SEMARANG – Peringatan World Lupus Day 2026 yang digelar komunitas penyintas autoimun dan lupus Panggon Kupu di bawah kepemimpinan Prima Dewi Nurcahya menjadi ruang edukasi sekaligus wadah bagi para penyintas untuk menyuarakan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung di Prodia Semarang tersebut menghadirkan dr. Bantar Suntoko, Sp.PD-KR, FINASIM yang membahas penanganan lupus dari sisi medis, serta psikolog Winti Windrati yang memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dalam menghadapi penyakit kronis.
Dalam sesi diskusi, sejumlah penyintas menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari proses pengobatan jangka panjang hingga keterbatasan akses terhadap dokter spesialis yang menangani lupus dan penyakit autoimun.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Dipa Yustia, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Partai Golkar, mendengarkan langsung aspirasi para penyintas. Menurutnya, lupus bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut akses layanan dan keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
“Jangan biarkan mereka berjuang sendiri. Penyintas lupus berhak mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak, dukungan yang berkelanjutan, dan lingkungan yang memahami perjuangan mereka,” tegas Dipa.
Ketua Panggon Kupu, Prima Dewi Nurcahya, mengatakan komunitas yang dipimpinnya hadir untuk menjadi rumah bersama bagi para penyintas lupus dan autoimun agar mereka dapat saling menguatkan dan berbagi pengalaman.
“Kami ingin para penyintas tahu bahwa mereka tidak sendiri. Selalu ada ruang untuk saling mendukung, belajar, dan bertumbuh bersama,” ujarnya.

Bagi Dipa, keberadaan Panggon Kupu menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam membantu para penyintas menjalani hidup yang lebih baik. Karena itu, kolaborasi antara komunitas, tenaga kesehatan, dan pemerintah perlu terus diperkuat.
“Tidak semua perjuangan terlihat. Karena itu, tugas kita adalah memastikan mereka tetap mendapatkan perhatian, kesempatan, dan perlindungan yang layak,” tutup Dipa.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik perjuangan para penyintas lupus, selalu ada harapan yang tumbuh melalui edukasi, pendampingan, dan kepedulian bersama.

