Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Viral Praktik Dokter Tanpa Dokter di Semarang: Pasien Bayar, Obat Tetap Keluar

Foto Ilustrasi. Dok: Pexels (Felipe Queiroz)

Semarang – Praktik dokter tanpa dokter di Semarang kembali jadi perbincangan setelah sebuah unggahan di media sosial menyebut seorang dokter spesialis kulit yang sudah meninggal masih seolah melayani pasien. Tempat praktik yang mengatasnamakan dr Agus Sukamto SpKK itu berada di Jalan Kaligarang Raya, Barusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Di depan pintu masuk apotek, tulisan “Praktek Dokter” masih terpasang, berdampingan dengan stiker bertuliskan “dr Agus Sukamto SpKK Praktek Pagi: 08.00-09.00 Sore: 16.00-19.00” serta papan nama “Apotek Besen Kaligarang”.

Informasi ini pertama kali mencuat dari unggahan akun X (dulu Twitter) bernama Kang Bahar pada 20 September 2026. Unggahan itu menampilkan berita lelayu seorang dokter spesialis kulit dan kelamin alumni PPDS FK Undip angkatan 1986. Dalam narasinya, disebutkan seorang dokter kulit senior telah meninggal, tetapi para pasiennya tidak mengetahui hal itu. Banyak pasien masih datang dan bertemu asistennya.

Menurut narasi yang beredar, asisten itu memberi alasan bahwa dokternya masih sakit. Kondisi kulit pasien lantas dipotret, lalu pasien dijanjikan hasil kiriman foto tersebut ke dokter beserta obatnya. Pembayaran dilakukan kepada orang yang melayani, bukan kepada dokter yang bersangkutan.

Kronologi Viral Praktik Dokter Tanpa Dokter di Semarang

Berita duka atas meninggalnya dr Agus Sukamto Sp.KK juga pernah disampaikan Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro melalui akun Instagram @ika_medica. Unggahan itu sudah ada sejak 30 Juni 2025 dan menyebut almarhum sebagai Alumni PPDS FK Undip Angkatan 86.

Modus yang digambarkan dalam informasi yang beredar cukup sederhana. Pasien tidak pernah bertemu langsung dengan dokter. Orang yang melayani di tempat itu beralasan dokter sedang sakit atau berada di ruang lain. Kondisi kulit pasien kemudian didokumentasikan memakai kamera ponsel, dan foto itu disebut dikirim ke dokter untuk memperoleh diagnosis. Setelah itu, pasien menerima obat dan membayar kepada orang yang melayaninya. Pola inilah yang membuat istilah praktik dokter tanpa dokter menempel pada kasus ini.

Rangkaian peristiwanya sendiri membentang lebih dari setahun. Dokter Agus Sukamto meninggal pada Juni 2025, sementara berita duka melalui akun Instagram @ika_medica diunggah sejak 30 Juni 2025. Informasi soal tempat praktik yang masih berjalan baru mencuat dari unggahan akun X pada 20 September 2026. Polisi lalu menyatakan akan mengecek informasi dari media sosial tersebut pada 24 September 2026, atau Kamis pekan ini.

Saat ditelusuri, kondisi tempat praktik itu kini jauh berbeda. Apotek tampak sepi, etalase kosong, dan sedang dibersihkan. Seorang juru parkir di lokasi menyebut sudah lama tidak ada pasien yang datang. Menurutnya, apotek mulai tutup sekitar dua sampai tiga hari sebelumnya. Ia juga membenarkan kabar bahwa sang dokter telah wafat sejak tahun lalu.

Seorang perempuan penjaga apotek bernama Suci menyatakan apotek sudah tutup dan para penjaga bersama pemilik sedang menata barang. “Sudah tutup. Ini mau beres-beres, mau diangkat-angkati,” kata Suci. Ia juga membenarkan kabar dokter sudah meninggal sejak tahun lalu. “Sudah meninggal,” ujarnya. Ketika ditanya soal dokter yang praktik, Suci menegaskan, “Ndak ada, ndak ada dokternya.”

Suci menambahkan bahwa pelanggan sudah tidak ada lagi. “Kan sudah ndak ada pelangnya, pasiennya kan juga nggak periksa sini, nggak ada dokternya juga,” katanya. Ruang tunggu dan tempat duduk pasien di lokasi itu pun sudah tidak ada.

Praktik Dokter Tanpa Dokter, Pasien Baru Tahu Setelah Dokter Meninggal

Seorang pasien berinisial NH (31) mengaku pernah mendatangi tempat praktik itu beberapa bulan lalu. Ia berkonsultasi sekitar sepekan sebelum Lebaran 2026. Saat itu, ia hanya bertemu dengan apoteker yang menyampaikan bahwa dokternya baru selesai operasi sehingga belum bisa praktik. NH mengaku tidak tahu pasti apakah orang yang melayaninya seorang asisten dokter atau apoteker.

NH tidak menerima resep. Ia hanya diberi salep dalam wadah berbentuk tabung yang disebut sebagai salep dokter Agus. Ia baru mengetahui bahwa dokter sudah meninggal pada Sabtu, 12 September 2026, setelah membaca balasan seorang dokter spesialis dermatologi venereologi dan estetika di Threads. NH mengaku kaget karena sebelumnya mengira dokternya benar-benar baru selesai operasi. Ia tidak merasa dirugikan sampai mau menempuh jalur hukum, hanya tidak ingin kembali ke tempat itu.

Jejak Ulasan Warga di Google Maps

Penelusuran Tribun lewat Google Maps menemukan sebuah apotek di Jalan Kaligarang, Semarang Selatan, yang di kaca pintunya terpasang poster praktik dengan nama dokter tersebut. Seorang pengelola akun Google bernama Putri Selfitri menulis ulasan bahwa almarhum dokter Agus sudah meninggal sejak 2025, tetapi setiap ada pasien datang dikatakan cukup difoto saja.

Pengguna lain bernama Wahyu Kzu menyebut dokter Agus meninggal pada 2025 setelah lama sakit dan meminta masyarakat tidak mempercayai klinik yang masih memakai nama almarhum. Sementara pengguna bernama Subroto Xing mengaku pernah berobat di tempat itu dan menduga dokter sudah tidak praktik. Ada juga lokasi lain dengan nama dokter yang sama di sekitar Jalan Kaligarang, tetapi hanya berupa satu bagian ruko yang sudah tutup.

Respons Polisi soal Praktik Dokter Tanpa Dokter di Semarang

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Andika Dharma Sena menyatakan belum ada laporan terkait hal itu. “Belum ada laporan terkait ini. Kita akan cek dulu info dari medsos ini,” kata Andika. Hingga Kamis, 24 September 2026, belum ada satu pun aduan yang masuk dari warga ataupun pasien yang mengaku dirugikan.

Praktik Dokter Tanpa Dokter dan Sorotan pada Layanan Kesehatan

Kasus ini menyita perhatian publik karena menyangkut layanan kesehatan yang seharusnya dijalankan seorang dokter. Praktik dokter tanpa dokter juga memunculkan pertanyaan soal pengawasan terhadap tempat praktik dan apotek yang memakai nama tenaga medis. Persoalan serupa pernah dibahas YukTalk dalam artikel soal kebutuhan dokter di Jawa Tengah yang krusial dengan rasio 0,47, yang menunjukkan betapa pentingnya keberadaan tenaga medis di daerah.

Hingga kini, tempat praktik yang mengatasnamakan dr Agus Sukamto SpKK itu belum lagi melayani pasien. Tulisan “Praktek Dokter” yang masih menempel di depan pintu menjadi pengingat bahwa praktik dokter tanpa dokter bisa berjalan cukup lama tanpa diketahui pasien. Sejumlah media, termasuk detik.com dan tribunnews.com, masih menelusuri kasus ini.

Dikutip dari sumber: detik.com | tribunnews.com