Kirim Artikel

Warga Semarang Keluhkan Harga Obat Naik, IDI Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Pemicu

harga obat naik Semarang warga keluhkan

Harga obat naik Semarang menjadi keluhan warga dalam dua bulan terakhir. Perlengkapan kesehatan di Kota Semarang mengalami kenaikan signifikan. Warga mulai merasakan dampaknya, terutama mereka yang tidak memiliki jaminan BPJS dan harus menanggung biaya pengobatan secara mandiri.

Harga Obat Naik Semarang Dirasakan Masyarakat

Hani (40), seorang perawat sekaligus pembeli rutin perlengkapan home care di wilayah Tembalang, Semarang, mengaku merasakan kenaikan harga hampir di semua produk kesehatan. Ia pun harus memikirkan ulang sebelum membeli obat-obatan yang dibutuhkan.

“Ya ngerasa banget semua sekarang naik, obat-obatan juga harganya naik. Yang nggak punya BPJS jadi mikir kalau mau berobat, karena biaya berobat naik dan harga obat-obatan juga naik,” ungkap Hani dilansir detikJateng, Jumat (12/6/2026).

Kondisi ini membuat sebagian warga menunda berobat hingga kondisi kesehatan memburuk. Hani menilai kenaikan harga obat sangat memberatkan masyarakat kecil yang tidak memiliki jaminan kesehatan.

“Kenapa harga obat ikut naik terus? Kasihan orang-orang kecil yang BPJS-nya mati jadi terdampak, sehingga banyak yang datang berobatnya terlambat, kondisi sudah parah baru berobat,” tambahnya.

Obat Paten Naik Lebih Signifikan

Indah (27), seorang pekerja apotek di Semarang, menjelaskan bahwa kenaikan harga tidak merata di semua jenis obat. Obat paten mengalami lonjakan harga lebih tinggi dibandingkan obat dari Pabrik Besar Farmasi (PBF).

“Untuk beberapa PBF kebanyakan sih belum naik secara signifikan. Biasanya obat-obat paten yang naiknya lumayan banyak,” jelas Indah.

Beberapa pembeli mulai beralih ke obat PBF yang lebih terjangkau. Namun, ada juga konsumen yang tetap membeli obat merek tertentu karena sudah terbiasa meski harganya naik.

Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga Obat Naik Semarang

Plt Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, dr. Prihatin Iman Nugroho, mengakui adanya potensi kenaikan harga obat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan sebagian besar bahan baku dan komponen obat di Indonesia masih bergantung pada impor.

“Memang dengan adanya kenaikan kurs rupiah terhadap dolar, potensi untuk kemungkinan terjadi peningkatan harga obat memang ada. Karena bagaimanapun obat yang saat ini banyak digunakan di Indonesia itu banyak komponen yang masih dari impor,” ujar Prihatin.

Ia menambahkan, jika substitusi obat memiliki harga lebih mahal maka akan menaikkan biaya pengobatan secara keseluruhan. Namun, belum ada laporan kenaikan harga yang mengganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan setempat.

Data Kenaikan Harga Obat di Semarang

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa produk kesehatan mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Cairan infus RL/NaCl 500 cc yang semula Rp 9.000 kini dijual Rp 11.000, naik Rp 2.000 atau sekitar 22 persen.

Obat penurun demam Sanmol juga mengalami kenaikan dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.500, naik Rp 1.000 atau sekitar 29 persen. Rentang kenaikan harga obat berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 20.000 tergantung jenis dan merek.

Sebelum pelemahan rupiah dan kenaikan BBM, beberapa obat kronis seperti Amlodipin dan Klonidin untuk terapi hipertensi sempat mengalami kelangkaan. Namun kondisi ini mulai membaik dengan ketersediaan pasokan dalam jumlah terbatas.

BPJS Tetap Dijaga

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemerintah telah memetakan kenaikan harga obat dan memastikan obat-obatan di bawah jaminan BPJS tetap terjaga. Kenaikan harga lebih terlihat pada obat-obatan di luar cakupan BPJS.

“Harga obat kita sudah lihat, kita sudah list mana yang naik ya make sense dan tidak make sense. Tapi untuk obat-obatan BPJS kita berhasil jaga,” tegas Menkes.

Pasien penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan ginjal menjadi kelompok yang paling terdampak kenaikan harga obat karena membutuhkan konsumsi rutin untuk mengontrol kondisi kesehatan.


Harga obat naik Semarang menjadi perhatian serius bagi warga dan tenaga kesehatan. Dengan pelemahan rupiah yang masih berlangsung, diprediksi harga obat naik Semarang akan terus menjadi momok bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan dalam beberapa bulan ke depan.


Dikutip dari: detik.com dan Kompas.com (12/6/2026) | Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id