Jalan rusak Semarang kembali menjadi sorotan ketika warga Dusun Wringinputih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang mengambil langkah unik untuk menyuarakan protes. Mereka memasang batu belah dan batang pohon pisang di sepanjang Jalan Wringinputih sebagai bentuk peringatan bahaya sekaligus tuntutan kepada truk-truk tambang bertonase besar agar tidak lagi melintas di jalur tersebut. Kondisi jalan rusak yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini sangat merugikan warga setempat.
Jalan Rusak Semarang Akibat Truk Tambang Overtonase
Ketua RT 5 RW 1 Desa Wringinputih, Winarko, menjelaskan bahwa kerusakan jalan sangat terasa dampaknya bagi warga yang bermukim di sepanjang jalur tersebut. Sebanyak lima RT merasakan langsung dampak debu dan jalan rusak akibat lalu lalang ratusan truk pengangkut material tambang setiap harinya.
“Debunya berterbangan ke mana-mana dan jalannya rusak. Batu-batu ini dibeli dari hasil urunan warga untuk pengamanan talut dan penanda jalan yang rusak,” ungkap Winarko dikutip dari Tribun Jateng, Jumat (12/6/2026).
Kondisi jalan yang rusak parah juga membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim hujan tiba. Lubang-lubang besar tertutup genangan air membuat permukaan jalan menjadi licin dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Winarko menambahkan bahwa sudah sering terjadi kecelakaan atau senggolan kendaraan di ruas jalan tersebut.
“Sering terjadi kecelakaan atau senggolan. Kalau hujan jalan jadi licin, berlubang, dan tertutup air,” tambahnya.
Truk Tambang 25 Ton Lewati Jalan Kelas III
Kepala Desa Wringinputih, Untung Pambudi, menyoroti masalah tonase truk yang melintas melebihi kapasitas jalan. Berdasarkan klasifikasinya, ruas jalan desa tersebut merupakan jalan kelas III dengan kapasitas maksimal sekitar 10 hingga 12 ton.
“Setiap hari ratusan armada melintas. Muatannya sekitar 25 ton, sangat melebihi kapasitas jalan. Sementara kelas jalan kami maksimal hanya 10 sampai 12 ton,” tegas Untung.
Truk-truk besar tersebut membawa material untuk proyek Bendungan Jragung. Aktivitas intensif kendaraan berat inilah yang diduga menjadi penyebab utama kerusakan jalan yang semakin parah dari waktu ke waktu. Muatan 25 ton yang melebihi kapasitas jalan 10-12 ton membuat infrastruktur jalan tidak mampu menahan beban secara berkelanjutan.
Janji Perbaikan Jalan Rusak Belum Terealisasi
Dalam pertemuan pada 5 Mei 2026 lalu, perusahaan pertambangan PT Mahidara Artha Sangkara berjanji akan memperbaiki jalan dari utara hingga selatan dengan penggalian sekitar 50 sentimeter. Namun, realisasi baru dilakukan di beberapa ruas saja dengan alasan masih menunggu anggaran.
“Mereka menyampaikan akan memperbaiki jalan dari utara sampai selatan dengan penggalian sekitar 50 sentimeter, tetapi yang dikerjakan baru beberapa ruas. Alasannya masih menunggu anggaran,” jelas Untung.
Selain kerusakan badan jalan, warga juga khawatir dengan kondisi talut atau penahan tebing yang mulai terdorong akibat aktivitas kendaraan berat. Kondisi ini berpotensi menimbulkan genangan hingga ancaman longsor saat musim hujan tiba. Talut yang rusak dapat menyebabkan rumah-rumah warga tergenang air atau bahkan tersapu longsor.
Warga Wringinputih Tuntut Truk Tambang Dialihkan
Sebanyak 20 RT di wilayah tersebut sepakat meminta truk bertonase besar tidak lagi melintas di jalan kampung. Aksi pemasangan batu dan pohon pisang pada Kamis (11/6/2026) merupakan wujud kekecewaan warga atas penanganan jalan rusak yang dinilai belum maksimal.
“Kami tidak ingin warga terdampak lebih parah. Jangan sampai rumah-rumah warga tergenang atau terbawa air karena saluran dan talut rusak. Yang kami minta sederhana, kapan perbaikan jalan itu segera dilaksanakan sesuai klasifikasinya,” pungkas Kepala Desa.
DPRD Kabupaten Semarang melalui Komisi C telah melakukan sidak ke lokasi dan meminta perusahaan segera memperbaiki jalan serta mematuhi ketentuan pengelolaan lingkungan agar kerusakan dan gangguan debu tidak terus merugikan warga. Pihak berwenang menekankan pentingnya komitmen perusahaan dalam memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat aktivitas pertambangan.
Dampak Jalan Rusak Semarang bagi Masyarakat
Jalan rusak Semarang di wilayah Wringinputih tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan ekonomi masyarakat. Debu yang beterbangan setiap hari mengganggu pernapasan warga, terutama anak-anak dan lansia yang tinggal di sepanjang jalur truk.
Warga dari lima RT yang bermukim langsung di pinggir jalan harus menghadapi kondisi tidak nyaman setiap hari. Suara bising truk besar, debu yang menutupi pekarangan rumah, dan risiko kecelakaan menjadi bagian dari keseharian mereka selama hampir dua tahun terakhir.
Karminto, seorang pekerja komuter asal Gondoriyo, mengaku pernah menyaksikan langsung korban terlindas di jalan tersebut. Ia sendiri juga pernah jatuh karena kondisi jalan yang sangat buruk.
“Mengganggu sekali. Kalau lewat pasti kena debu, tidak nyaman. Saya pernah melihat orang terlindas di sini. Saya sendiri juga pernah jatuh karena jalannya rusak,” cerita Karminto.
Solusi Permanen untuk Jalan Rusak Semarang
Warga Wringinputih berharap adanya solusi permanen untuk mengatasi jalan rusak Semarang di wilayah mereka. Alih-alih perbaikan parsial, warga menuntut perusahaan pertambangan bertanggung jawab penuh atas kerusakan yang ditimbulkan selama ini.
Langkah konkrit yang diharapkan meliputi pengalihan jalur truk bertonase besar ke jalan yang sesuai kapasitasnya, perbaikan menyeluruh terhadap jalan yang rusak, serta kompensasi bagi warga yang terdampak kerusakan infrastruktur dan polusi debu.
Dengan adanya perhatian dari DPRD dan pihak berwenang, warga berharap janji perbaikan tidak lagi sebatas wacana. Aksi pemasangan batu dan pohon pisang merupakan sirene peringatan bahwa kesabaran warga sudah mencapai batas.
Dikutip dari: RASIKA 105.6 FM dan Kompas.com (12/6/2026) | Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id

