Jawa Tengah bergerak agresif untuk merevolusi sektor pariwisata daerahnya. Pemerintah Provinsi Jateng menargetkan 1000 desa wisata Jateng 2026 segera dilepas ke publik menjelang akhir tahun ini. Ambisi besar ini merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi berbasis pariwisata yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota di provinsi berjuluk Tanah Pariwara tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jateng, Hanung Triyono, memastikan bahwa persiapan sudah berjalan intensif. “Sekitar seribu desa wisata dari kabupaten dan kota sudah kami koordinasikan untuk disiapkan dan direncanakan diluncurkan pada akhir tahun 2026,” ungkapnya. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah provinsi dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemanfaatan potensi desa.
Jika target ini tercapai, Jawa Tengah akan memiliki jaringan desa wisata terbesar di Indonesia dan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat pedesaan. Potensi ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di tingkat desa.
Strategi Agglomerasi Wisata Lintas Daerah Jadi Kunci Utama
Alih-alih mengembangkan destinasi secara terpisah, Pemprov Jateng mengusung konsep agglomerasi wisata yang menghubungkan beberapa kabupaten dan kota dalam satu paket perjalanan terpadu. Pendekatan ini dirancang agar wisatawan tidak hanya mengunjungi satu lokasi, melainkan mengeksplorasi beberapa destinasi sekaligus dalam satu rute perjalanan multi-hari.
Beberapa koridor pariwisata prioritas yang sudah dipetakan antara lain jalur Batang, Dieng, dan Temanggung di kawasan tengah. Selain itu, koridor Brebes, Kota Tegal, Tegal, dan Pemalang di Pantura Barat juga menjadi prioritas utama. Lima kawasan penunjang Candi Borobudur pun masuk dalam peta agglomerasi ini. Setiap koridor akan didukung oleh kalender event regional dan sistem informasi digital yang terintegrasi.
Sistem digital ini akan menghubungkan sektor kuliner, ekonomi kreatif, dan akomodasi sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman perjalanan yang menyeluruh. Dengan adanya ekosistem terhubung ini, diharapkan lama tinggal wisatawan meningkat dan manfaat ekonomi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Strategi agglomerasi inilah yang menjadi fondasi kuat dari program 1000 desa wisata Jateng 2026.
Infrastruktur Jadi Syarat Mutlak Pembangunan Pariwisata
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan pariwisata harus selaras dengan peningkatan infrastruktur pendukung. “Jangan sampai wisata yang kita bangun, tetapi infrastrukturnya tidak ada. Karena itu harus disiapkan dari sekarang,” tegas Luthfi.
Komitmen ini tercermin dalam alokasi APBD 2026 untuk perbaikan jalan, terutama di kawasan Pantura Barat. Kabupaten Brebes misalnya mengalokasikan Rp9,34 miliar untuk pemeliharaan rutin 143 kilometer jalan provinsi, ditambah Rp14,23 miliar untuk peningkatan ruas Bumiayu-Salem dan Sirampog-Bumiayu. Kabupaten Pemalang menyiapkan Rp6,1 miliar untuk pemeliharaan jalan, sementara Kabupaten Pekalongan mengalokasikan Rp5,67 miliar untuk pemeliharaan dan Rp5,27 miliar untuk peningkatan ruas Wiradesa-Kajen.
Kabupaten Batang juga tidak ketinggalan dengan anggaran Rp5,06 miliar untuk pemeliharaan 76,99 kilometer jalan provinsi. Seluruh alokasi ini menjadi fondasi agar aksesibilitas menuju desa-desa wisata baru semakin lancar dan terjangkau. Tanpa infrastruktur memadai, potensi wisata di desa tidak akan optimal tergarap.
Kinerja Pariwisata Januari-April 2026 Catatkan Pencapaian Positif
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan domestik selama periode Januari hingga April 2026 mencapai 56,49 juta kunjungan, naik 2,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini menjadi fondasi optimistis bagi peluncuran 1000 desa wisata Jateng 2026.
Bulan Maret menjadi bulan tersibuk dengan 20,01 juta kunjungan wisatawan. Secara volume, Kota Semarang menempati peringkat pertama dengan 4,7 juta kunjungan, diikuti Kabupaten Banyumas sebanyak 2,7 juta dan Kota Surakarta 2,6 juta kunjungan. Tiga kota besar ini menjadi magnet utama wisatawan domestik yang berkunjung ke Jawa Tengah.
Sementara dari sisi pertumbuhan, Kabupaten Kendal memimpin dengan kenaikan 19,16 persen, diikuti Kabupaten Semarang 16,46 persen dan Kabupaten Temanggung 13,16 persen. Pertumbuhan pesat di Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang ini menunjukkan bahwa program pengembangan desa wisata di daerah-daerah penunjang mulai memberikan dampak nyata terhadap angka kunjungan.
Keberhasilan ini diharapkan bisa menjadi model bagi kabupaten dan kota lain yang akan bergabung dalam gelombang peluncuran 1000 desa wisata Jateng 2026. Provinsi ini membuktikan bahwa pariwisata bukan sekadar soal destinasi, melainkan ekosistem utuh yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari tingkat desa hingga provinsi. Dengan strategi agglomerasi, komitmen infrastruktur, dan fondasi kinerja pariwisata yang solid, Jawa Tengah tampak serius mewujudkan ambisinya menjadikan desa wisata sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.

