Kirim Artikel

Analisis: Harga Kakao Dunia Masih Tertekan di Tengah Kontras Harga Referensi Kemendag

YukTalk.id – Harga kakao dunia sempat tertekan pada awal Juni 2026, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Menurut data Trading Economics yang melacak kontrak berjangka pasar acuan di New York dan London, harga kakao masih jauh dari level tertingginya yang sempat tercatat pada 2024, sehingga secara year-on-year pelemahan harga kakao dunia masih sangat dalam.

Pelemahan Berkelanjutan dari Puncak 2024

Setelah sempat menyentuh level tertinggi pada 2024 yang dipicu defisit pasokan dari Pantai Gading dan Ghana, dua produsen utama dunia, harga kakao dunia berangsur turun. Pelaku pasar menilai koreksi ini didorong oleh melimpahnya stok di gudang-gudang pelabuhan Eropa, permintaan industri cokelat yang melandai, serta menguatnya dolar AS yang membuat kakao makin mahal di pasar negara berkembang.

Tekanan pasokan dari Pantai Gading dan Ghana, yang semula menjadi penopang harga, kini tidak cukup menahan derasnya aksi jual di pasar berjangka. Sejumlah analis menilai koreksi ini sebagai koreksi sehat setelah dua tahun harga tidak normal, meski tetap menyulitkan petani di negara produsen.

Kontras dengan Harga Referensi Kemendag

Ironisnya, tren dunia yang menurun tidak selalu linear dengan Harga Referensi (HR) biji kakao yang ditetapkan Kementerian Perdagangan untuk periode tertentu. Kemendag menetapkan HR biji kakao dengan mempertimbangkan harga rata-rata beberapa pasar acuan, biaya logistik, dan faktor pendukung ekspor, bukan semata-mata harga spot dunia. Akibatnya, harga acuan untuk petani dan eksportir Indonesia bisa saja bergerak ke arah yang berbeda dengan harga internasional pada periode yang sama.

Kontras ini perlu dicermati oleh petani, eksportir, dan pengambil kebijakan di Indonesia, karena keputusan budidaya, pembelian, maupun ekspor biasanya mengacu pada HR Kemendag, bukan harga spot dunia.

Dampak ke Petani dan Industri Olahan

Jika harga dunia terus melemah sementara HR Kemendag tidak turun proporsional, petani kakao domestik bisa tetap menikmati harga yang relatif stabil. Namun industri olahan dalam negeri, yang harus bersaing dengan harga internasional, bisa tertekan margin-nya. Sebaliknya, jika harga dunia rebound tajam, petani domestik akan langsung diuntungkan tanpa harus menunggu revisi HR Kemendag.

Pengamat pasar komoditas menilai kakao masih menjadi salah satu komoditi yang paling volatil dalam dua tahun terakhir, sehingga pelaku industri di Indonesia disarankan untuk rutin memantau pergerakan harga acuan Kemendag dan harga berjangka internasional secara bersamaan.


Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id

Ikuti Instagram @yuk.talk untuk update berita terkini