Kirim Artikel

Trans Semarang Jalan Menuju Modernisasi: 27 Bus Listrik hingga 17,4 km Dedicated Lane

trans semarang modernisasi

Sistem transportasi Bus Rapid Transit di ibu kota Jawa Tengah sedang memasuki fase transformasi besar. Upaya Trans Semarang modernisasi armada dan infrastruktur kini menjadi sorotan utama, mulai dari penggantian bus diesel dengan kendaraan listrik hingga rencana pembangunan jalur khusus berkapasitas tinggi. Transformasi ini melibatkan investasi triliunan rupiah dan dukungan lembaga internasional, sekaligus menjadi ujian nyata bagi pemerintah kota dalam menyediakan layanan transportasi publik yang andal, tepat waktu, dan ramah lingkungan.

Tantangan Ketepatan Waktu dalam Trans Semarang Modernisasi Armada

Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi sistem BRT di kota ini adalah belum tersedianya dedicated lane atau jalur khusus bus. Berbeda dengan Transjakarta di Jakarta yang sudah memiliki separator permanen, armada Trans Semarang sebagian besar masih beroperasi di jalur yang sama dengan kendaraan pribadi. Kondisi ini dikenal sebagai mixed traffic, di mana bus harus berbagi ruas jalan dengan mobil dan motor lainnya.

Akibatnya, ketepatan waktu atau on-time performance menjadi salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan penumpang. Pada jam sibuk, kemacetan di berbagai ruas jalan utama kota kerap membuat bus terlambat tiba di halte. Padahal, jadwal keberangkatan yang konsisten merupakan salah satu syarat utama agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

“Berbeda dengan Transjakarta yang sudah punya jalur khusus berseparator permanen, Trans Semarang masih harus berbagi jalan dengan kendaraan pribadi, sehingga ketepatan waktunya masih sering terdampak kemacetan pada jam sibuk.”

Djoko Setijowarno, pakar transportasi dari Unika Soegijapranata

Djoko Setijowarno, akademisi dari Unika Soegijapranata yang juga menjabat sebagai penasihat di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menegaskan bahwa tanpa dedicated lane, performa BRT akan selalu terbatas. Ia menyebut bahwa lompatan besar menuju era modern transportasi di kota ini bukan sekadar soal mengganti mesin diesel dengan motor listrik. Lebih dari itu, diperlukan perubahan struktural pada infrastruktur agar bus dapat bergerak lebih cepat dan prediktif di jalanan kota.

Menurut Djoko, masalah ketepatan waktu ini menjadi tantangan utama yang harus dipecahkan sebelum ambisi modernisasi armada Trans Semarang dapat berjalan optimal. Tanpa solusi untuk mixed traffic, bahkan bus listrik sekalipun tetap akan terjebak di tengah kemacetan kota.

Trans Semarang Modernisasi: Dari 20 Bus hingga Jaringan Ratusan Kilometer

Perjalanan Trans Semarang dimulai pada tahun 2008 ketika Kementerian Perhubungan menyerahkan 20 unit bus untuk dioperasikan di kota ini. Pada masa awal, layanan ini hanya melayani satu koridor dengan armada terbatas. Namun seiring berjalannya waktu, jaringan Trans Semarang berkembang pesat.

Pada tanggal 3 Januari 2017, pengelolaan Trans Semarang resmi berada di bawah Badan Layanan Umum (BLU) Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Trans Semarang di bawah Dinas Perhubungan Kota Semarang. Sejak saat itu, layanan ini terus diperluas hingga kini mencakup delapan koridor utama dengan total panjang jaringan sekitar 285 kilometer. Selain itu, terdapat empat rute feeder atau pengumpan yang menjangkau area-area di luar koridor utama dengan total jarak sekitar 125 kilometer.

Saat ini, operasional Trans Semarang ditangani oleh tujuh mitra operator yang masing-masing mengelola koridor dan rute tertentu. Dengan cakupan jaringan yang begitu luas, tantangan dalam menjaga kualitas layanan tentu menjadi semakin kompleks, mulai dari kedisiplinan sopir, kondisi armada, hingga integrasi antar-koridor.

Trans Semarang Modernisasi: 27 Bus Listrik Gantikan Armada Diesel

Langkah konkret dalam proses modernisasi armada Trans Semarang terlihat dari penggantian bus diesel berusia tua dengan armada berbasis energi listrik. Di Corridor I yang melayani rute Mangkang, Pemuda, hingga Penggaron, sebanyak 25 unit bus diesel produksi tahun 2015 dengan kapasitas 80 penumpang akan digantikan oleh 27 unit bus listrik baru.

Meskipun kapasitas tempat duduk bus listrik baru ini tercatat sekitar 62 penumpang, jumlah kursi yang tersedia justru lebih banyak dibandingkan armada diesel lama. Hal ini mengindikasikan bahwa desain interior bus listrik lebih difokuskan pada kenyamanan penumpang yang duduk, bukan sekadar daya angkut berdiri semata.

Sebelum resmi dioperasikan secara massal, bus-bus listrik ini telah menjalani serangkaian uji coba operasional di beberapa koridor sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Uji coba tersebut bertujuan memastikan kesiapan teknis kendaraan, kehandalan baterai, serta kompatibilitasnya dengan infrastruktur pengisian daya yang ada di halte-halte Trans Semarang.

Program penggantian armada di Corridor I ini menjadi pilot project yang sangat penting. Jika berhasil, langkah serupa diperkirakan akan diterapkan di koridor-koridor lainnya secara bertahap.

Proyek MASTRAN Dukung Trans Semarang Modernisasi Armada

Tantangan utama dalam modernisasi armada Trans Semarang bukan hanya soal kendaraan, tetapi juga infrastruktur jalur khusus. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Kota Semarang masuk dalam program MASTRAN (Indonesia Mass Transit Project), sebuah proyek nasional yang didukung oleh Kementerian Perhubungan, Bank Dunia (World Bank), dan Agence Française de Développement (AFD).

Semarang terpilih sebagai salah satu dari lima kota besar di Indonesia yang mendapatkan alokasi pembangunan dedicated lane, bersama Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Dalam proyek ini, tiga koridor prioritas ditetapkan sebagai lokasi pembangunan jalur khusus:

  • Koridor 1: Simpang Ngaliyan menuju Simpang Fatmawati/Soetta
  • Koridor 2: Stasiun Tawang menuju Tugu Muda
  • Koridor 3: Simpang Lima menuju Jalan Veteran

Secara keseluruhan, proyek ini mencakup pembangunan jalur khusus sepanjang 17,4 kilometer, dilengkapi dengan 37 shelter atau halte utama serta 395 titik pemberhentian atau boarding point. Agar dedicated lane ini dapat beroperasi secara optimal, diperlukan sekitar 480 unit bus dalam berbagai ukuran.

Estimasi biaya untuk proyek ini sangat signifikan. Untuk infrastruktur jalur khusus, dibutuhkan investasi sekitar Rp1,8 triliun. Sementara itu, pengadaan armada baru diperkirakan menghabiskan Rp1,125 triliun. Total investasi yang diperlukan mencapai lebih dari Rp2,9 triliun, menjadikan MASTRAN sebagai salah satu proyek transportasi terbesar yang pernah direncanakan untuk kota ini.

Pembangunan dedicated lane ini menjadi kunci utama untuk mengatasi masalah ketepatan waktu yang selama ini menjadi keluhan utama penumpang. Dengan jalur khusus, bus tidak lagi terjebak di tengah kemacetan dan dapat bergerak lebih cepat serta konsisten sesuai jadwal.

Kebijakan Subsidi Trans Semarang Modernisasi dan Kesejahteraan Pengemudi

Tidak hanya aspek infrastruktur dan armada, modernisasi armada Trans Semarang juga melibatkan aspek kebijakan finansial dan kesejahteraan sumber daya manusia. Pemerintah Kota Semarang telah mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 yang mengamanatkan bahwa minimal 5 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus dialokasikan untuk subsidi transportasi publik.

Di sisi lain, Djoko Setijowarno juga mengangkat isu penting terkait kesejahteraan pengemudi Trans Semarang. Saat ini, seluruh pengemudi dari berbagai jenis kendaraan menerima gaji yang sama, tanpa memperhitungkan tingkat tanggung jawab dan kerumitan mengemudi kendaraan yang berbeda-beda. Djoko menyarankan agar sistem remunerasi diperbarui dengan skema yang lebih adil dan proporsional.

“Kesejahteraan pengemudi Trans Semarang idealnya dibedakan berdasarkan jenis kendaraan yang dioperasikan. Pengemudi kendaraan feeder setara UMK, pengemudi bus sedang sebesar 1,5 kali UMK, dan pengemudi bus besar dua kali UMK.”

Djoko Setijowarno, pakar transportasi dari Unika Soegijapranata/MTI

Dengan pembagian gaji seperti itu, pengemudi bus besar yang bertanggung jawab atas ratusan penumpang akan menerima kompensasi yang lebih layak, sementara pengemudi feeder tetap mendapatkan upah yang sesuai standar kota.

Trans Semarang Modernisasi di Ambang Transformasi Besar

Secara keseluruhan, Trans Semarang kini berada dalam fase transisi kritis dari sistem transportasi konvensional menuju model transportasi publik yang lebih cerdas, terintegrasi, ramah lingkungan, dan terjangkau. Keberhasilan transformasi ini tidak hanya ditentukan oleh aspek teknologi dan infrastruktur, tetapi juga oleh kebijakan sosial seperti kesejahteraan pengemudi dan aksesibilitas finansial bagi penumpang.

Dengan komitmen pemerintah kota melalui Perda 11/2024, dukungan lembaga internasional melalui proyek MASTRAN, serta langkah awal elektrifikasi armada di Corridor I, harapan besar tersirat untuk menjadikan Trans Semarang sebagai model BRT yang dapat ditiru kota-kota lain di Indonesia. Namun, perjalanan masih panjang. Tantangan pendanaan, koordinasi antar-lembaga, dan perubahan perilaku masyarakat masih perlu dihadapi dengan bijak dan terencana.


Dikutip dari: Tribun Jateng

Disusun oleh Redaksi YukTalk.