Kirim Artikel

Menjahit Mimpi di Semarang: Butik Ida Modiste yang Jadi Rumah bagi 3 Pekerja Difabel

Ida Modiste Semarang difabel

BUTIK INI BUKAN SEKADAR TEMPAT JAHIT KEBAYA, TAPI RUMAH BAGI MIMPI PARA DIFABEL

Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang, ada sebuah butik kebaya yang menawarkan lebih dari sekadar busana indah. Ida Modiste Semarang difabel bukan hanya nama usaha jahit-menjahit biasa – ia adalah ruang aman tempat para penyandang disabilitas menemukan jati diri, mengasah keterampilan, dan membangun masa depan. Kisah di balik butik ini adalah cerita tentang ketangguhan, kesabaran luar biasa, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak berkarya.

Mengenal Ida Modiste Semarang Difabel: Butik Inklusif Penuh Makna

Berlokasi di Jalan Medoho Raya No. 61, Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Ida Modiste berdiri sebagai butik kebaya dan busana custom yang telah melayani pelanggan sejak 1996. Sang pendiri, Hidayah Ratna Febriani – akrab disapa Ida – adalah seorang penyandang disabilitas daksa akibat polio yang menyerangnya saat berusia tiga tahun.

Namun, keterbatasan fisik tak pernah memadamkan semangatnya. Dari 10 karyawan yang bekerja di butiknya, tiga di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Dua orang mengalami tunagrahita (disabilitas intelektual) dan satu orang tunarungu wicara. Komposisi ini menjadikan Ida Modiste Semarang difabel sebagai salah satu usaha mikro yang paling inklusif di Jawa Tengah.

Dari Keterpaksaan Menjadi Cinta: Kisah Sang Pendiri

Ida sejatinya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus dari SMEA jurusan Manajemen Pemasaran. Impian itu buyar ketika orang tuanya tidak merestui dan justru mengarahkannya mengikuti kursus menjahit di kawasan Pandanaran, Semarang.

“Awalnya saya merasa ini keterpaksaan.”

Begitu ungkap Ida mengenang masa-masa awalnya. Namun seiring waktu, perasaannya berubah. Ia mulai menemukan keindahan dalam setiap detail pola dan potongan kain. “Tapi setelah saya mulai menghafal rumus-rumus pola dan melihat hasil karya saya dikenakan orang lain, saya jadi jatuh cinta pada menjahit,” tambahnya.

Langganan Pejabat Hingga Mancanegara

Kualitas jahitan Ida Modiste tak perlu diragukan. Butik ini telah melayani sejumlah tokoh besar, mulai dari Ganjar Pranowo, Hendrar Prihadi (Kepala LKPP), Hevearita H Rahayu (Wali Kota Semarang), hingga Agustin Wilujeng dari DPR RI.

Tak hanya di dalam negeri, karya Ida juga telah menjangkau berbagai penjuru dunia – dari Jordan, Turki, Amerika Serikat, Jepang, hingga Australia. Pesanan internasional dilayani melalui teknik pengukuran jarak jauh yang dikembangkan khusus untuk klien e-commerce. Di kancah regional, popularitas Ida Modiste Semarang difabel semakin kuat berkat kualitas yang konsisten selama hampir tiga dekade.

Kesabaran Tanpa Batas: 4 Tahun Ajarkan Satu Garis Lurus

Sejak bergabung dengan Komunitas Sahabat Difabel pada 2014, Ida aktif mengajarkan keterampilan menjahit kepada berbagai kelompok disabilitas – mulai dari tunarungu, tunagrahita, Down syndrome, hingga autis. Kesabarannya diuji setiap hari.

Butuh waktu empat tahun untuk melatih seorang siswa tunagrahita agar mampu menjahit satu garis lurus dengan baik. Sebuah pengorbanan waktu yang tak banyak orang sanggup melakukannya.

“Pengen jariyah ilmu tapi tidak ngongso. Tapi faktanya selalu melatih dari awal, itu titik sabarnya. Sekarang sudah terpetik, hampir sembilan tahun menjahit. Kalau yang tuna rungu wicara sudah delapan tahun ikut saya.”

Membuka Ruang Kerja bagi Difabel: Filosofi Ida Modiste Semarang

Ida tidak sekadar melatih, ia juga mempekerjakan. Tiga karyawan difabelnya telah bekerja bertahun-tahun di butik. Untuk berkomunikasi dengan staf tunarungu, Ida bahkan mempelajari bahasa isyarat.

Keyakinannya sederhana namun kuat:

“Setiap orang punya hak untuk berkarya. Kalau bukan kita yang membuka ruang bagi difabel, siapa lagi?”

Ia juga merasakan kebahagiaan tersendiri dari proses berbagi ini. “Saya merasa ada ruang kosong di hati saya yang terisi saat mengajar teman-teman difabel. Kebahagiaan itu bukan hanya dari menerima, tapi juga dari memberi,” ungkap Ida.

Di balik rutinitas sehari-hari, ada praktik spiritual yang membuat butiknya unik. Ida selalu membaca salawat setiap kali membuat pola. “Ini yang membuat saya dipercaya customer, selalu salawat setiap buat pola. Setelah jamaah dengan karyawan-karyawan kami doakan pelanggan supaya berkah. Itu kuncinya,” jelasnya. Semangatnya juga didorong oleh tanggung jawab terhadap keluarga dan karyawan, sebagaimana ia akui: “Yang buat semangat mengingat perjuangan orang tua, keluarga, saudara. Kalau lemah lemas bangkit karena mereka.”

Inklusi Nyata dari Ida Modiste Semarang Difabel untuk Indonesia

Kisah Ida Modiste membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar wacana di atas kertas. Ia mewujudkan ruang kerja yang setara melalui tindakan nyata – sebuah nilai sejalan dengan komitmen nasional terhadap hak penyandang disabilitas yang dijamin undang-undang. Seperti halnya semangat anak-anak Semarang yang terus berkarya, Ida menunjukkan bahwa kota ini punya banyak cerita inspiratif yang layak didengar.

Harapannya ke depan tetap sama: terus berbagi ilmu tanpa memandang kondisi. “Saya ingin terus berbagi ilmu kepada siapa saja. Tak pandang bulu, terutama pada mereka penyandang difabel agar tak ada diskriminasi karena kondisi,” tutupnya.

Butik kecil di Jalan Medoho Raya ini telah menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memberi dampak besar bagi sesama. Ida Modiste Semarang difabel adalah rumah – tempat mimpi dijahit dengan benang kesabaran dan cinta.


Dikutip dari:

Disusun oleh Redaksi YukTalk