Semarang – Panti asuhan Manarul Mabrur Semarang menarik perhatian publik setelah kisahnya menampung ratusan bayi terbuang selama 14 tahun terakhir menjadi viral. Panti yang berlokasi di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, ini bahkan memiliki satu Kartu Keluarga dengan lembaran hingga enam halaman karena menampung puluhan anak asuh.
Bau bedak bayi menyapa saat kaki menginjak halaman panti asuhan tersebut. Puluhan anak dengan wajah cemong bedak tampak bermain, ada yang bersepeda, saling berkejaran, atau sekadar duduk melingkar bercengkerama. Di antara mereka, ada anak yang lahir tanpa dikehendaki orang tuanya, bahkan sempat dicoba digugurkan dengan obat.
Kisah Panti Asuhan Manarul Mabrur Semarang
“Betul, di antara mereka ada yang tidak diinginkan lahir ke dunia, bahkan ada yang coba digugurkan dengan cara diberi obat,” ujar Pimpinan Panti Asuhan Manarul Mabrur, Rais Bawono Hady (61).
Panti asuhan tersebut didirikan Rais pada 2012 dengan semangat menolong sesama. Pada awalnya, panti itu didirikan bagi anak jalanan. Namun, dalam perjalanannya, panti itu terbuka bagi semua usia dan berbagai persoalan, termasuk bagi para ibu hamil di luar nikah dan bayi terlantar.
Selama 14 tahun beroperasi, seingat Rais, pantinya telah menerima sekitar 400an anak. Kini, penghuninya tinggal sekitar 80 orang, terdiri dari 35 balita, 25 anak usia TK hingga SMA, dan sisanya orang dewasa maupun manula yang ditelantarkan keluarganya. Dari anak-anak asuhnya, tujuh di antaranya kini telah menjadi sarjana.
Sempat Dilarang Terima Ibu Hamil di Luar Nikah
Selepas menampung ratusan bayi, sejak 2022 panti asuhan Manarul Mabrur Semarang dilarang oleh Dinas Sosial Kota Semarang membantu ibu hamil di luar nikah. Menurut Rais, pelarangan itu beralasan pantinya dianggap tidak layak dan dituding mendukung orang-orang bermaksiat.
Akibat pelarangan itu, panti telah menolak sebanyak 697 bayi dan perempuan hamil yang hendak masuk selama empat tahun terakhir. Ratusan orang itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun luar Pulau Jawa.
“Baru-baru ini (Juli 2026), kami tolak dua perempuan dari Demak dan Semarang. Dari dua orang itu, salah satunya anak 12 tahun masih kelas 6 SD hamil 7 bulan, tetapi terpaksa kami tolak akibat larangan Dinsos,” terangnya.
Meski berat menolak, Rais mengaku ikhlas dengan larangan tersebut. Baginya, perempuan hamil atau ingin menitipkan bayi tidak perlu dihakimi. “Kami tidak akan mengambil tugas Tuhan menghukum manusia. Dan, ingat manusia pasti punya kesalahan, tapi sebejat apapun, pasti ada titik kebaikan,” terangnya.
Izin Terbit dan Rencana Kembali Menampung Bayi
Kabar baik datang pada Agustus 2025. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menerbitkan izin operasional panti yang selama 14 tahun diajukan tetapi tak kunjung diterbitkan oleh Dinsos.
“Bu Agustin bilang soal kemanusiaan tidak ada undang-undangnya, akhirnya izin itu terbit pada Agustus 2025, diantarkan langsung oleh petugas Dinsos,” katanya.
Selepas izin itu terbit, Rais berencana kembali menampung bayi yang tidak dikehendaki. Rencana itu akan dilakukan pada 2027 atau 2028, menunggu anak-anak penghuni sekarang minimal berusia lima tahun karena keterbatasan ruangan.
KK Enam Lembar dan Bank Data Anak Asuh
Menyoal identitas anak, seluruh anak asuh masuk ke dalam satu Kartu Keluarga milik Rais. Tak heran, lembaran KK-nya sampai enam lembar, tidak hanya satu lembar seperti KK pada umumnya. Rais memiliki bank data yang terdokumentasi sehingga suatu saat anak-anak ingin mencari asal-usulnya bisa melihat data secara gamblang.
Ada sekitar 160 anak yang sudah diambil kembali oleh orang tuanya. Meski begitu, banyak pula anak yang memilih bertahan di panti karena enggan kembali ke keluarganya. “Kalau ada orangtua yang datang ke sini untuk ambil anaknya, saya justru bahagia, anak itu bisa hidup kembali bersama orangtuanya,” ungkap mantan marbot masjid itu.
Untuk kebutuhan sehari-hari, pria asal Probolinggo itu sejak awal mendirikan panti menggunakan sumber dana pribadi dengan menjual sawah warisan senilai Rp1,5 miliar yang ditaruh di deposito bank. Seluruh biaya penghuni ditanggung, mulai makan tiga kali sehari hingga biaya sekolah.
Kisah panti asuhan Manarul Mabrur Semarang ini menjadi cermin kepedulian sosial yang langka. Rais berharap anak-anak asuhnya suatu saat menjadi orang baik dan bermanfaat. “Orang yang baik adalah mereka yang bermanfaat, bukan yang hanya pintar ibadah,” pesannya.
Kisah kepedulian sosial seperti panti asuhan Manarul Mabrur Semarang ini layak menjadi inspirasi. Warga yang ingin menyalurkan bantuan atau sekadar berkunjung bisa menghubungi pihak panti langsung. Informasi seputar kegiatan sosial lain di Semarang juga bisa disimak di YukTalk.
Dikutip dari sumber: tribunnews.com

