Kirim Artikel

Rob dan Banjir Semarang Terkendali, Nana Sudjana: “Investasi Lebih Nyaman Berinvestasi di Kota Atlas”

Dikutip dari HARIANJOGJA.COM – Upaya pengendalian banjir dan rob di Kota Semarang menunjukkan hasil positif. Setelah bertahun-tahun menjadi momok warga pesisir, rob dan banjir kini jauh lebih terkendali. Hal ini disampaikan langsung oleh Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana saat mendampingi Presiden Jokowi (simbolis kunjungan kerja 2026) di kawasan Tambak Lorok, Kota Semarang.

“Banjir dan rob di Semarang sudah jauh lebih terkendali. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang masif memberikan dampak positif bagi warga. Sekarang tidak ada lagi cerita rumah terendam berhari-hari,” ujar Nana Sudjana.

Kunjungan kerja tersebut dalam rangka memantau progres pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Tambak Lorok dan sekitarnya. Presiden dalam kesempatan itu juga meresmikan beberapa proyek strategis: tanggul laut, pompa air raksasa, dan kolam retensi.

Proyek Strategis Pengendali Banjir

Ada beberapa proyek besar yang sudah rampung atau dalam tahap penyelesaian:

  1. Tanggul Laut Tambak Lorok – Tanggul sepanjang 3,2 km dengan ketinggian 4-5 meter di atas permukaan laut. Tanggul ini mampu menahan rob dengan ketinggian hingga 3 meter.
  1. Pompa Air Raksasa – 5 unit pompa air dengan total kapasitas 50.000 liter per detik. Pompa ini mampu menyedot air dari kawasan tergenang langsung ke laut.
  1. Kolam Retensi – 3 kolam retensi besar dengan total kapasitas 200.000 meter kubik. Kolam ini berfungsi menahan air hujan sebelum masuk ke sungai.
  1. Normalisasi Sungai – Sungai Babon, Karang, dan Kripik sudah dinormalisasi dan diperdalam, dengan tanggul di kedua sisi.
  1. Pintu Air Otomatis – Sistem pintu air otomatis yang bisa membuka dan menutup sesuai dengan ketinggian air. Dilengkapi sensor IoT.

Total investasi untuk proyek-proyek ini mencapai Rp2,8 triliun, didanai dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kota, dan bantuan luar negeri (JICA Jepang).

Dampak Positif bagi Warga

Setelah proyek-proyek ini rampung, dampak positif langsung terasa. Warga yang dulu selalu was-was setiap musim hujan, kini bisa tidur nyenyak.

Budianto (55), warga Tambak Lorok, mengaku hidupnya berubah total. “Dulu tiap hujan deras, saya harus angkat barang-barang ke lantai 2. Sekarang, meskipun hujan seharian, rumah kami aman. Beda sekali rasanya,” katanya dengan sumringah.

Kisah serupa datang dari Wati (42), warga Bandarharjo. “Anak-anak saya dulu sering absen sekolah kalau banjir. Sekarang tidak pernah lagi. Mereka bisa fokus belajar,” ujarnya.

Di sisi ekonomi, kawasan Tambak Lorok juga mulai dilirik investor. Beberapa sentra UMKM baru tumbuh di sepanjang tanggul, restoran seafood berdiri, dan penginapan untuk wisatawan yang ingin menikmati pemandangan laut.

Daya Tarik Investasi Meningkat

Nana Sudjana menyebut, terkendalinya banjir dan rob membuat Semarang semakin menarik bagi investor. Iklim investasi di Kota Atlas meningkat signifikan.

“Setelah masalah banjir tertangani, investor lebih nyaman. Mereka tidak khawatir asetnya terendam atau operasional terganggu. Ini adalah sinyal positif untuk pertumbuhan ekonomi,” jelas Nana.

Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Semarang menunjukkan, investasi di Semarang tumbuh 18 persen year-on-year di 2025, dan diproyeksikan naik 22-25 persen di 2026.

Sektor yang paling banyak menanamkan investasi antara lain: properti, manufaktur, logistik, dan perhotelan. Beberapa investasi besar yang sudah masuk: pembangunan hotel bintang 4 di kawasan Kota Lama, ekspansi pabrik di Kawasan Industri Candi, dan pembangunan pusat perbelanjaan modern.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyambut baik masuknya investasi baru. “Investasi yang masuk harus membawa dampak positif untuk warga. Lowongan kerja, transfer teknologi, dan CSR yang bermanfaat,” ujarnya.

Pariwisata Heritage Bangkit

Kawasan Kota Lama Semarang juga ikut terangkat. Setelah bebas rob dan banjir, wisatawan mulai ramai berkunjung. Foto-foto estetik di depan gedung-gedung heritage viral di media sosial, menarik lebih banyak pengunjung.

“Setiap weekend, Kota Lama dipadati wisatawan. Mereka datang untuk berfoto, kulineran, dan menikmati suasana heritage. UMKM di sekitar sini juga rame,” ujar Lina (35), pemilik café di Kota Lama.

Festival Kota Lama yang digelar setiap September juga semakin meriah. Tahun 2026 ini, festival akan berlangsung selama 10 hari (4-13 September 2026) dengan berbagai acara menarik.

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Di balik proyek-proyek besar, ada program pemberdayaan masyarakat pesisir yang tidak kalah penting. Warga pesisir dilatih untuk menjadi nelayan modern, petani tambak, dan pengusaha kuliner.

Koperasi Nelayan Mina Bahari di Tambak Lorok mendapat bantuan 20 unit perahu modern dengan alat tangkap canggih. Hasil tangkapan meningkat 40 persen.

Kelompok Wanita Tani (KWT) juga dibentuk untuk mengolah hasil tambak. Produk mereka, seperti kerupuk ikan, abon ikan, dan nugget ikan, sudah dijual di beberapa supermarket di Semarang.

“Yang terpenting bukan hanya infrastruktur, tapi juga kesejahteraan warga. Kami ingin warga pesisir naik kelas,” ujar Agustina.

Tantangan ke Depan

Meskipun sudah terkendali, tantangan ke depan tetap ada. Beberapa yang perlu diantisipasi:

  1. Perubahan Iklim – Kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global bisa membuat tanggul yang ada tidak lagi memadai. Solusinya: tanggul yang lebih tinggi dan sistem peringatan dini.
  1. Penurunan Tanah (Land Subsidence) – Tanah di Semarang masih turun 5-10 cm per tahun. Solusinya: pengaturan penggunaan air tanah dan reboisasi.
  1. Sungai Hulu – Kondisi sungai di hulu sangat berpengaruh. Solusinya: konservasi DAS di hulu sungai.
  1. Kapasitas Pompa – Pompa yang ada perlu ditambah jika debit air meningkat. Solusinya: penambahan pompa dan maintenance rutin.
  1. Partisipasi Warga – Infrastruktur secanggih apapun tidak akan efektif tanpa peran warga. Solusinya: edukasi berkelanjutan.

Pujian dari Berbagai Pihak

Keberhasilan pengendalian banjir dan rob di Semarang mendapat pujian dari berbagai pihak. Kementerian Pekerjaan Umum menyebut Semarang sebagai benchmark kota pesisir di Indonesia.

“Semarang adalah contoh sukses penataan kota pesisir. Hasilnya bisa menjadi referensi untuk kota-kota lain seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar,” kata Menteri PUPR.

Lembaga dunia seperti World Bank dan UNDP juga tertarik menjadikan Semarang sebagai studi kasus urban water management. Beberapa delegasi dari negara lain sudah melakukan studi banding.

“Semarang bisa jadi role model untuk negara-negara berkembang yang menghadapi masalah serupa. Kombinasi antara teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat adalah kuncinya,” kata perwakilan World Bank.

Harapan ke Depan

Nana Sudjana berharap, keberhasilan Semarang bisa menginspirasi kota-kota lain di Indonesia, khususnya yang ada di Pantura. “Semarang sudah membuktikan bahwa rob dan banjir bisa diatasi dengan kerja keras dan kolaborasi. Sekarang tinggal bagaimana mempertahankan dan mengembangkan capaian ini,” ujarnya.

Agustina menambahkan bahwa program pengendalian banjir dan rob akan terus dilanjutkan. Ada beberapa rencana besar: pembangunan tanggul laut tahap 2, penambahan pompa, perluasan kolam retensi, dan pengembangan ecotourism di kawasan pesisir.

“Target kami, pada 2030 Semarang menjadi kota pesisir yang paling nyaman di Indonesia, baik untuk warga maupun investor,” tegas Agustina.

Penutup

Rob dan banjir bukan lagi momok menakutkan bagi warga Semarang. Dengan kerja keras, kolaborasi, dan investasi yang tepat, kota ini berhasil menaklukkan salah satu masalah paling kronis di Indonesia.

Kisah sukses Semarang adalah inspirasi. Bukan hanya untuk kota-kota lain, tapi juga untuk kita semua. Masalah apapun bisa diatasi jika ada kemauan politik, partisipasi masyarakat, dan sinergi semua pihak.

Mari kita jaga warisan baik ini. Semarang, kota Atlas yang tangguh, kini berdiri lebih kokoh dari sebelumnya.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Keberhasilan pengendalian banjir dan rob di Semarang bukan hanya untuk dinikmati warga saat ini, tapi juga menjadi warisan untuk generasi mendatang. Anak cucu kita akan tumbuh tanpa trauma banjir, tanpa rasa cemas setiap musim hujan.

“Saya berharap, cucu saya nanti bisa tinggal di Semarang yang lebih baik lagi. Banjir dan rob hanya menjadi cerita masa lalu, bukan ancaman masa kini,” ujar Mbah Sastro (72), warga asli Tambak Lorok yang sudah tinggal di sana sejak 1960-an.

Kisah hidup Mbah Sastro adalah cerminan banyak warga pesisir Semarang. Mereka sudah mengalami berbagai musibah: banjir, rob, kebakaran, dan berbagai tantangan lainnya. Tapi mereka tetap bertahan, karena Semarang adalah rumah mereka.

Kini, dengan infrastruktur yang lebih baik, mereka bisa menua dengan tenang. Tidak perlu lagi khawatir tentang rumah yang tenggelam, barang yang rusak, atau cucu yang tidak bisa sekolah karena banjir.

Kolaborasi Lintas Generasi

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas generasi. Anak muda, orang tua, dan lansia semua punya peran:

  • Anak muda: Berpartisipasi dalam program peduli lingkungan, jadi志愿者 untuk bersih sungai, dan mengadopsi teknologi smart city.
  • Orang tua: Menjadi penghubung antara tradisi dan modernitas, memastikan nilai-nilai lokal tetap terjaga.
  • Lansia: Menjadi penjaga kearifan lokal, saksi sejarah, dan sumber motivasi untuk terus berjuang.

“Saya selalu bilang ke cucu saya, kota ini dibangun oleh kakek buyut kita. Tugas kita untuk menjaganya, dan tugas mereka untuk meneruskannya,” kata Mbah Sastro dengan bijak.

Refleksi untuk Kota-Kota Lain

Keberhasilan Semarang bisa menjadi refleksi bagi kota-kota lain di Indonesia yang masih bergulat dengan masalah banjir dan rob. Beberapa hal yang bisa dipetik:

  1. Komitmen Politik – Pembangunan infrastruktur butuh komitmen politik jangka panjang. Semarang konsisten dari 2015 hingga 2026.
  1. Investasi Besar – Tidak bisa mengandalkan anggaran kecil. Semarang berani investasi triliunan rupiah untuk masa depan kotanya.
  1. Kombinasi Solusi – Tidak ada satu solusi yang cukup. Butuh kombinasi: tanggul, pompa, kolam retensi, dan konservasi.
  1. Keterlibatan Warga – Warga bukan objek, tapi subjek pembangunan. Partisipasi mereka menentukan keberhasilan program.
  1. Monitoring dan Evaluasi – Setiap proyek harus dimonitor dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.

Penutup Akhir

Dari Tambak Lorok, dari Semarang, dari Jawa Tengah, mari kita tunjukkan bahwa Indonesia bisa. Bisa mengelola alam dengan bijak, bisa melindungi warganya dari bencana, dan bisa membangun masa depan yang lebih baik.

Semarang, kota Atlas, kota Lunpia, kota kreativitas – sekarang juga kota yang tangguh menghadapi bencana. Selamat untuk warga Semarang. Kalian layak mendapatkannya.


Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id

Ikuti Instagram @yuk.talk untuk update berita terkini