Semarang – Selembar salinan peta Semarang 1695 dibentangkan di hadapan warga Pandansari, Kota Semarang. Garis-garis di peta itu menggambarkan wajah Semarang lebih dari tiga abad silam, dan memunculkan temuan menarik soal nama Terboyo.
Peta itu menjadi salah satu materi dalam acara Pajatan Budaya Swara Kesadaran yang digelar LPMK dan Karang Taruna Pandansari, Sabtu (8/8/2026) malam. Warga tidak sekadar melihat gambar kota masa lalu, tetapi diajak menggunakan arsip untuk membuka percakapan tentang sejarah, identitas, dan bagaimana masyarakat memahami dirinya sendiri.
Bukhori Masruri, Tenaga Ahli Pemugaran Cagar Budaya, Komunitas Edukasi Museum, sekaligus penulis buku Benantara, Temu Sejarah, dan Kelanamasa, menyebut akses masyarakat terhadap arsip sejarah masih menjadi persoalan. Selama ini sejarah lebih sering sampai ke masyarakat dalam bentuk cerita yang sudah ditafsirkan.
Nama Terboyo Sudah Ada di Peta Semarang 1695
Peta yang diperlihatkan merupakan koleksi National Archives dan dibuat Meyndert de Roy. Dari peta Semarang 1695 itu, Bukhori menemukan sedikitnya dua hal menarik. Pertama, nama Terboyo ternyata sudah tercatat pada 1695. Temuan ini menarik karena narasi Terboyo selama ini kerap dikaitkan dengan Kanjeng Terboyo Suryadi Menggolo V yang hidup sekitar 1700-an.
Kedua, gambaran Semarang sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok etnis. Keberadaan berbagai kelompok masyarakat yang hidup berdampingan sejak masa lalu menunjukkan toleransi merupakan bagian dari sejarah panjang Kota Semarang. Arsip seperti peta ini bisa menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana masyarakat Semarang terbentuk.
Arsip Dibawa Pulang ke Ingatan Warga
Bagi Bukhori, arsip tidak seharusnya hanya tersimpan di lembaga kearsipan. Ketika dibawa ke kelurahan atau kampung, arsip bisa berubah menjadi bahan percakapan lintas generasi. Anak-anak, anak muda, hingga orang tua dapat membicarakan bagaimana lingkungan mereka terbentuk dan dari mana identitas mereka berasal.
Jamal, Arsiparis ISI Surakarta, menilai pembangunan kebudayaan selama ini terkadang terlalu mekanik dan formalistik. Masyarakat semestinya punya ruang mengenali, merawat, sekaligus mendefinisikan kebudayaannya sendiri. Di tengah agenda tersebut, warga juga menikmati tarian Dugderan dan Gambang Semarang, sajian puisi, dan bernyanyi bersama lagu Iwan Fals. Ruang kegiatan dihiasi karya seni wajah sejumlah tokoh, dari Soekarno hingga Prabowo, serta sosok Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Pandansari sendiri merupakan kelurahan di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, yang padat permukiman. Pemilihan lokasi di halaman kantor kelurahan membuat kegiatan lebih dekat dengan warga. Diskusi semacam ini diharapkan memicu rasa memiliki warga terhadap sejarah lingkungan tempat mereka tinggal.
Dalam peta Semarang 1695 itu, nama-nama tempat yang masih bertahan hingga kini perlahan muncul dari lembar reproduksi. Terboyo yang kini dikenal sebagai kawasan pergudangan dan pelabuhan, ternyata punya jejak panjang sejak era kolonial. Hal itu memperkaya pemahaman publik tentang dinamika Kota Semarang di masa lalu.
Kegiatan Pajatan Budaya Swara Kesadaran juga menghadirkan ekspresi budaya yang masih hidup, seperti tarian Dugderan dan Gambang Semarang. Perpaduan antara kajian arsip dan pentas seni membuat warga menikmati sejarah dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan. Anak-anak pun ikut mengenal budaya lokal sejak dini.
Kisah lengkapnya bisa dibaca di Tribunjateng.com.
Kegiatan semacam ini menjadi contoh bagaimana arsip bisa dihadirkan ke ruang publik. Lembaga kearsipan selama ini identik dengan dokumen yang tersimpan rapat di gedung penyimpanan. Padahal, arsip punya nilai edukasi yang besar ketika dibuka untuk masyarakat umum, seperti yang dilakukan di Pandansari ini.
Masyarakat perkampungan yang sulit mengakses arsip sejarah kini bisa melihat langsung bukti visual masa lalu Kota Semarang. Kehadiran tokoh-tokoh dalam perjalanan sejarah Indonesia di ruang kegiatan juga memperkaya suasana diskusi. Semua elemen itu membuat peta Semarang 1695 lebih dari sekadar lembar kertas tua.
Upaya membawa arsip ke tengah masyarakat seperti ini sejalan dengan semangat pelestarian sejarah yang inklusif. Setiap warga berhak mengenal asal-usul lingkungannya tanpa harus menjadi peneliti. Kegiatan di Pandansari membuktikan bahwa sejarah bisa menjadi milik bersama, bukan hanya milik segelintir pihak.
Baca juga: Tari Dug Dug Der Massal Semarang dan Prabowo Resmikan Stasiun Tawang Semarang.
Dikutip dari sumber: tribunnews.com

