Dikutip dari TRIBUNJATENG.COM, Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi, Kabupaten Tegal, telah dimulai sejak 10 Februari dan akan mencapai puncaknya pada Maret mendatang. Perayaan tahun ini memiliki nuansa yang sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan yang juga sedang dijalani oleh umat Muslim.
Kondisi tersebut membuat sejumlah agenda kegiatan disesuaikan agar tetap menghormati masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Meski demikian, berbagai ritual penting dalam tradisi Imlek tetap dilaksanakan dengan khidmat oleh umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa yang datang untuk berdoa di kelenteng tersebut, termasuk Prosesi Gotong Toapekong yang menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan.
Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi sendiri merupakan salah satu tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan budaya Tionghoa yang cukup dikenal di Kabupaten Tegal. Setiap tahunnya, kelenteng ini menjadi lokasi berbagai ritual keagamaan dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan Imlek, Cap Go Meh, hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.
Pada tahun ini, perayaan Imlek memasuki Shio Kuda Api yang dalam kepercayaan Tionghoa memiliki makna simbolis yang kuat. Shio Kuda dikenal sebagai lambang energi, semangat, dan pergerakan yang cepat, sementara unsur api melambangkan keberanian, kekuatan, serta tekad dalam menghadapi perubahan.
Tahun Kuda Api diyakini membawa semangat baru bagi banyak orang untuk mengambil langkah besar dalam kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Namun demikian, energi yang besar tersebut juga diingatkan perlu diimbangi dengan kebijaksanaan agar tidak menimbulkan keputusan yang terlalu tergesa-gesa.
Dalam filosofi Tionghoa, keseimbangan antara energi yang kuat dan pengendalian diri dianggap penting agar perjalanan sepanjang tahun dapat berlangsung dengan lebih harmonis. Oleh karena itu, berbagai doa dan ritual yang dilakukan selama perayaan Imlek juga bertujuan memohon keseimbangan, perlindungan, serta keberkahan bagi masyarakat.
Prosesi Disesuaikan karena Bertepatan dengan Ramadan
Ketua Yayasan Adhi Dharma Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi, Indra Kurniawan, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini diselenggarakan secara lebih sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Menurutnya, pihak kelenteng berupaya menjaga suasana perayaan agar tetap berlangsung dengan tertib tanpa mengganggu kegiatan ibadah umat Muslim di sekitar wilayah tersebut.
Salah satu ritual utama yang tetap dilaksanakan adalah Prosesi Gotong Toapekong. Tradisi ini merupakan bagian penting dari rangkaian perayaan Imlek di berbagai kelenteng Tionghoa di Indonesia.
Dalam tradisi tersebut, patung dewa atau yang disebut Toapekong diarak menggunakan tandu oleh para umat sebagai simbol penghormatan serta permohonan berkah bagi masyarakat. Prosesi Gotong Toapekong biasanya dilakukan dengan penuh semangat dan diiringi oleh berbagai unsur budaya seperti tabuhan musik tradisional serta doa-doa dari para pemuka agama.
Namun pada tahun ini, prosesi tersebut tidak dilakukan dengan arak-arakan besar seperti biasanya. Prosesi Gotong Toapekong hanya dilaksanakan di area halaman kelenteng dan tidak keluar ke jalan umum.
Indra Kurniawan menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan situasi yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Dengan membatasi prosesi di lingkungan kelenteng, diharapkan kegiatan tetap berjalan dengan khidmat tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar.
Prosesi gotong Toapekong dijadwalkan berlangsung setelah salat tarawih, yaitu mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Penyesuaian waktu ini juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah malam selama bulan Ramadan.
Selain itu, jumlah tandu yang diarak juga dibatasi. Dalam pelaksanaan tahun ini hanya terdapat dua tandu yang digunakan dalam prosesi tersebut.
Tandu pertama membawa patung Dewa tuan rumah, yaitu Kongco Hok Tek Ceng Sin yang dipercaya sebagai dewa pelindung serta pembawa keberkahan. Sementara tandu kedua membawa satu dewa pendamping yang ditentukan oleh bagian peribadatan kelenteng.
Para umat yang terlibat dalam Prosesi Gotong Toapekong biasanya mengenakan pakaian tradisional serta mengikuti ritual doa sebelum dan sesudah pengangkatan tandu. Prosesi tersebut berlangsung dengan penuh rasa hormat dan kekhusyukan sebagai bentuk pengabdian kepada para dewa yang dihormati dalam tradisi tersebut.
Tradisi yang Biasanya Meriah
Pada tahun-tahun sebelumnya, Prosesi Gotong Toapekong di Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi dikenal berlangsung cukup meriah dan menjadi salah satu daya tarik budaya di Kabupaten Tegal.
Arak-arakan biasanya dilakukan dengan mengelilingi beberapa ruas jalan di sekitar kelenteng. Rute prosesi mencakup empat penjuru arah, yaitu sisi utara, selatan, timur, dan barat dari kawasan kelenteng.
Kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh umat yang beribadah di kelenteng, tetapi juga disaksikan oleh masyarakat umum yang ingin melihat langsung tradisi budaya Tionghoa tersebut.
Selain arak-arakan tandu dewa, prosesi biasanya juga diiringi oleh berbagai pertunjukan seni tradisional seperti barongsai dan liong. Suasana perayaan menjadi semakin semarak dengan hadirnya lampion-lampion merah serta dekorasi khas Imlek yang menghiasi area kelenteng dan jalan-jalan di sekitarnya.
Namun pada tahun ini, sebagian besar rangkaian tersebut tidak digelar demi menjaga suasana yang lebih tenang selama Ramadan.
Meski demikian, para pengurus kelenteng memastikan bahwa nilai spiritual dari Prosesi Gotong Toapekong tetap terjaga meskipun dilakukan dalam skala yang lebih sederhana.
Simbol Toleransi dan Kebersamaan
Pelaksanaan perayaan Imlek yang bertepatan dengan Ramadan juga menjadi simbol penting bagi kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Tegal.
Penyesuaian yang dilakukan oleh pengurus kelenteng menunjukkan adanya sikap saling menghormati antara berbagai komunitas yang hidup berdampingan di daerah tersebut.
Selama ini, masyarakat di sekitar Kelenteng Hok Ie Kiong dikenal memiliki hubungan sosial yang cukup harmonis meskipun berasal dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda.
Momentum perayaan Imlek yang berlangsung bersamaan dengan Ramadan justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan nilai toleransi yang telah lama dijaga oleh masyarakat setempat.
Indra Kurniawan mengatakan bahwa pihak kelenteng selalu berupaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan juga mempertimbangkan kondisi sosial yang ada.
Menurutnya, tradisi dan ibadah dapat berjalan berdampingan selama dilandasi dengan sikap saling menghormati dan memahami.
Harapan untuk Kabupaten Tegal
Selain menjadi perayaan budaya, momentum Imlek juga dimanfaatkan untuk menyampaikan doa dan harapan bagi masyarakat luas.
Pengurus Kelenteng Hok Ie Kiong berharap tahun Kuda Api membawa energi positif bagi Kabupaten Tegal, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi belakangan ini.
Beberapa waktu terakhir, sejumlah wilayah di Kabupaten Tegal mengalami berbagai bencana alam seperti tanah bergerak, banjir, serta peristiwa yang terjadi di kawasan wisata Guci.
Melalui rangkaian doa dalam perayaan Imlek serta Prosesi Gotong Toapekong, para umat memohon perlindungan agar masyarakat dapat terhindar dari bencana serta diberikan keselamatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain itu, harapan juga disampaikan agar kondisi ekonomi masyarakat dapat semakin membaik pada tahun ini.
Energi simbolis dari tahun Kuda Api diharapkan dapat membawa semangat baru bagi masyarakat untuk bangkit dan menghadapi berbagai tantangan dengan lebih optimistis.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan
Meski digelar secara lebih sederhana, Prosesi Gotong Toapekong di Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi tetap menjadi simbol penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi budaya Tionghoa di daerah tersebut.
Bagi para umat, ritual tersebut bukan sekadar acara seremonial, melainkan bagian dari praktik spiritual yang memiliki makna mendalam.
Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya merupakan bagian dari kekayaan masyarakat Indonesia yang perlu dijaga bersama.
Dengan adanya penyesuaian yang dilakukan pada tahun ini, Prosesi Gotong Toapekong tetap dapat berlangsung dengan khidmat sekaligus menunjukkan sikap saling menghormati antarumat beragama.
Melalui semangat kebersamaan tersebut, diharapkan tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun dapat terus dilestarikan oleh generasi berikutnya.
Perayaan Imlek 2026 di Kelenteng Hok Ie Kiong Slawi pun diharapkan tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol harmoni sosial yang memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Tegal.







