Kirim Artikel

Kempling Semar: Cara Cepat Pemkot Semarang Atasi Harga Sayur Naik

Kempling Semar

Harga sayur di pasar tradisional mulai naik, dan Kempling Semar langsung jadi andalan Pemkot Semarang untuk intervensi. Kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran dan bawang merah direspons cepat oleh Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti yang menginstruksikan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) untuk menggelar operasi pasar melalui armada keliling ini.

Pasar Peterongan menjadi sasaran pertama Kempling Semar. Pasokan sayuran dalam jumlah besar langsung digelontorkan agar harga bisa segera terkendali dan warga mendapatkan harga yang wajar.

Apa Itu Kempling Semar?

Kempling Semar adalah singkatan dari Ketahanan Pangan Keliling Semarang. Program ini merupakan bagian dari Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dijalankan Pemkot Semarang sebagai bentuk intervensi langsung terhadap lonjakan harga pangan di tingkat konsumen.

Konsepnya sederhana namun efektif: armada keliling bergerak ke titik-titik pasar yang mengalami kenaikan harga signifikan, lalu menjual bahan pokok dan sayuran dengan harga terjangkau. Tujuannya, menekan harga pasar kembali ke level wajar dengan cara membanjiri pasokan.

Kepala Dishanpan Kota Semarang Endang Sarwiningsih menjelaskan bahwa intervensi Kempling Semar ini dilakukan bersama sejumlah mitra strategis, termasuk Polrestabes Semarang, Dinas Perdagangan, Bulog Kanwil Semarang, serta program PAK RAHMAN, Sayur Yuni, dan BUMD JTAB.

“Pagi ini kami melakukan intervensi bersama mitra dengan menggelontorkan pasokan sayuran ke Pasar Peterongan sehingga harga sayuran bisa lebih terkendali.” — Endang Sarwiningsih, Kepala Dishanpan Semarang

Komoditas Mana Saja yang Naik di Pasar Peterongan?

Berdasarkan pemantauan Satgas Saber (Satuan Tugas Harga dan Kualitas) di Pasar Peterongan, sebagian besar harga bahan pokok masih dalam batas aman. Satu-satunya komoditas yang mencuat signifikan di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) adalah bawang merah.

Berikut gambaran harga sejumlah komoditas penting di Pasar Peterongan saat pemantauan:

  • Bawang merah: Rp55.000/kg (sekitar 30% di atas HAP Rp41.500/kg)
  • Bawang putih: Rp40.000/kg (stabil)
  • Beras SPHP: Rp60.000/5 kg (stabil)
  • Minyak goreng: Rp23.000/liter (stabil)
  • Telur ayam: Rp27.000/kg (stabil)
  • Gula pasir: Rp18.500/kg (stabil)
  • Ayam broiler: Rp27.000/kg (stabil)
  • Cabai rawit: Rp55.000/kg (stabil)
  • Cabai keriting: Rp35.000/kg (stabil)
  • Wortel: Rp15.000/kg (stabil)
  • Tomat: Rp12.000/kg (stabil)

Wali Kota Agustina menegaskan bahwa secara umum kondisi masih terkendali. “Harga semua komoditas penting yang dipantau pemerintah relatif aman. Memang ada kenaikan, tetapi masih dalam kondisi yang aman. Hanya bawang merah yang berada di atas HAP, tetapi masih bisa dikendalikan melalui operasi pasar,” jelasnya. Informasi lebih lengkap tentang program pangan daerah bisa dilihat di situs resmi Pemkot Semarang.

Strategi Kempling Semar Jaga Stabilitas Harga

Selain Kempling Semar, Pemkot Semarang juga menjalankan beberapa strategi pendukung. Satgas Saber rutin melakukan pemantauan harga dan kualitas di pasar-pasar tradisional. Jika ditemukan lonjakan yang tidak wajar, intervensi pasokan langsung dilakukan.

Rantai distribusi juga dijaga agar tidak terjadi kelangkaan buatan. Pemkot bekerja sama dengan Bulog untuk memastikan ketersediaan stok, sementara Dinas Perdagangan memantau jalur distribusi dari hulu ke hilir.

Endang menambahkan bahwa hasil monitoring dan evaluasi dari Badan Pangan Nasional menunjukkan harga pangan di Kota Semarang relatif lebih stabil dalam mendukung pengendalian inflasi daerah.

Kempling Semar Diakui Secara Nasional

Yang menarik, program Gerakan Pangan Murah yang dijalankan lewat Kempling Semar bukan hanya berdampak lokal. Badan Pangan Nasional mengakui model intervensi ini sebagai pendekatan yang efektif dan bisa direplikasi oleh daerah lain dalam mengendalikan inflasi pangan di tingkat kota dan kabupaten.

Dengan kombinasi armada keliling, kolaborasi lintas sektor, dan monitoring real-time, Kempling Semar menunjukkan bahwa stabilitas harga bukan sesuatu yang mustahil — asal pemerintah mau bergerak cepat dan tepat sasaran.


Dikutip dari: Metro SemarangiNews Jateng

Disusun oleh Redaksi YukTalk.