Kirim Artikel

Kemiskinan dan Pendidikan: 2 Anak Cerdas di Desa Tanpa Privilege Gagal Raih Mimpi

Kemiskinan dan Pendidikan
Kemiskinan dan Pendidikan

Dikutip dari MOJOK.CO – Menjadi anak yang pintar dan berprestasi di sekolah ternyata tidak selalu berujung pada masa depan yang cerah, terutama bagi mereka yang lahir dalam keluarga miskin di desa tanpa dukungan pendidikan dari orang tua. Bagi dua narasumber Mojok, sebut saja Janna (26) dan Iskan (28), kecerdasan yang mereka miliki justru terasa sia-sia karena keadaan hidup memaksa mereka menjauh dari cita-cita.

Anak Berprestasi di Tengah Kemiskinan dan Pendidikan yang Terbatas

Janna dan Iskan menunjukkan berbagai sertifikat serta bukti prestasi akademik yang pernah mereka raih sejak SD hingga SMA. Keduanya mengingat masa ketika mereka dikenal sebagai siswa berprestasi di sekolah masing-masing.

Janna dikenal sebagai siswi unggulan yang kerap mewakili sekolah dalam berbagai olimpiade akademik. Saat SMA, ia hampir selalu menempati peringkat pertama di jurusan IPS.

Sementara itu, Iskan yang mengambil jurusan IPA sangat menyukai pelajaran Fisika dan Kimia. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu antusias saat praktikum, dengan nilai akademik yang juga sangat baik.

Kemiskinan dan Pendidikan Tak Menghalangi Prestasi Janna

Namun, kepintaran mereka tumbuh tanpa banyak dukungan dari keluarga. Keduanya berasal dari desa kecil di Jawa Tengah dan hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Orang tua mereka hanya mampu menyekolahkan anak sebatas mengikuti kebiasaan masyarakat sekitar, tanpa benar-benar memberi perhatian lebih terhadap pendidikan.

Iskan mengaku keluarganya tidak memiliki cukup uang untuk memberikan les tambahan. Selain itu, orang tuanya yang berpendidikan rendah juga tidak mampu membimbingnya belajar di rumah. Karena itu, ia harus belajar secara mandiri agar tetap berprestasi.

Janna pun sering merasa iri melihat teman-temannya yang mendapat penghargaan dari orang tua ketika meraih prestasi. Berbeda dengannya, setiap kemenangan lomba atau pencapaian akademik yang ia raih berlalu begitu saja tanpa apresiasi dari keluarga.

Sebagai siswa berprestasi, keduanya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka bahkan aktif berkonsultasi dengan guru BK mengenai jurusan kuliah dan peluang beasiswa.

Guru Janna sangat yakin bahwa ia memiliki peluang besar untuk diterima di universitas ternama karena prestasinya. Hal itu sempat membuat Janna sangat bersemangat mengejar pendidikan tinggi.

Sayangnya, harapan tersebut tidak mendapat dukungan dari keluarganya. Orang tua Janna beranggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi. Menurut mereka, lulus SMA sudah cukup. Akibatnya, Janna hanya bisa menerima keputusan itu sambil memendam kesedihan.

Di sisi lain, Iskan juga harus mengubur impiannya untuk kuliah. Selain karena keterbatasan ekonomi keluarga, ia juga dibebani pandangan bahwa laki-laki harus segera bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan dari keluarga miskin di desa sama-sama memiliki keterbatasan besar dalam mengejar pendidikan tinggi.

Setelah lulus SMA, Janna justru dipaksa menikah oleh orang tuanya agar beban ekonomi keluarga berkurang. Ia masih mengingat bagaimana dirinya hanya bisa duduk pasrah di pelaminan sementara orang-orang di sekitarnya merayakan hari yang justru membuatnya terluka.

Setelah menikah, kehidupan Janna dipenuhi pekerjaan rumah tangga. Hari-harinya hanya berkutat pada urusan domestik seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.

Ketika memiliki anak, kondisi emosional Janna justru semakin memburuk. Ia sempat mengalami baby blues dan merasa kehidupannya semakin jauh dari impian yang dulu ingin ia capai.

Ia mengaku hingga kini masih sering bertanya-tanya mengapa dirinya yang dahulu dikenal sebagai siswa berprestasi harus menjalani hidup seperti sekarang.

Sementara itu, Iskan setelah lulus SMA harus bekerja serabutan demi membantu ekonomi keluarga. Ia pernah menjadi buruh kasar hingga bekerja menggali sumur.

Penghasilannya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk membantu biaya pendidikan adiknya sebagai bentuk tanggung jawab kepada keluarga.

Meski gagal kuliah, Iskan tetap berusaha memuaskan rasa hausnya terhadap ilmu pengetahuan. Ia sering berbincang dengan mahasiswa dari desanya untuk mengetahui kehidupan kampus dan materi yang mereka pelajari.

Ia juga gemar meminjam buku kuliah serta membaca tulisan-tulisan ilmiah dan opini di media online agar tetap mendapatkan wawasan baru.

Namun di balik itu semua, Iskan sering merasa kecewa terhadap nasibnya. Ia percaya bahwa jika terlahir dengan kondisi ekonomi yang lebih baik, ia mungkin bisa meraih lebih banyak kesempatan.

Kini, ia hanya bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa sambil tetap bekerja keras demi bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi.

Masalah kemiskinan dan pendidikan masih menjadi hambatan besar bagi banyak anak di desa. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit sering membuat akses pendidikan terhenti, bahkan ketika anak tersebut memiliki prestasi akademik yang tinggi.

Kisah Janna dan Iskan menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan dan pendidikan masih menjadi masalah nyata di banyak desa. Banyak anak berprestasi kehilangan kesempatan meraih masa depan lebih baik karena kemiskinan dan pendidikan yang belum merata.