Gen Z paham radikal, empat kata yang bikin siapa saja merinding. Ternyata ancaman ini bukan cuma teori. Data terbaru menunjukkan anak muda Indonesia rata-rata menghabiskan 7 jam 38 menit per hari di internet. Dari waktu sebanyak itu, 3 jam 11 menit habis untuk scroll media sosial. Celah inilah yang kini jadi pintu masuk paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) secara diam-diam.
Mengapa Gen Z Paham Radikal Makin Mudah Terpapar?
Zaman dulu, radikalisasi itu terjadi lewat pengajian tertutup atau pertemuan tatap muka. Sekarang beda. Perekrutan gen Z paham radikal berlangsung secara silent, diam-diam, lewat media sosial, game online, obrolan privat, bahkan komunitas daring dari luar negeri. Prosesnya bisa berjalan tepat di depan mata orang tua tanpa ada tanda fisik yang kentara.
Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Robertus Setiawan Aji Nugroho, menjelaskan ancaman ini dengan gamblang. Menurutnya, radikalisasi era digital jauh lebih berbahaya karena tidak terdeteksi.
“Saat ini yang banyak menjadi ancaman adalah bagaimana proses radikalisasi itu terjadi secara silent atau diam-diam. Sekarang banyak terjadi melalui media sosial atau bahkan game.” – Robertus Setiawan Aji Nugroho, Rektor SCU Semarang
Yang Bisa Deteksi Dulu Gen Z Paham Radikal Justru Temannya, Bukan Keluarga
Ini fakta yang mengejutkan. Robertus menegaskan bahwa orang tua dan guru sering kali tidak menyadari perubahan pada anak mereka. Justru teman sebaya yang paling cepat menangkap sinyal-sinyal aneh.
“Yang bisa mendeteksi lebih awal justru teman-temannya. Bahkan terkadang keluarga tidak mengetahui perubahan yang terjadi. Karena itu penting ada kesadaran bersama untuk saling mengingatkan.” – Robertus Setiawan Aji Nugroho
Perekrut paham radikal memang pintar memilih target. Mereka mengincar anak muda yang sedang rapuh secara emosional — yang punya masalah pribadi, merasa terasing, atau sedang mencari identitas. Obrolan santai di grup game atau komunitas media sosial bisa jadi pintu masuk menuju agenda ideologis yang berbahaya.
Anatomi Gen Z Paham Radikal: Dari Tidak Bisa Menerima Perbedaan Jadi Teroris
Dosen Psikologi SCU, CVR Abimanyu, memaparkan bahwa gen Z paham radikal tidak terjadi dalam semalam. Ada tahapan psikologis yang jelas:
- Intoleransi: benih paling awal. Tidak bisa menerima perbedaan.
- Eksklusivitas: mulai menutup diri, pola pikir “kita lawan mereka”.
- Radikalisme dan ekstremisme: mulai mengadopsi ideologi kaku dan ekstrem.
- Terorisme: ujung paling mengerikan: kekerasan atas nama keyakinan.
“IRET tidak terjadi begitu saja. Benih awalnya adalah ketidakmampuan menerima perbedaan yang kemudian berkembang menjadi sikap dan pemikiran yang semakin eksklusif,” tegas Abimanyu.
7 Jam 38 Menit Online: Angka yang Bikin Gen Z Paham Radikal Makin Nyata
Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara memaparkan data yang bikin kaget. Rata-rata orang Indonesia online 7 jam 38 menit per hari. Gen Z adalah kelompok paling aktif di ruang digital.
“Tingginya intensitas penggunaan internet tersebut membuat anak muda menjadi kelompok yang paling aktif di ruang digital. Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang masuknya berbagai konten bermuatan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.”
Dalam acara Bacaja Goes to School bertema “Stop IRET, Scroll Smart!” di Auditorium Agnes Widanti SCU Semarang, para pakar dari Densus 88, akademisi, psikolog, dan Dinas Pendidikan Jateng berkumpul untuk membahas solusi.
4 Cara Lawan Gen Z Paham Radikal yang Bisa Dilakukan Sekarang
Berikut rekomendasi konkret dari para pakar:
- Literasi digital. Ajari anak muda cara menganalisis konten online secara kritis. Tidak semua yang viral itu benar.
- Dukung kesehatan mental. Anak muda yang punya masalah dan tidak dapat dukungan rentan jadi target perekrut radikal.
- Aktifkan pengawasan teman sebaya. Teman lebih tahu apa yang dikonsumsi anak muda di dunia maya dibanding orang tua.
- Buka ruang diskusi. Jangan langsung marah kalau anak cerita soal konten yang mereka temukan online. Dengarkan dulu, baru arahkan.
Hukum Saja Tidak Cukup untuk Hadapi Gen Z Paham Radikal
Para pakar sepakat: mengandalkan penangkapan dan penjara saja tidak akan menyelesaikan masalah. Pencegahan harus dimulai dari akar, mengajarkan anak muda cara menerima perbedaan sejak dini, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Karena menghindari internet itu mustahil bagi gen Z paham radikal maupun yang belum terpapar. Yang bisa dilakukan adalah membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis agar bisa memilah mana konten yang membangun dan mana yang menyesatkan. Tagline “Scroll Smart!” dari acara ini bukan sekadar slogan, ini panggilan aksi bagi seluruh orang tua, guru, dan masyarakat.
Dikutip dari: Tribun Jateng
Disusun oleh Tim Redaksi YukTalk.

