Dikutip dari AYOSEMARANG.COM – Kota Semarang dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah yang konsisten menjaga tradisi budaya menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahun adalah Gebyuran Bustaman.
Kegiatan ini telah berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya diikuti warga Kampung Bustaman, tetapi juga menarik minat masyarakat dari berbagai wilayah. Suasana kebersamaan, kegembiraan, dan semangat menyambut bulan puasa menjadi ciri khas perayaan ini.
Pada tahun 2026, Gebyuran Bustaman kembali digelar dengan rangkaian acara yang dipusatkan di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang. Informasi pelaksanaan kegiatan ini diumumkan melalui akun Instagram resmi kampung_bustaman.
Festival budaya tersebut akan berlangsung selama empat hari, mulai 12 hingga 15 Februari 2026, dengan seluruh kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.
Rangkaian Acara Gebyuran Bustaman 2026
Hari pertama, Kamis 12 Februari 2026, diawali dengan kegiatan Arwah Lama dan Maulid Nabi. Selanjutnya pada Jumat 13 Februari 2026, masyarakat melaksanakan ziarah ke makam Kyai Kertoboso Bustam.
Memasuki Sabtu 14 Februari 2026, agenda dilanjutkan dengan Pekakota Forum serta Kirab Budaya yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung.
Puncak perayaan berlangsung pada Minggu 15 Februari 2026 dengan berbagai kegiatan, seperti senam bersama, pertunjukan seni, bazar kuliner, hingga prosesi utama Gebyuran Bustaman.
Makna Tradisi Gebyuran Bustaman
Gebyuran Bustaman merupakan tradisi perang air yang memiliki makna simbolis sebagai proses penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa Ramadan. Ritual ini mencerminkan nilai kebersihan, kebersamaan, dan kesiapan spiritual masyarakat.
Tradisi tersebut berawal dari sosok Kyai Kertoboso Bustam yang dahulu memandikan anggota keluarganya menggunakan air sumur kampung menjelang Ramadan sebagai simbol pembersihan diri.
Seiring berkembangnya waktu, kawasan tempat tinggal Kyai Bustam berkembang menjadi permukiman yang kemudian dikenal sebagai Kampung Bustaman. Hingga kini, wilayah tersebut tetap menjadi pusat pelaksanaan tradisi Gebyuran Bustaman setiap tahunnya.

