Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Heboh! Monyet Sukorejo Semarang Serbu Rumah Warga, Ratusan Ekor Datang Lagi

monyet Sukorejo Semarang kembali membuat warga RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, waspada. Minggu (26/7/2026) siang, ketua RT Kunjaeri menyebut rombongan monyet yang jumlahnya bisa ratusan ekor datang tiba-tiba dan sempat masuk rumah serta pos ronda.

Kenapa monyet Sukorejo Semarang muncul lagi?

monyet Sukorejo Semarang di pos ronda Kalialang Baru
Pos ronda RT 3/RW 7 Sukorejo, lokasi yang sering didatangi monyet. (detikJateng)

Kampung yang sama sempat didatangi gerombolan monyet pada April 2026. Kunjaeri mengatakan, sekitar seminggu setelah kunjungan media ke lokasi 27 April, monyet sempat muncul lagi di belakang pekarangan, lalu lama hilang karena hujan terus. Kini saat cuaca lebih panas, kawanan itu kembali. Ia menduga satwa kelaparan dan haus, terutama siang pukul 11.00 sampai 13.00 WIB.

“Jadi, monyet itu datang tiba-tiba. Ada mungkin ratusan,” kata Kunjaeri saat dihubungi, Selasa (28/7/2026). Ia belum memastikan apakah monyet Sukorejo Semarang sempat mengambil makanan di dalam rumah. Yang jelas, warga sempat mengejar kawanan di pos ronda dan rumah; monyet lari ke atap lalu kabur.

Jebakan BKSDA dan pola ganggu monyet Sukorejo Semarang

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah sempat memasang perangkap kandang berisi makanan di kampung itu sekitar dua bulan sebelum laporan terbaru. Karena monyet tidak datang sekitar dua pekan, kandang diambil kembali. “Kemarin sempat didatangi dari BKSDA, dikasih kandang juga. Setelah datang kandangnya monyetnya nggak datang. Kandangnya diambil lagi setelah dua minggu monyetnya nggak datang,” ujar Kunjaeri.

Pada episode April, Kunjaeri menyebut satu kelompok bisa 50 hingga 100 ekor. Gangguan yang dikeluhkan warga antara lain monyet di atap genting mencari makan dan mengacak-acak sampah. Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jateng, Nova Indri Hapsari, saat itu menjelaskan penanganan jangka pendek meliputi sosialisasi, edukasi, dan pemasangan jebakan.

Pola monyet Sukorejo Semarang yang berulang dari April ke akhir Juli 2026 menunjukkan masalahnya belum selesai hanya dengan jebakan sementara. Warga perlu menjaga sampah tertutup, mengurangi makanan terbuka di luar rumah, dan melapor ke RT serta BKSDA jika kawanan besar kembali. Mengejar satwa liar tetap berisiko; prioritas adalah keamanan warga, terutama anak-anak di sekitar pos ronda.

Secara geografis, Sukorejo di Gunungpati berbatasan dengan area yang masih memiliki vegetasi, sehingga pergerakan primata ke permukiman bukan hal baru. Ketika musim hujan, Kunjaeri mengaitkan monyet lebih jarang muncul di pekarangan. Saat kemarau dan siang panas, frekuensi mendekati rumah dan pos ronda meningkat karena haus dan lapar. Observasi warga soal jam 11.00-13.00 bisa jadi acuan untuk memperketat pengawasan siang hari.

Yang belum tersedia di laporan terbaru adalah konfirmasi BKSDA atas kedatangan monyet Sukorejo Semarang pada 26 Juli 2026, jumlah pasti ekor, dan rencana jebakan baru. Data yang ada mengandalkan kesaksian ketua RT dan rekam jejak April. YukTalk tidak menambahkan angka atau kutipan di luar sumber. Jika BKSDA kembali memasang kandang, warga diimbau tidak mengganggu perangkat jebakan dan melapor lewat saluran resmi.

Bagi pembaca di Kota Semarang, isu satwa liar di tepi hutan kota berkaitan dengan tata ruang dan pengelolaan sampah. Tutup tempat sampah, jangan memberi makan monyet, dan hindari kontak langsung. Koordinasi RT, kelurahan, dan BKSDA Jateng tetap jalur penanganan yang disebut dalam liputan sebelumnya. Pantau juga berita kota lain di YukTalk Semarang.

Langkah praktis di tingkat rumah tangga: simpan buah di dalam, rapikan sisa makanan, periksa genting jika mendengar bunyi siang hari, dan kumpulkan laporan tetangga sebelum menghubungi BKSDA. Jangan menggunakan kekerasan terhadap satwa. Edukasi yang pernah disampaikan BKSDA soal jebakan dan sosialisasi tetap relevan sampai ada penanganan jangka panjang, misalnya pemantauan habitat atau relokasi terukur jika kelak ditetapkan otoritas terkait.

Historis April 2026 membantu memahami bahwa ini bukan serangan sekali jalan. Setelah media datang 27 April, monyet sempat kembali seminggu kemudian di belakang pekarangan, lalu mereda saat hujan. Siklus itu terulang saat cuaca panas. Warga yang sudah terbiasa melihat 50-100 ekor per kelompok akan lebih cepat mengenali tanda-tanda kedatangan, misalnya kerumunan di atap atau sampah yang berantakan.

Pos ronda RT 3/RW 7 menjadi titik rawan karena terbuka dan sering ada sisa makanan atau aktivitas manusia. Kunjaeri menyebut monyet yang haus dan lapar biasanya ke pos atau rumah warga. Ketika dikejar, pola larinya ke atap menunjukkan satwa memanfaatkan struktur rumah sebagai jalur kabur. Mitigasi di pos ronda, misalnya merapikan sisa konsumsi ronda malam, bisa mengurangi daya tarik.

Dikutip dari sumber: detik.com