolaborasi antar musisi yang jarang terjadi di event lain. Hasilnya, sound baru dan project baru.
- Penikmat Musik Tumbuh – Penonton yang datang semakin beragam. Tidak hanya anak muda, tapi juga orang tua dan keluarga.
- Ekonomi Kreatif – Tumbuh ekonomi kreatif di sekitar acara: merchandise band, jasa dokumentasi, dan café yang menyediakan tempat.
- Dokumentasi Musik Lokal – Setiap acara didokumentasikan dengan baik, menjadi arsip berharga untuk musik Semarang.
“Kami ingin menjadi bagian dari sejarah musik Semarang. Dokumentasi ini penting agar karya musisi indie tidak hilang ditelan zaman,” kata Dimas.
Komunitas Bukibuk: Penggerak di Balik Layar
Di balik kesuksesan Bernada Berswara, ada Komunitas Bukibuk yang menjadi penggerak. Komunitas ini berdiri sejak 2018, awalnya sebagai komunitas pencinta buku yang berkembang menjadi komunitas seni dan budaya.
“Bukibuk itu singkatan dari ‘Buku, Budaya, dan Kreativitas’. Komunitas kami memang luas, tidak hanya buku,” jelas Sarah (28), salah satu anggota Bukibuk.
Komunitas ini rutin mengadakan beberapa acara:
- Bedah Buku – Diskusi buku setiap bulan
- Pentas Seni – Pertunjukan seni dari anggota
- Kelas Kreatif – Workshop menulis, melukis, dan bermusik
- Kopdar Bukibuk – Pertemuan rutin anggota
“Semangat kami adalah menciptakan ruang yang aman dan inklusif untuk berekspresi. Siapa pun boleh datang, siapa pun boleh berbagi,” tambah Sarah.
Testimoni dari Musisi dan Penonton
Bernada Berswara mendapat testimoni positif dari berbagai pihak:
- Dinda (24, Vokalis Band Indie) – “Ini panggung yang paling saya syukuri. Di sini, saya bisa menyanyi dengan tenang, tanpa tekanan komersial.”
- Rizky (30, Penonton) – “Saya datang pertama kali karena penasaran, sekarang jadi langganan. Suasananya beda, lebih autentik.”
- Pak Hari (50, Penggemar Musik) – “Anak saya ajak saya datang. Awalnya ragu, tapi ternyata seru juga. Sekarang saya tunggu-tunggu edisi berikutnya.”
- Galuh (22, Mahasiswa) – “Saya selalu posting tentang Bernada Berswara di media sosial. Teman-teman saya jadi ikut datang.”
Tantangan dan Harapan
Beberapa tantangan yang dihadapi:
- SDM – Relawan yang mengelola acara terbatas. Butuh lebih banyak志愿者 yang konsisten.
- Pendanaan – Tidak ada sponsor tetap. Pendanaan dari penjualan tiket dan donasi.
- Lokasi – Tidak punya tempat tetap, harus pinjam tempat.
- Promosi – Promosi masih mengandalkan word of mouth dan media sosial.
Harapan ke depan, Bernada Berswara bisa menjadi lebih besar, dengan jaringan yang lebih luas, dan pendanaan yang lebih stabil. Bahkan ada mimpi untuk membuat festival musik indie tahunan berskala nasional.
Pendaftaran Musisi dan Sukarelawan
Musisi yang ingin tampil di Bernada Berswara bisa mendaftarkan diri melalui Instagram @bernada.berswara. Seleksi tidak terlalu ketat, yang penting punya karya orisinal dan semangat kolaborasi.
Sukarelawan yang ingin membantu juga bisa mendaftar. Banyak posisi yang bisa diisi: dokumentasi, logistik, publikasi, dan hospitality.
Penutup
Bernada Berswara adalah bukti bahwa seni dan musik bukan hanya milik industri besar. Anak muda dengan semangat dan cinta pada seni bisa menciptakan ruang ekspresi yang bermakna.
Di tengah dunia yang serba digital dan komersial, acara seperti Bernada Berswara mengingatkan kita bahwa musik adalah tentang ekspresi, emosi, dan kebersamaan. Bukan sekadar bisnis.
Ayo, datang ke edisi berikutnya. Atau, kalau kamu musisi, daftarkan dirimu. Jadilah bagian dari gerakan musik indie Semarang!
Tentang iSWARA FM
iSWARA FM adalah radio komunitas yang fokus pada musik indie dan konten alternatif. Berdiri sejak 2015, radio ini menyiarkan program tentang musik, budaya, dan kreativitas.
“Slogan kami: ‘Suarakan yang tak terdengar’. Kami ingin menjadi media bagi suara-suara yang sering terpinggirkan oleh industri mainstream,” ujar Teguh (35), pendiri iSWARA FM.
iSWARA FM bisa didengarkan secara online melalui website reswararadio.com dan aplikasi mobile. Pendengar tidak hanya dari Semarang, tapi juga dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.
Peluang Kolaborasi
Bernada Berswara terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai pihak: café, komunitas seni, brand lokal, dan instansi pemerintah. Beberapa kolaborasi yang sudah terjalin:
- Kolaborasi dengan café lokal untuk tempat acara
- Kolaborasi dengan brand musik untuk merchandise
- Kolaborasi dengan sekolah seni untuk workshop
- Kolaborasi dengan komunitas literasi untuk acara sastra
“Kami tidak membatasi kolaborasi. Asal visi-nya sama, kami terbuka,” kata Dimas.
Peluang untuk Musisi Indie
Bernada Berswara bukan hanya tempat tampil, tapi juga batu loncatan bagi musisi indie. Beberapa musisi yang pernah tampil di sini kemudian mendapat:
- Kontrak rekaman dengan label indie
- Undangan tampil di festival musik nasional
- Sponsor dari brand-brand
- Peluang kolaborasi dengan musisi senior
“Saya tampil di Bernada Berswara tahun 2024. Sekarang saya sudah rekaman single pertama dan main di beberapa festival. Ini benar-benar batu loncatan,” ujar Dinda.
Dampak ke Industri Kreatif
Bernada Berswara juga berdampak positif ke industri kreatif di Semarang. Beberapa efeknya:
- Pertumbuhan Café Tematik – Banyak café baru yang didirikan dengan konsep tematik, menjadi tempat acara musik.
- Tumbuhnya Studio Musik – Studio musik indie di Semarang semakin banyak, melayani musisi yang ingin rekaman.
- Merek Lokal – Merek-merek lokal (fashion, minuman, makanan) tumbuh dengan menjadikan acara musik sebagai kanal promosi.
- Pariwara Kreatif – Jasa dokumentasi, desain, dan produksi acara tumbuh melayani event-event kreatif.
- Wisata Kreatif – Semarang semakin menarik sebagai destinasi wisata kreatif, dengan event-event musik sebagai magnetnya.
Konsistensi dan Komitmen
Kunci keberhasilan Bernada Berswara adalah konsistensi. Sejak 2024, acara ini rutin digelar tanpa terputus. Komitmen ini yang membuat trust dari musisi, penonton, dan sponsor terjaga.
“Kami tidak mau sekadar ramai di awal lalu hilang. Ini marathon, bukan sprint. Butuh konsistensi,” kata Dimas.
Testimoni dari Sponsor
Salah satu sponsor, brand minuman lokal, memberikan testimoni:
“Partisipasi kami di Bernada Berswara sangat berkesan. Audiens-nya engaged, suka produk kami, dan banyak yang jadi pelanggan tetap. Worth it untuk sponsorship,” kata Rina, marketing manager brand tersebut.
Mimpi Jangka Panjang
Dimas dan tim punya mimpi jangka panjang untuk Bernada Berswara:
- Festival Musik Tahunan – Menggelar festival musik indie tahunan berskala nasional. Diimpikan bisa mengundang musisi indie dari berbagai kota.
- Komunitas Musisi Indie – Membangun komunitas musisi indie Semarang yang solid, saling mendukung dan berkolaborasi.
- Label Musik Independen – Mendirikan label musik independen yang bisa menaungi musisi indie Semarang.
- Studio Musik Komunitas – Membangun studio musik komunitas yang bisa diakses gratis atau dengan biaya terjangkau.
- Sekolah Musik – Mengembangkan sekolah musik alternatif untuk anak-anak yang kurang mampu.
“Mimpi-mimpi ini besar, tapi bukan mustahil. Dengan dukungan semua pihak, kami yakin bisa mencapainya,” kata Dimas.
Pelajaran dari Bernada Berswara
Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari Bernada Berswara:
- Konsistensi adalah Kunci – Acara yang konsisten akan membangun audiens setia.
- Kualitas di atas Kuantitas – Format intim dengan 50-100 penonton memberi dampak lebih mendalam dibanding acara besar tapi dangkal.
- Gotong Royong – Acara ini sepenuhnya dibangun dengan semangat gotong royong. Tanpa semangat ini, acara ini tidak akan bertahan.
- Ruang Aman – Konsep ruang aman (safe space) membuat musisi dan penonton merasa nyaman untuk berekspresi.
- Dokumentasi yang Baik – Setiap acara didokumentasikan, menjadi arsip dan materi promosi.
Penutup
Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id
Ikuti Instagram @yuk.talk untuk update berita terkini

