Bhabinkamtibmas Polda Jateng lacak TB secara masif di seluruh wilayah Jawa Tengah dan berhasil mengidentifikasi 1.387 terduga pasien tuberkulosis hanya dalam kurun waktu satu minggu. Capaian ini menjadi bukti bahwa peran polisi di tingkat akar rumput bukan lagi sekadar menjaga keamanan, tetapi juga menjadi ujung tombak penanganan masalah kesehatan masyarakat.
Program yang dinamakan “Temukan dan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis” ini melibatkan ribuan anggota Bhabinkamtibmas yang tersebar di berbagai desa dan kelurahan. Mereka bekerja sama langsung dengan tenaga kesehatan setempat untuk melakukan pelacakan kontak, edukasi warga, hingga pendampingan pasien dalam menjalani pengobatan.
4.666 Personel Dikerahkan dalam Program Bhabinkamtibmas Polda Jateng Lacak TB
Skala operasi kesehatan yang dilakukan Polda Jateng ini terbilang masif. Sebanyak 4.666 personel Bhabinkamtibmas dikerahkan ke seluruh pelosok Jawa Tengah untuk menjalankan tugas pelacakan dan edukasi terkait tuberkulosis. Periode pendataan dilakukan antara 3 hingga 10 Juni 2026, dan dalam sepekan tersebut tercatat 1.387 terduga pasien berhasil diidentifikasi.
Kombes Pol. Agung Hadi, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jateng, menjelaskan bahwa angka ini menunjukkan betapa besar permasalahan TB yang masih tersembunyi di tengah masyarakat. Banyak penderita yang belum terdeteksi karena minimnya kesadaran untuk memeriksakan diri atau adanya stigma negatif yang melekat pada penyakit ini.
“Dalam sepekan sudah ditemukan sebanyak 1.387 suspect,” ungkap Agung Hadi.
Mengapa Bhabinkamtibmas Polda Jateng Libatkan Polisi dalam Penanganan TB?
Pelibatan Bhabinkamtibmas Polda Jateng dalam lacak TB bukanlah tanpa alasan. Sebagai aparat yang setiap hari berinteraksi langsung dengan warga di tingkat desa dan kelurahan, Bhabinkamtibmas memiliki kepercayaan dan akses yang sangat kuat di komunitas. Hal ini memungkinkan mereka menembus hambatan sosial dan stigma yang sering kali menghalangi proses pelacakan kontak oleh tenaga kesehatan.
Dengan kedekatan tersebut, Bhabinkamtibmas mampu mengidentifikasi warga yang menunjukkan gejala TB, mengajak mereka untuk segera memeriksakan diri, serta memantau kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Pendekatan ini secara efektif menciptakan sistem peringatan dini berbasis komunitas yang sangat sulit dicapai jika hanya mengandalkan jalur medis konvensional.
Lima Peran Utama Bhabinkamtibmas Polda Jateng dalam Lacak TB
Dalam pelaksanaannya, setiap personel Bhabinkamtibmas Polda Jateng yang terlibat dalam program ini menjalankan lima tugas utama yang saling berkaitan:
- Pelacakan kontak (contact tracing) — menelusuri orang-orang yang berinteraksi erat dengan pasien TB yang telah terkonfirmasi.
- Edukasi masyarakat — meluruskan mitos dan kesalahpahaman seputar TB, serta menekankan bahwa penyakit ini bisa disembuhkan jika ditangani dengan benar.
- Pendampingan pasien — memberikan dukungan dan monitoring agar pasien tidak putus obat selama masa pengobatan.
- Pelaporan terintegrasi — membantu pengumpulan data yang terhubung langsung dengan Puskesmas dan fasilitas kesehatan setempat.
- Kampanye kesadaran dini — mempromosikan pentingnya skrining awal, kepatuhan minum obat, dan upaya pencegahan penularan.
Polda Jateng Tidak Hanya Menemukan Kasus, Tapi Juga Bangun Kesadaran
Kombes Pol. Agung Hadi menegaskan bahwa program Bhabinkamtibmas Polda Jateng lacak TB ini tidak berhenti pada tahap penemuan kasus saja. Pihaknya juga berkomitmen membangun pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan dini, kepatuhan menjalani pengobatan, serta langkah-langkah pencegahan penularan.
“Polda Jawa Tengah tidak hanya fokus pada penemuan kasus, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan dini, kepatuhan menjalani pengobatan, dan upaya mencegah penularan,” ujarnya.
Pendekatan holistik ini penting karena tuberkulosis merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, biasanya minimal enam bulan. Tanpa kepatuhan dan pemahaman yang baik dari pasien serta dukungan lingkungan, risiko putus obat dan munculnya resistensi obat menjadi sangat tinggi.
Model Kolaborasi yang Bisa Ditiru Daerah Lain
Keberhasilan Bhabinkamtibmas Polda Jateng lacak TB dalam kurun waktu sepekan ini menjadi contoh model kolaborasi lintas sektor yang patut diapresiasi. Ketika institusi kepolisian dan tenaga kesehatan bekerja sama di tingkat akar rumput, hasilnya bisa sangat signifikan dalam menangani masalah kesehatan yang selama ini sulit dijangkau.
Program ini juga membuktikan bahwa Bhabinkamtibmas memiliki potensi besar sebagai mitra pembangunan di luar ranah keamanan tradisional. Dengan jaringan dan kepercayaan yang sudah terbangun, mereka bisa menjadi katalisator dalam berbagai program sosial, termasuk penanganan penyakit menular seperti TB.
Ke depan, diharapkan model serupa dapat diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia untuk mempercepat eliminasi tuberkulosis secara nasional. Kolaborasi antara kepolisian, tenaga kesehatan, dan masyarakat adalah kunci untuk memutus rantai penularan TB di Indonesia.
Dikutip dari:
Disusun oleh Tim Redaksi YukTalk.

