LIMBAH ORGANIK DISULAP JADI SENJATA LAWAN PENCEMARAN SUNGAI SEMARANG
Di tengah hiruk-pikuk persoalan lingkungan perkotaan, sebuah terobosan sederhana namun berdampak besar muncul dari Semarang. Cairan hasil fermentasi limbah dapur kini dituangkan langsung ke drainase kota untuk melawan pencemaran air. Siapa sangka, eco enzyme sungai Semarang menjadi pembicaraan hangat sebagai salah satu upaya nyata memperbaiki kualitas air di ibu kota Jawa Tengah.
Apa Itu Eco Enzyme dan Mengapa Eco Enzyme Sungai Semarang Jadi Sorotan?
Eco enzyme adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi limbah organik, seperti sisa sayuran, kulit buah, gula, dan air. Cairan ini mengandung tiga enzim aktif utama: amilase, protease, dan lipase. Ketiganya bekerja mempercepat penguraian materi organik, mengurai sedimen di saluran air, menurunkan kadar amonia dan fosfat, serta menghilangkan bau tidak sedap.
Konsep ini sebenarnya bukan hal baru di dunia pengelolaan lingkungan. Namun, penerapannya secara langsung ke drainase perkotaan masih jarang dilakukan di Indonesia. Itulah sebabnya ketika inisiatif eco enzyme sungai Semarang diluncurkan, perhatian publik dan pemerintah setempat langsung tertuju pada potensi besar cairan fermentasi ini.
30 Liter Eco Enzyme Sungai Semarang Dituang di Kawasan Sam Poo Kong
Pada Sabtu, 21 Juni 2026, PT Phapros Tbk menuangkan sebanyak 30 liter eco enzyme ke saluran drainase di kawasan Sam Poo Kong, Simongan, Semarang. Langkah ini dilakukan bertepatan dengan perayaan HUT ke-72 perusahaan farmasi tersebut. Kawasan Simongan dipilih bukan tanpa alasan—di sinilah Phapros pertama kali berdiri dan berkembang menjadi perusahaan nasional.
Komisaris Utama PT Phapros Tbk, Alfi Novtriansyah Rustam, menegaskan ikatan historis perusahaan dengan kawasan tersebut.
“Pertama, memang kami tumbuh dan besar di sini. Jadi yang pertama kami lakukan adalah merapikan apa yang ada di sekitar sini. Ini bentuk konkret kepedulian kami kepada masyarakat sekitar.”
Alfi juga menyampaikan harapannya agar langkah kecil ini memicu efek berantai yang lebih luas di masyarakat dan kalangan industri.
“Memang ini kecil, tetapi mudah-mudahan berdampak dan menular kepada yang lain. Seperti iktikad Phapros yang ingin terus tumbuh, kami juga berharap gerakan menjaga lingkungan ini bisa semakin besar di masa mendatang.”
DLH Semarang Ungkap Sumber Pencemaran Utama: Limbah Rumah Tangga
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Glory Nasarani, memberikan pandangan penting tentang akar masalah pencemaran di kawasan Simongan. Menurutnya, industri di kawasan tersebut sebenarnya sudah memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai.
“Sebagian besar industri di Simongan sebenarnya sudah memiliki pengolahan air limbah yang cukup baik. Jadi, pencemaran terbanyak berasal dari limbah rumah tangga dan sampah.”
Glory menegaskan bahwa peran eco enzyme sungai Semarang dalam konteks ini sangat relevan—yaitu menargetkan polutan organik domestik yang selama ini sulit dikendalikan. Ia juga mengapresiasi inisiatif Phapros sebagai langkah yang patut ditiru perusahaan lain.
“Ini langkah yang sangat baik dan menurut saya bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain. Jadi tidak hanya penanaman pohon atau mangrove, tetapi juga bagaimana kita ikut memperbaiki kualitas air sungai.”
Namun, Glory mengingatkan bahwa eco enzyme bukan solusi tunggal. Penuangan cairan ini harus dikombinasikan dengan kegiatan fisik pembersihan sungai dan pengurangan sampah dari sumbernya.
“Harapannya nanti dikombinasikan dengan kegiatan bersih sungai sehingga sedikit demi sedikit kualitas air permukaan di Kota Semarang bisa semakin baik.”
Komitmen Jangka Panjang: Eco Enzyme Sungai Semarang Meluas ke Seluruh Indonesia
Direktur Utama PT Phapros Tbk, Intan Abdams Katoppo, menjelaskan bahwa inisiatif eco enzyme ini bukan kegiatan satu kali saja. Perusahaan berkomitmen menjadikan penuangan eco enzyme sebagai agenda rutin yang akan diperluas ke berbagai daerah.
“Sebelumnya kami rutin menanam mangrove di sepanjang pantai Semarang serta mendampingi sektor UMKM. Setelah kegiatan eco enzyme ini, kami akan melakukan penanaman pohon di halaman pabrik Phapros, lalu menyebarkannya ke berbagai tempat lain di Indonesia.”
Ekspansi program akan memanfaatkan jaringan kantor cabang Phapros yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, dengan menggandeng pemerintah daerah setempat sebagai mitra kolaborasi. Alfi Rustam menambahkan bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk ditangani satu pihak saja.
“Kami ingin mengajak masyarakat membudayakan menjaga dan melestarikan alam. Keberlangsungan hidup kita sangat bergantung pada lingkungan. Kalau menjaga alam belum menjadi budaya, maka persoalan lingkungan akan terus berulang.”
Langkah Sederhana yang Berdampak Besar bagi Lingkungan Semarang
Inisiatif eco enzyme sungai Semarang menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau biaya besar. Dari limbah dapur yang biasa dibuang, muncul cairan fermentasi yang mampu mengurai polutan organik di saluran air kota.
Yang menarik, gerakan ini juga membawa pesan budaya: menjaga alam harus menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar seremoni tahunan. Kolaborasi antara korporasi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci agar upaya pemulihan kualitas air sungai di Semarang bisa berkelanjutan.
Bagi pembaca yang tertarik mempelajari lebih lanjut tentang pengelolaan lingkungan dan sampah domestik, informasi resmi tersedia di situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Sementara itu, upaya serupa dalam bentuk inovasi lingkungan juga dilakukan oleh akademisi Semarang, seperti pemanfaatan limbah industri untuk terumbu karang buatan oleh Undip.
- Apa: Penuangan 30 liter eco enzyme ke drainase
- Di mana: Kawasan Sam Poo Kong, Simongan, Semarang
- Kapan: Sabtu, 21 Juni 2026
- Siapa: PT Phapros Tbk (HUT ke-72), didukung DLH Kota Semarang
- Mengapa: Mengurangi pencemaran organik dan bau di saluran air kota
Dilansir dari: Tribun Jateng & IDN Times Jateng
Disusun oleh Redaksi YukTalk

