Gelombang pemadaman listrik yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah sejak pertengahan Juni 2026 bukan hanya meresahkan warga, tetapi juga memukul keras sektor peternakan unggas. Ribuan anak ayam dilaporkan mati massal akibat suhu kandang yang anjlok ketika aliran listrik diputus secara mendadak. Bagi peternak ayam Jateng mati lampu bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman nyata yang bisa menghabiskan seluruh populasi kandang dalam semalam.
Menurut data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, tingkat kematian anak ayam di sejumlah kandang mencapai 50 persen dari total populasi. Kerugian langsung bisa menyentuh puluhan juta rupiah per peternak dalam sekali pemadaman. Total, sekitar 100.000 peternak broiler di provinsi ini terdampak oleh krisis byar-pet yang terjadi berulang tanpa jadwal pasti.
Fase Brooding: Periode Paling Kritis bagi Peternak Ayam Jateng Mati Lampu
Fase brooding merupakan masa pemeliharaan paling rentan dalam siklus hidup ayam broiler. Anak ayam yang baru menetas pada umur 1 hingga 14 hari memerlukan penghangat intensif berupa lampu listrik sebagai pengganti kehangatan induk. Ketika aliran listrik padam, sumber panas utama hilang dan suhu kandang turun drastis dalam waktu singkat.
“Ya untuk peternak ayam pedaging terganggu adanya pemadam listrik ini karena ayam jenis ini fase brooding antara umur 1 sampai 14 hari itu butuh penghangat dari lampu.”
— Susilo, Ketua Pinsar Jawa Tengah
Anak ayam pada fase ini belum memiliki kemampuan regulasi suhu tubuh yang memadai. Tanpa pemanas buatan, mereka akan kedinginan, saling menumpuk, dan akhirnya mati lemas. Semakin lama durasi pemadaman, semakin besar angka kematian yang terjadi.
Mati Lampu Malam Hari Lebih Mematikan bagi Peternak Ayam Jateng
Tidak semua pemadaman berdampak sama. Susilo menjelaskan bahwa byar-pet pada siang hari masih bisa diantisipasi karena suhu lingkungan relatif hangat dan cahaya matahari dapat masuk ke kandang. Namun, situasi berubah total ketika pemadaman terjadi pada malam hari.
“Kalau mati lampu siang tidak masalah, jadi persoalan saat malam hari, ayam bisa mati semua.”
— Susilo, Ketua Pinsar Jateng
Pada malam hari, suhu lingkungan sudah rendah. Ketika pemanas kandang ikut mati, anak ayam yang berusia di bawah dua minggu langsung mengalami hipotermia. Dalam hitungan jam, populasi kandang yang semula sehat bisa mati secara massal.
Hitungan Kerugian: Rp6.000 per Ekor, Total Capai Puluhan Juta
Harga Day Old Chick (DOC) atau anak ayam umur sehari saat ini berada di kisaran Rp6.000 per ekor. Dengan kapasitas kandang rata-rata antara 5.000 hingga 20.000 ekor, potensi kerugian langsung sangat besar.
“Harga DOC (anakan ayam) harganya bisa 6 ribu perekor, kalau matinya 1 ribu ekor saja udah Rp6 juta sendiri.”
— Susilo, Ketua Pinsar Jateng
Angka tersebut baru mencakup harga beli anak ayam, belum memperhitungkan biaya pakan, vitamin, dan operasional yang sudah dikeluarkan selama masa pemeliharaan. Jika angka kematian menyentuh 50 persen dari total populasi kandang, kerugian per peternak bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah sekaligus.
Genset Rp15 Juta: Solusi yang Tak Terjangkau Peternak Kecil
Salah satu jalan keluar yang paling logis adalah menyediakan genset sebagai sumber listrik cadangan. Namun, harga satu unit genset yang memadai untuk operasional kandang mencapai Rp15 juta — angka yang sangat berat bagi peternak skala kecil.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan yang mencolok. Peternak besar yang memiliki modal cukup dapat membeli genset dan menjaga kelangsungan produksi. Sementara itu, peternak rakyat dengan modal terbatas hanya bisa pasrah menghadapi siklus byar-pet yang datang tanpa peringatan, memperlebar jurang antara pelaku usaha besar dan kecil di sektor perunggasan Jawa Tengah.
Respons PLN: Kendala Teknis pada Pembangkit Listrik
Menanggapi keluhan yang meluas, PLN UID Jawa Tengah mengakui bahwa pemadaman kali ini bukan jadwal pemeliharaan rutin. Penyebabnya adalah gangguan pada sisi pembangkit yang menurunkan kapasitas pasokan listrik secara signifikan.
“PLN saat ini tengah mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan menyusul adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik.”
— Prayudha Fasya Perdana, Manager Komunikasi PLN UID Jateng
PLN menyatakan telah mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk memulihkan keandalan sistem kelistrikan. Informasi lebih lanjut mengenai upaya pemulihan dapat dilihat di situs resmi PLN.
Desakan Kompensasi untuk Peternak Ayam Jateng Mati Lampu
Di tengah janji pemulihan dari PLN, para peternak ayam di Jawa Tengah tetap menanggung beban yang sudah tak bisa dipulihkan. Ribuan anak ayam telah mati dan kerugian puluhan juta rupiah tidak dapat dikembalikan hanya dengan normalisasi aliran listrik.
Pinsar Jateng mendesak agar pemerintah daerah bersama PLN segera merumuskan skema kompensasi bagi peternak yang terdampak. Selain itu, diperlukan solusi jangka panjang seperti program subsidi genset atau sistem peringatan dini pemadaman agar peternak memiliki waktu untuk mengambil langkah antisipasi sebelum populasi kandang mereka kembali menjadi korban. Terkait dampak pemadaman di wilayah lain, pemadaman listrik juga sempat melanda kawasan Semarang dan Solo dalam beberapa waktu terakhir.

