Kirim Artikel

Dipa Yustia Sukses Rebut Hati 200 Anak Semarang Lewat Program YUKTALK Berbudaya

YUKTALK Berbudaya

SEMARANG – Tak sekadar janji, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Dipa Yustia membuktikan komitmennya dalam melestarikan budaya melalui program YUKTALK Berbudaya Batch 1. Melalui program ini, Dipa Yustia mengirimkan pelatih tari secara gratis ke berbagai wilayah di Kota Semarang sebagai upaya memperluas akses pendidikan seni dan budaya bagi masyarakat.

Sebanyak 200 anak mengikuti YUKTALK Berbudaya Batch 1. Peserta tersebar di 16 wilayah Kota Semarang, yaitu Semarang Barat, Semarang Timur, Semarang Tengah, Semarang Selatan, Semarang Utara, Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Genuk, Pedurungan, Candisari, Gajahmungkur, Gayamsari, Ngaliyan, Mijen, dan Tugu. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni tidak hanya dibutuhkan di satu kawasan, tetapi juga mendapat ruang di berbagai lingkungan masyarakat.

YUKTALK Berbudaya Membuka Akses Tari Gratis

Program YUKTALK Berbudaya dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan warga. Pelatih tari hadir di titik-titik kegiatan yang telah ditentukan sehingga anak-anak dapat belajar di lingkungan yang lebih mudah dijangkau. Pola ini juga memberi kesempatan kepada sanggar, sekolah, komunitas, dan kelompok masyarakat untuk mengembangkan kegiatan seni secara bersama-sama.

Bagi peserta, latihan tari menjadi ruang untuk mengenal gerak, irama, koordinasi, dan kedisiplinan. Setiap materi dipelajari secara bertahap melalui latihan kelompok. Anak-anak tidak hanya mengikuti instruksi pelatih, tetapi juga belajar menjaga kekompakan, memperhatikan tempo, dan menyesuaikan gerakan dengan peserta lain.

Kehadiran pelatih secara gratis menjadi bagian penting dari program tersebut. Akses terhadap pendidikan seni sering kali dipengaruhi oleh ketersediaan pelatih dan biaya latihan. Dengan menghadirkan pendamping langsung ke berbagai wilayah, YUKTALK Berbudaya berupaya membuat kesempatan belajar budaya dapat dirasakan lebih banyak keluarga di Kota Semarang.

200 Anak Semarang Terlibat dalam Pelestarian Budaya

Angka 200 peserta memperlihatkan besarnya minat anak-anak terhadap kegiatan seni dan budaya. Mereka berasal dari wilayah yang memiliki karakter lingkungan berbeda-beda, tetapi dipertemukan oleh kesempatan untuk belajar tari. Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kebudayaan agar tetap hidup di tengah generasi muda.

Dipa Yustia mengatakan budaya harus terus diwariskan melalui kegiatan yang dapat diakses oleh semua kalangan. Menurut dia, budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dipelajari dan dipraktikkan secara langsung.

“Kami ingin budaya tidak hanya dikenang, tetapi dipelajari dan dipraktikkan. Karena itu YUKTALK Berbudaya hadir dengan mengirimkan pelatih tari secara gratis agar anak-anak dan generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk belajar serta mencintai budaya Indonesia,” ujar Dipa Yustia.

Pesan tersebut menempatkan latihan seni sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Ketika anak-anak berlatih secara rutin, mereka belajar mengikuti aturan, menyelesaikan rangkaian gerak, dan menghargai kerja sama. Nilai-nilai itu tumbuh bersamaan dengan pengenalan terhadap seni budaya Indonesia.

Kolaborasi Sanggar, Sekolah, dan Komunitas

YUKTALK Berbudaya juga berfungsi sebagai ruang kolaborasi. Pelaku seni dapat berbagi pengetahuan dengan sekolah, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi semacam ini penting karena pelestarian budaya tidak dapat berjalan hanya melalui satu pihak. Sanggar membutuhkan dukungan lingkungan, sementara anak-anak memerlukan ruang yang aman untuk belajar dan tampil.

Setiap wilayah memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan masing-masing. Sekolah dapat menjadikan latihan sebagai kegiatan pendukung, sanggar dapat memperkuat pembinaan peserta, dan komunitas dapat membantu menghidupkan kegiatan budaya di lingkungan warga. Pertemuan berbagai unsur tersebut membuat program memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar latihan tari.

Antusiasme peserta menjadi tanda bahwa kegiatan pelestarian budaya masih relevan bagi masyarakat perkotaan. Anak-anak membutuhkan aktivitas yang memperkenalkan identitas budaya dengan cara yang menyenangkan, terarah, dan dekat dengan kehidupan mereka. YUKTALK Berbudaya menjawab kebutuhan itu melalui pelatihan langsung dan terbuka.

Ke depan, Dipa Yustia berkomitmen memperluas jangkauan program agar semakin banyak anak dan masyarakat di Kota Semarang memperoleh pelatihan seni secara gratis. Perluasan tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem budaya lokal sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut merawat warisan bangsa.

Informasi mengenai kegiatan dan sosok penggagas program dapat diikuti melalui Instagram Dipa Yustia. Pembaca juga dapat melihat program secara lengkap di artikel YUKTALK Berbudaya Batch 1 sebelumnya.