Kirim Artikel

UMKM Grande 2026 Resmi Dibuka: 90 UMKM Jawa Tengah Bersaing di Pasar Global Lewat Inovasi dan Digitalisasi

SEMARANG – Pameran UMKM terbesar di Jawa Tengah, UMKM Grande 2026, resmi dibuka pada Kamis (7/5/2026) di Mal Paragon, Semarang. Acara yang berlangsung hingga 11 Mei 2026 ini menampilkan 90 UMKM unggulan yang merupakan hasil pembinaan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Tengah.

Pameran tahun ini mengangkat tema besar “GReen, KerakyatAN, Digital, & Export” yang mencerminkan semangat UMKM tidak hanya berjualan, tapi juga memperhatikan aspek lingkungan, memberdayakan rakyat, memanfaatkan teknologi, dan menembus pasar internasional.

Kepala BI Jateng, Rahmat Dwisaputra, dalam pembukaan menyampaikan bahwa UMKM Grande 2026 adalah momentum untuk menunjukkan bahwa UMKM Indonesia, khususnya Jawa Tengah, sudah siap bersaing di kancah global.

“UMKM tidak lagi sekadar pengisi pasar tradisional. Mereka sudah go digital, punya kualitas ekspor, dan punya daya saing. UMKM Grande adalah panggung untuk membuktikan itu semua,” ujar Rahmat.

Acara pembukaan dimeriahkan dengan penampilan tari tradisional, fashion show batik modern, dan demo memasak produk UMKM. Hadir dalam pembukaan tersebut: Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (diwakili), Wali Kota Semarang Agustina, pejabat BI pusat, dan tamu undangan lainnya.

90 UMKM Unggulan dari Berbagai Sektor

Pameran UMKM Grande 2026 menampilkan 90 UMKM yang terbagi dalam beberapa sektor:

  1. Kuliner – 25 tenant, terdiri dari UMKM makanan ringan, minuman, kue tradisional, dan makanan modern. Beberapa nama yang sudah terkenal: Tahu Bakso Semarang, Mochi Mochi Aren, Kue Putu Cirebon, dan Kopi Robusta Temanggung.
  1. Fashion dan Tekstil – 15 tenant, terdiri dari produsen batik, tenun, dan pakaian modern. Produk unggulan: batik tulis Lasem, tenun Troso, dan fashion recycle.
  1. Kerajinan – 20 tenant, terdiri dari pengrajin kayu, bambu, rotan, dan keramik. Ada juga yang menghasilkan produk dari limbah daur ulang.
  1. Kecantikan dan Wellness – 8 tenant, terdiri dari produk skincare alami, herbal, dan kosmetik tradisional.
  1. Home Décor – 12 tenant, terdiri dari produk dekorasi rumah, furnitur, dan aksesoris.
  1. Digital dan Kreatif – 10 tenant, terdiri dari UMKM digital seperti aplikasi, desain grafis, dan konten kreator.

“Ini adalah UMKM-UMKM pilihan yang sudah melalui kurasi ketat. Kualitas produk, manajemen usaha, dan kesiapan ekspor menjadi kriteria utama,” jelas Rahmat.

Pembeli Asing dan Peluang Ekspor

Salah satu highlight UMKM Grande 2026 adalah kedatangan pembeli (buyer) asing yang sengaja diundang untuk melihat langsung produk UMKM. Ada 12 buyer dari 8 negara yang hadir: Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Uni Emirat Arab, Australia, Jepang, dan Korea Selatan.

“Kami sengaja hadirkan buyer asing. Mereka bisa langsung bertransaksi dengan UMKM, sehingga proses ekspor bisa terjadi di sini,” jelas Rahmat.

Beberapa buyer yang hadir antara lain: perwakilan supermarket besar di Singapura (FairPrice), importir makanan halal di UEA, dan distributor fashion di Australia.

Target yang dipasang: tercipta transaksi ekspor minimal Rp15 miliar selama pameran. Dengan rata-rata Rp150-200 juta per buyer, target ini cukup realistis.

“UMKM Indonesia punya keunggulan di produk berkualitas, halal, dan unik. Pasar luar negeri sangat suka dengan produk seperti ini,” kata Faisal, buyer dari UEA.

Inovasi Digital dan Pembayaran Modern

Pameran UMKM Grande 2026 juga memperkenalkan berbagai inovasi digital kepada pelaku UMKM. Ada booth khusus untuk edukasi dan konsultasi:

  1. QRIS – Semua tenant wajib menerima pembayaran via QRIS. Beberapa tenant bahkan sudah menerima pembayaran dengan kripto dan dompet digital internasional.
  1. Marketplace – Edukasi berjualan di marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan Lazada. Ada pendampingan dari tim marketplace.
  1. Live Streaming – Tenant dilatih untuk live streaming di TikTok dan Instagram. Beberapa influencer diundang untuk sesi collab live streaming.
  1. Export Coaching – Pendampingan khusus untuk UMKM yang ingin ekspor. Materi: regulasi ekspor, packing, branding, dan negosiasi dengan buyer.
  1. Pendanaan – Informasi tentang skema pendanaan dari KUR, PNM, dan investor ventura.

“Kami tidak hanya menjual produk, tapi juga memberikan capacity building. UMKM harus naik level, bukan hanya jualan tapi juga paham strategi bisnis,” ujar Rahmat.

Kisah Sukses UMKM Binaan BI

Tidak sedikit UMKM yang sukses setelah dibina BI. Salah satunya adalah Dapur Mami, UMKM makanan ringan dari Solo. Bermula dari jualan kue rumahan, kini Dapur Mami sudah ekspor ke Singapura dan Malaysia.

“Setelah dibina BI, kami belajar banyak tentang packaging, izin edar, dan pemasaran digital. Omzet naik dari Rp10 juta per bulan menjadi Rp500 juta per bulan,” kata Mama Lina, pendiri Dapur Mami.

Kisah lain datang dari Batik Tulis Abimanyu, UMKM batik dari Pekalongan. Mereka sudah mengekspor batik ke Jepang dan Korea. “Warga Jepang sangat menyukai batik tulis kami. Ada order rutin 200 potong per bulan,” ujar Abimanyu, sang pendiri.

Sukses lain juga dialami oleh Tenun Ikat Troso dari Jepara. Mereka berhasil menembus pasar Eropa melalui pameran di Paris. “French people suka dengan warna dan motif kami. Sekarang ada 5 reseller di Eropa,” kata Ibu Hj. Masnah, pendiri tenun Troso.

Dampak Ekonomi UMKM untuk Jawa Tengah

UMKM adalah tulang punggung ekonomi Jawa Tengah. Data menunjukkan, UMKM menyumbang 61 persen PDB Jateng dan menyerap 85 persen tenaga kerja. Dari 5,8 juta unit usaha di Jateng, 99,7 persen adalah UMKM.

“Pemberdayaan UMKM bukan sekadar strategi ekonomi, tapi juga keadilan sosial. UMKM adalah jalan untuk pemerataan ekonomi,” ujar Gubernur Ahmad Luthfi.

BI sendiri punya target ambisius: 50 persen UMKM Jateng harus sudah go digital pada 2027. Saat ini baru sekitar 30 persen yang sudah go digital. Program UMKM Grande adalah salah satu akseleratornya.

Program Pendampingan Lanjutan

UMKM Grande bukan hanya pameran 5 hari. Setelah acara puncak, ada program pendampingan lanjutan selama 6 bulan:

  1. Coaching Clinic – Pertemuan rutin setiap bulan untuk evaluasi dan pengembangan usaha.
  1. Access to Funding – Pendampingan untuk mendapatkan pendanaan, mulai dari KUR hingga investasi.
  1. Market Expansion – Bantuan untuk membuka pasar baru, termasuk ekspor.
  1. Quality Improvement – Pendampingan untuk peningkatan kualitas produk dan standarisasi.
  1. Networking – Pembentukan komunitas UMKM untuk saling mendukung.

“Kami tidak lepas tangan setelah pameran. Pendampingan lanjutan adalah komitmen kami,” tegas Rahmat.

Apresiasi dan Dukungan

Pameran UMKM Grande 2026 mendapat apresiasi dari banyak pihak. Dekranasda Jateng, misalnya, menyatakan dukungannya penuh. “Ini adalah panggung yang tepat untuk UMKM. Kami siap berkolaborasi untuk pengembangan selanjutnya,” ujar Ketua Dekranasda Jateng.

Kementerian Koperasi dan UKM juga memberikan dukungan. “UMKM Grande adalah model pameran yang ideal. Kami akan replikasi di provinsi lain,” kata Menteri Teten Masduki.

Penutup

UMKM Grande 2026 bukan hanya pameran 5 hari, tapi titik awal perjalanan panjang UMKM Jawa Tengah menuju pentas global. Dengan kombinasi pembinaan, pameran, dan pendampingan lanjutan, UMKM Grande menjadi inkubator bisnis yang efektif.

Ke depan, kita berharap semakin banyak UMKM Indonesia yang tidak hanya berjualan di pasar lokal, tapi juga di rak-rak supermarket dunia. Produk Indonesia, karya anak bangsa, berkualitas ekspor. Mari kita dukung bersama.

Untuk informasi lebih lanjut tentang UMKM Grande dan program pembinaan BI, pantau website bi.go.id dan Instagram @bi_jateng.

Pentingnya Event Seperti UMKM Grande

UMKM Grande adalah jenis event yang sangat dibutuhkan UMKM. Mengapa? Karena ada beberapa manfaat langsung yang jarang didapat dari event lain:

  1. Akses Pasar – UMKM bisa langsung bertemu buyer, baik lokal maupun internasional. Tidak perlu menunggu lama untuk menemukan pasar baru.
  1. Eksposur Media – Liputan media yang luas memperkenalkan UMKM ke publik yang lebih besar. Pelanggan baru bisa datang dari pembaca media.
  1. Networking – UMKM bisa bertemu dengan UMKM lain, supplier, distributor, dan bahkan investor. Peluang kolaborasi terbuka lebar.
  1. Validasi Produk – Umpan balik langsung dari konsumen sangat berharga untuk perbaikan produk.
  1. Pelatihan dan Edukasi – Sesi coaching clinic dan workshop memberikan pengetahuan baru yang praktis.

Cerita Inspiratif dari Tenant

Beberapa tenant UMKM Grande 2026 punya cerita inspiratif yang layak dicontoh:

  1. Dapur Mbak Tin (57) – Berjualan kue putu sejak 1995. Awalnya jualan keliling, sekarang punya 12 karyawan dan outlet di 5 kota. “Saya sering menangis waktu ditolak bank untuk KUR. Tapi BI yang akhirnya membina dan mendanai saya,” kisahnya.
  1. Mochi Maharani (32) – Generasi kedua yang melanjutkan bisnis mochi buatan ibunya. Dengan branding yang modern, sekarang omzetnya naik 5x lipat. “Saya pakai TikTok dan Instagram untuk promosi. Sekarang banyak reseller di luar kota,” ujarnya.
  1. Batik Parang Rusak (45) – UMKM batik asal Solo yang sekarang ekspor ke 12 negara. “Kuncinya konsisten jaga kualitas dan mau terus belajar,” kata Pak Slamet, pendiri.
  1. Tas Anyaman Pandan Lestari (50) – Dikelola oleh ibu-ibu PKK, menghasilkan tas anyaman pandan yang diekspor ke Eropa. “Dari semula cuma buat tikar, sekarang jadi tas branded,” kata Bu Jumiati.
  1. Kopi Petani Temanggung (38) – Kopi robusta dari petani Temanggung yang diolah menjadi specialty coffee. “Dulu jual ke tengkulak dengan harga murah, sekarang ekspor langsung ke Jepang,” ujar Pak Supri.

Pelajaran dari UMKM Besar

UMKM Grande 2026 juga mengundang beberapa founder UMKM yang sudah sukses besar untuk berbagi pengalaman. Beberapa yang hadir:

  • William Tanuwijaya (Tokopedia) – Membagikan tips go digital untuk UMKM
  • Achmad Zaky (Bukalapak, ex-CEO) – Berbicara tentang pendanaan UMKM
  • Hiro Whardana (Kopi Kenangan) – Sharing journey dari nol menjadi unicorn

Sesi-sesi sharing ini mendapat antusiasme tinggi. Ratusan peserta UMKM memadati ruangan untuk menyerap ilmu.

Tantangan UMKM ke Depan

Beberapa tantangan UMKM ke depan yang perlu diantisipasi:

  1. Digitalisasi – Masih banyak UMKM yang gagap teknologi. Butuh pendampingan berkelanjutan.
  1. Standarisasi – Produk UMKM sering tidak memenuhi standar ekspor. Perlu pelatihan quality control.
  1. Branding – Kemasan dan branding masih lemah. Harus ada investasi di desain.
  1. Pendanaan – Akses ke permodalan masih sulit. Bank masih dianggap “musuh” oleh sebagian UMKM.
  1. Regenerasi – Banyak UMKM tidak punya penerus. Anak muda lebih memilih kerja di perusahaan besar.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi, tapi juga paling rentan. Kita harus lindungi dan berdayakan mereka,” tegas Gubernur Luthfi.

Penutup


Disusun oleh: Tim Redaksi YukTalk.id

Ikuti Instagram @yuk.talk untuk update berita terkini