Kirim Artikel

Prestasi 3 Tahun Terbuang, Ortu Semarang Tulis Surat Terbuka Gegara Portal Sang Juara Error

Sang Juara Semarang

Surat Terbuka yang Mengguncang: Sang Juara Semarang Jadi Sorotan

Kegaduhan baru melanda dunia pendidikan di Kota Semarang. Sejumlah orang tua siswa menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Wali Kota Semarang, Dinas Pendidikan, hingga KPAI. Mereka mengeluhkan portal Sang Juara Semarang yang mengalami error dan akhirnya ditutup, sehingga prestasi anak-anak mereka selama hampir tiga tahun tidak bisa diunggah ke sistem.

Surat terbuka tersebut pertama kali viral melalui akun Instagram @beritasemaranghariini. Para orang tua merasa dirugikan karena pihak sekolah tempat anak mereka belajar mengaku lalai dalam menginput data prestasi ke platform tersebut. Padahal, sertifikat yang dikumpulkan sejak kelas 4 SD itu seharusnya menjadi tiket emas masuk ke SMP favorit melalui jalur prestasi.

Apa Itu Portal Sang Juara Semarang dan Kenapa Sangat Penting?

Sang Juara Semarang merupakan portal resmi yang dibuat Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk memfasilitasi pengunggahan sertifikat prestasi siswa secara digital. Platform ini menjadi satu-satunya jalur bagi siswa yang ingin mendaftar SMP negeri melalui jalur prestasi di kota tersebut. Proses unggah sertifikat sudah bisa dilakukan sejak siswa duduk di kelas 4 SD, artinya rentang waktu pengumpulan data prestasi mencapai hampir tiga tahun.

Masalah mulai muncul ketika portal ini mengalami kendala teknis yang membuat banyak orang tua tidak bisa mengaksesnya. Dinas Pendidikan sebelumnya telah memperpanjang batas waktu unggah yang seharusnya berakhir pada April 2026 sesuai regulasi Permendikdasmen, menjadi 4 Mei 2026. Perpanjangan itu sendiri dilakukan sebagai respons atas masalah teknis yang terjadi pada website.

Sang Juara Semarang Tak Dibuka Kembali, Disdik Buka Suara

Meski portal Sang Juara Semarang sempat mendapat perpanjangan waktu, Dinas Pendidikan Kota Semarang menegaskan bahwa sistem tidak akan dibuka kembali setelah tenggat 4 Mei 2026. Kepala Disdik Kota Semarang, Muhammad Ahsan, menjelaskan bahwa akar masalah bukan terletak pada sistem yang mereka kelola.

“Kesalahan sudah ada di pihak sekolah atau madrasah yang bersangkutan. Jadi kesalahan bukan di sistem kami. Sistem kami sudah berjalan sesuai dengan ketentuan,” ujar Ahsan.

Ia juga menambahkan bahwa membuka kembali portal akan menimbulkan ketidakadilan bagi siswa lain yang sudah lebih dulu mengunggah sertifikat mereka dengan tertib.

“Kalau ada kelonggaran kasihan yang sudah upload duluan. Berarti kami tidak fair play nanti,” tegas Ahsan.

Celah Waktu Penutupan ke Pendaftaran SMP: Peluang Diskresi yang Terlewat?

Dalam surat terbuka yang beredar luas, para orang tua menyoroti adanya celah waktu yang cukup panjang antara penutupan portal pada 4 Mei dan pembukaan pendaftaran SMP pada 22 Juni 2026. Menurut mereka, rentang waktu tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk memberikan kebijakan diskresi demi menyelamatkan hak anak-anak berprestasi.

“Jarak antara 4 Mei (penutupan sistem) ke 22 Juni 2026 (pendaftaran SMP) adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah kebijakan diskresi,” tulis para orang tua dalam surat terbuka tersebut.

Mereka juga mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung generasi muda yang berprestasi. Ungkapan ini terasa menyayat karena menunjukkan betapa besarnya harapan yang pupus akibat kendala sistem dan kelalaian administratif.

“Kita selalu bicara tentang mencetak generasi emas. Namun, apa yang terjadi ketika pintu bagi anak-anak berprestasi justru tertutup rapat oleh sistem?” keluh para orang tua dalam surat yang juga ditujukan ke Pemerintah Kota Semarang.

Dampak Nyata bagi Siswa Berprestasi di Semarang

Kasus ini bukan sekadar masalah teknis biasa. Di baliknya, ada anak-anak yang selama bertahun-tahun mengumpulkan prestasi di berbagai lomba dan kompetisi. Sertifikat yang mereka peroleh seharusnya menjadi bukti kerja keras dan dedikasi, namun kini terancam tidak berguna karena sistem yang error dan sekolah yang lalai menginput data.

Berikut beberapa poin penting yang perlu dicermati dari kasus ini:

  • Portal Sang Juara merupakan satu-satunya jalur resmi untuk mengunggah sertifikat prestasi menuju SMP favorit di Semarang.
  • Batas waktu unggah diperpanjang dari April ke 4 Mei 2026 karena masalah teknis pada website.
  • Setelah 4 Mei, Disdik memutuskan tidak membuka kembali portal dengan alasan keadilan bagi siswa yang sudah mengunggah lebih dulu.
  • Pendaftaran SMP jalur prestasi baru dibuka pada 22 Juni 2026, meninggalkan celah waktu hampir dua bulan.
  • Pihak sekolah mengaku lalai dalam menginput data prestasi siswa ke sistem yang tersedia.

Harapan Orang Tua dan Langkah Selanjutnya

Para orang tua berharap pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk KPAI, dapat mencarikan jalan keluar yang adil. Mereka menilai bahwa anak-anak tidak seharusnya menjadi korban dari kelalaian sistem maupun institusi pendidikan. Surat terbuka yang telah viral ini menjadi bentuk tekanan publik agar ada kebijakan yang mengakomodasi hak-hak siswa berprestasi.

Kasus Sang Juara Semarang ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggaraan sistem pendidikan digital di daerah. Ketika teknologi menjadi tulang punggung proses administratif, keandalan sistem dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Anak-anak yang sudah berjerih payah meraih prestasi layak mendapatkan kesempatan yang adil, bukan terhalang oleh pintu yang tertutup karena kesalahan yang bukan mereka perbuat.


Sumber: Detik Jateng

Disusun oleh Redaksi YukTalk