English for Guiding Jatirejo Gunungpati menjadi program pelatihan unggulan yang baru saja diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi pemandu wisata di kawasan tersebut. Sebanyak 20 peserta aktif dari Desa Wisata Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mengikuti program ini dengan antusiasme tinggi. Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat yang digagas oleh Tim Pengabdi dari Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Program bertajuk “Peningkatan Kompetensi English for Guiding Bagi Pemandu Wisata di Desa Wisata Jatirejo Sebagai Langkah Strategis Menuju Jatirejo Berdaya Saing Global” ini digelar dalam dua sesi, yakni pada 23 Mei dan 6 Juni 2026. Tujuannya jelas, yaitu menyiapkan pemandu wisata lokal agar mampu berkomunikasi dengan percaya diri bersama wisatawan mancanegara.
Pelatihan English for Guiding Jatirejo Gunungpati Sasar 20 Peserta Muda
Peserta pelatihan English for Guiding Jatirejo Gunungpati ini didominasi oleh anak muda dan anggota Karang Taruna yang bersemangat mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Mereka bukan sekadar warga biasa, melainkan tokoh kunci dalam pengelolaan wisata di Desa Jatirejo. Di antara peserta terdapat Kepala Desa Wisata (Deswita), Kepala Karang Taruna, serta para pengelola kampung tematik seperti Green Fresh Farm, Si Koling, dan Kajera.
Ketiga kampung tematik tersebut merupakan magnet utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Jatirejo. Green Fresh Farm menawarkan konsep agrowisata yang asri, Si Koling menghadirkan pengalaman wisata kuliner dan edukasi, sementara Kajera menyuguhkan keunikan budaya lokal. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai, para pengelola ini diharapkan mampu memberikan penjelasan yang lebih baik kepada wisatawan asing.
Materi Pelatihan: Praktis, Interaktif, dan Langsung Diterapkan
English for Guiding Jatirejo Gunungpati dirancang dengan pendekatan praktis agar peserta langsung dapat menerapkannya di lapangan. Materi yang disampaikan mencakup cara menyapa dan menyambut wisatawan, memperkenalkan diri, memaparkan profil destinasi wisata, serta merespons pertanyaan umum dari pengunjung asing.
Peserta juga mendapatkan latihan langsung menggunakan frasa-frasa sederhana dalam bahasa Inggris. Pendekatan ini sengaja dipilih untuk membangun kepercayaan diri peserta, sehingga mereka tidak lagi merasa canggung saat berhadapan dengan turis dari luar negeri. Dengan bekal kemampuan dasar ini, pemandu wisata di Jatirejo diharapkan bisa memberikan pengalaman kunjungan yang lebih menyenangkan dan profesional.
Sebagai informasi, Desa Wisata Jatirejo memang sudah memiliki rekam jejak dalam melayani wisatawan mancanegara. Seperti yang disampaikan oleh Romadlon Eko Hariyono SAg MM, Lurah Jatirejo, desa ini pernah menerima kunjungan dari wisatawan asal Malaysia, India, dan Filipina. Kehadiran pelatihan ini tentu menjadi langkah yang sangat tepat waktu.
“Hal ini sangat diperlukan, mengingat dalam beberapa kali kesempatan pernah menerima wisatawan dari Malaysia, India, dan Filipina.” ujar Romadlon dengan penuh apresiasi.
Ia juga menambahkan bahwa selama ini kegiatan pengabdian masyarakat yang datang ke Jatirejo lebih banyak berfokus pada pengembangan UMKM. Program English for Guiding ini merupakan yang pertama kali dan memberikan pengetahuan baru yang sangat berharga bagi warganya.
Jembatan Antara Dunia Akademik dan Pariwisata
Di balik suksesnya pelatihan ini, terdapat sosok penting dari pihak FISIP UNNES. Dr. Atika Wijaya MSi, selaku ketua tim pengabdi, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah jembatan penghubung antara dunia akademik dan industri pariwisata yang terus berkembang.
“This moment acts as a bridge between the academic world and the ever-growing world of tourism.” ungkap Dr. Atika.
Pernyataan ini menegaskan komitmen UNNES dalam menghubungkan ilmu pengetahuan yang ada di kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat. Dalam konteks pariwisata yang semakin terbuka, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu kunci utama untuk bisa bersaing di tingkat global.
Pelatihan English for Guiding Jatirejo Gunungpati ini sejalan dengan semangat “Semakin Mendunia” yang menjadi tagline pengembangan pariwisata Kota Semarang. Dengan terus menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, diharapkan desa-desa wisata seperti Jatirejo bisa menarik lebih banyak wisatawan mancanegara dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga sekitar.
Kedepannya, pelatihan serupa diharapkan bisa dilanjutkan dan diperluas ke desa-desa wisata lainnya di Kota Semarang. Langkah kecil dari FISIP UNNES ini bisa menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain untuk turut serta dalam pemberdayaan pariwisata lokal melalui peningkatan kapasitas SDM.

