Kirim Artikel

Tradisi Sesaji Rewanda Sakral di Gua Kreo Semarang, Warisan Sunan Kalijaga

Dikutip dari Liputan6 – Suasana riuh penuh kebahagiaan menyelimuti kawasan Gua Kreo, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Ratusan warga dan kawanan kera berbaur dalam tradisi sakral Sesaji Rewanda, sebuah ritual tahunan yang menjadi warisan budaya dari masa Sunan Kalijaga.

Suasana Khidmat Bercampur Kebahagiaan

“Suasana riuh menyelimuti kawasan Gua Kreo. Bukan cuma manusia, kera juga ikut berbaur dan saling berbagi makanan hasil panen dari bumi Semarang yang disajikan dalam tradisi Sesaji Rewanda,” tulis Liputan6 dalam laporannya, Sabtu (29/3/2026).

Tradisi ini digelar tepat seminggu setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya pada Sabtu (28/3/2026) dan Minggu (29/3/2026). Rangkaian acara dimulai sejak Jumat malam (27/3/2026) dengan pertunjukan seni kolosal bertajuk “Mahakarya Gua Kreo” yang menampilkan legenda Gua Kreo secara dramatis.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, menjelaskan bahwa Pemkot Semarang menyuguhkan perpaduan seni pertunjukan modern dan ritual adat sakral melalui rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda.

Prosesi Kirab Budaya

Pada hari puncak acara, prosesi kirab budaya dimulai sejak pagi hari. Warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, mengarak sembilan gunungan berisi hasil bumi menuju kawasan Gua Kreo. Gunungan-gunungan tersebut terdiri dari berbagai hasil pertanian dan perkebunan.

Isi gunungan meliputi palawija, buah-buahan segar, sayur-mayur, nasi tumpeng, ketupat, dan yang paling istimewa adalah “sego kethek” atau nasi monyet — gunungan khusus yang dipersembahkan untuk para kera penghuni Gua Kreo.

Dalam arak-arakan, warga berpakaian layaknya Sunan Kalijaga bersama sejumlah santrinya yang membawa kayu jati gelondongan. Mereka dikawal oleh kawanan monyet yang seolah ikut serta dalam prosesi. Setelah dilepas oleh pejabat Pemkot Semarang, kirab gunungan diarak menuju Gua Kreo.

Kera-kera Berpesta

Sesampainya di kawasan Gua Kreo, gunungan-gunungan diletakkan di area terbuka. Ratusan kera ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang menjadi penghuni gua langsung berebut makanan dari gunungan. Kera-kera tersebut seolah “dipersilakan berpesta” melalui sesaji hasil bumi yang telah disiapkan warga.

Keberadaan kera-kera ini bukan sembarangan. Menurut kepercayaan turun-temurun, kera Gua Kreo pernah membantu Sunan Kalijaga dalam proses pencarian kayu jati untuk membangun tiang atau Soko Guru Masjid Agung Demak.

Napak Tilas Sunan Kalijaga

Tradisi Sesaji Rewanda merupakan bentuk ucapan terima kasih kepada kawanan kera Gua Kreo yang pada masa lalu membantu Sunan Kalijaga membangun Masjid Agung Demak. Tradisi ini digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang setiap bulan Syawal.

Saiful, tokoh masyarakat Kandri, menjelaskan makna mendalam tradisi ini. “Monyet-monyet ini konon membantu Sunan Kalijaga. Warga di sini diberi tugas dan amanah untuk melestarikan Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, termasuk menjaga kera-kera yang ada ini,” ujarnya dikutip dari Antara.

“Jadi bagaimana bentuk budaya leluhur rasa terima kasih dari Sunan Kalijogo kepada teman-teman kera yang ada di Kreo,” tambahnya.

Melestarikan Warisan Budaya

Tradisi ini bukan sekadar dipertontonkan sebagai agenda wisata, melainkan telah menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan. Dengan melibatkan generasi muda, diharapkan Tradisi Sesaji Rewanda Gua Kreo dapat tetap hidup dan berkembang sebagai warisan budaya bagi generasi mendatang.

Tradisi ini juga menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Jawa melestarikan warisan budaya dan sejarah yang kaya, sekaligus mempromosikan potensi wisata budaya Semarang kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.


Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id