Dikutip dari BBC INDONESIA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor terlemah baru pada Rabu (3/6/2026). Rupiah menyentuh level Rp17.878 per dolar AS, memecahkan rekor sebelumnya.
Pelemahan ini dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik yang saling terkait. Sentimen pasar masih mengamati perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE SDA) yang diperketat. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan cadangan devisa namun menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Di sisi global, ketidakpastian ekonomi dunia turut memberikan tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi, membuat aliran modal asing lebih selektif.
Analis memperkirakan volatilitas rupiah akan tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Beberapa ekonom menyarankan pemerintah untuk mengoptimalkan instrumen hedging dan memperkuat fundamental ekonomi domestik.
“Rupiah melemah di saat USD juga melemah terhadap mata uang mayor lainnya. Ini menunjukkan ada faktor spesifik domestik yang perlu diperhatikan,” jelas seorang analis pasar keuangan.
Bank Indonesia dipercaya akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan moneter yang prudent diharapkan dapat meredam volatilitas berlebihan tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi.

