Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Mangrove Tambak Mulyo: Ibu-Ibu Tanjung Mas Menanam 1.000 Bibit Penahan Rob

Mangrove
Foto Mangrove. Dok: Pexels (Alexey Demidov)

Semarang – Mangrove Tambak Mulyo kembali ditanam di tepian pesisir RW 15, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Sebanyak 1.000 bibit ditanam warga bersama PLN Indonesia Power UBP Semarang dan sejumlah media pada Rabu, 17 September 2026. Batangnya masih kecil dan belum rimbun, ditanam satu per satu di tanah berlumpur, lalu diberi penyangga supaya tidak rebah diterjang gelombang. Bagi warga, kegiatan ini bukan sekadar seremoni penghijauan, melainkan cara mereka menjaga kampung dari air pasang yang datang setiap tahun.

Penanaman itu menjadi cara warga membaca masa depan kampungnya. Rini Setiawati, 41 tahun, warga RT 04 RW 15, bercerita rumahnya pernah kerendam rob sampai selutut lebih. “Rumah saya itu pernah kerendam sampai selutut lebih,” katanya. Dulu hampir setiap malam ia khawatir air laut masuk ke rumah, sementara jalan kampung licin berlumut begitu air pasang datang.

“Memang belum bisa kami rasakan sekarang, mungkin anak cucu kami yang bisa merasakan,” ujar Rini. Ia juga menyadari tembok penahan tidak bisa menjadi satu-satunya andalan. “Tanggul tembok tidak mungkin untuk selamanya bisa menahan air pasang,” tuturnya. Dari situ ia menilai penghijauan pesisir perlu jalan terus, meski hasilnya baru terlihat jauh di depan.

Ketua RT 02 RW 15 yang juga Ketua PKK RT, Ujiati, mengingat kawasan RW 15 sampai menuju pesisir dulu sangat gersang dan nyaris tanpa penghijauan. Kondisi itu membuat warga setempat menyambut baik upaya penghijauan lewat penanaman mangrove di kawasan mereka. Penghijauan lewat mangrove Tambak Mulyo pun dianggap jalan yang paling masuk akal untuk mengembalikan fungsi alami pesisir.

Mangrove Tambak Mulyo Disebut Lebih Kuat daripada Tanggul

Warga Tambakmulyo RT 04/RW XV, Dewi Setiyorini, mengingat air laut dulu masuk rumah hingga setinggi paha. Situasi berubah setelah ada sheet pile atau tanggul laut setinggi sekitar tiga meter. “Dulu rumah saya yang ada di sana pasti terendam banjir. Cuma sejak ada sheet pile ini air laut sudah tidak pernah masuk ke kampung,” katanya. Meski begitu, warga tidak ingin berhenti di tanggul beton. Mangrove Tambak Mulyo ditanam bersama KWT Cantik Bahari sejak lima tahun terakhir. Menurut Dewi, akar mangrove kuat menahan angin kencang dan gelombang pasang setelah tumbuh sekitar tujuh bulan.

Anggota KWT Cantik Bahari, Eti Prasetyani, mendapat jatah menanam sepanjang 500 meter. Ia berharap mangrove Tambak Mulyo yang tumbuh subur kelak bisa menggantikan fungsi sheet pile dalam menahan abrasi. Cara menanamnya sederhana, tanah berlumpur dilubangi beberapa senti, lalu bibit ditegakkan dengan bantuan bilah bambu sebagai penyangga. Setiap lubang diisi satu bibit dan pengerjaannya dilakukan bergotong royong dari satu titik ke titik berikutnya.

Pendamping dari Lembaga Usaha Buruh Tani dan Nelayan (LPUBTN), Nindya Dwi Fosa, menjelaskan pendampingan di kawasan ini bukan soal menyediakan infrastruktur, melainkan mengubah pola perilaku masyarakat. Warga ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan objek. Karena itu, warga awalnya sempat menolak lantaran terbiasa dengan pola bantuan sarana dan prasarana. Tiga hal yang terus didorong adalah pendidikan, swadaya, dan solidaritas, agar perawatan tanaman tetap jalan setelah kegiatan seremonial selesai.

Manajer Administrasi PT PLN Indonesia Power UBP Semarang, Eva Wirabuana, menyebut kegiatan itu berkolaborasi dengan KWT Cantik Bahari RW 15 lewat program Intan Bahari, singkatan dari Integrasi Pertanian, Peternakan dan Olahan Ikan Bangun Ketahanan Pangan dan Alam Lestari. Program penghijauan tersebut tidak berdiri sendiri. PLN Indonesia Power menanam mangrove di sejumlah wilayah Semarang sejak 2022 dengan total 15.000 pohon. Angka itu merupakan akumulasi program yang tersebar di banyak titik, sementara penanaman mangrove Tambak Mulyo pada 17 September menyumbang 1.000 bibit.

Ketua RW XV, Slamet Riyanto, menyebut mangrove yang ditanam bersama PLN Indonesia Power di wilayahnya mencakup 3 sampai 4 hektare, dengan jumlah 15 ribu pohon sejak 2022. Menurutnya, luasan itu menjadi bagian dari upaya mengembalikan fungsi alami garis pantai di sisi utara kampung.

Rob dan Penurunan Muka Tanah di Semarang Utara

Pemerintah Kota Semarang mencatat kawasan pesisir mangrove Tambak Mulyo masuk wilayah gersang, rawan bencana, dan terancam rob. Penurunan muka tanah di kawasan itu berkisar 10 sentimeter per tahun, salah satu faktor yang membuat air laut lebih mudah masuk ke permukiman. Pada 2024, luas wilayah terdampak rob di Kota Semarang mencapai 406,27 hektare atau sekitar 1,09 persen dari luas kota. Angka tersebut menggambarkan skala kota, bukan hanya RW 15.

Persoalan rob di kawasan mangrove Tambak Mulyo juga bukan barang baru. Pada Juli 2026, BBWS Pemali Juana bersama Pemerintah Kota Semarang menangani genangan di Tambak Mulyo atau Tambak Lorok. Genangan berkaitan dengan rembesan air laut di sejumlah titik tanggul dan kondisi drainase. Penanganan memakai dua mobile pump berkapasitas masing-masing 500 liter per detik, pemasangan geobag, pengukuran elevasi saluran, pengerukan sedimen, dan pembenahan drainase.

Di RW 15, inisiatif warga berjalan lewat beberapa kelompok. KWT Cantik Bahari menggarap pertanian dan penghijauan, mulai dari greenhouse, hidroponik, aquaponik, irigasi tetes, kompos, sampai eco enzyme. KSM Tangguh Bahari fokus pada penanganan rob dengan program One Family One Mangrove yang mengajak tiap keluarga ikut merawat mangrove Tambak Mulyo, sedangkan KSM Bahari menangani air bersih, penurunan muka tanah, dan pemanenan air hujan.

Sejumlah persoalan lain masih mengintai. Sampah dari pengunjung destinasi wisata kampung bahari kerap menumpuk di dekat area mangrove, sehingga warga memasang spanduk larangan membuang sampah. Pendekatan warga yang menggabungkan penghijauan dan pengelolaan lingkungan sejalan dengan upaya lain di Semarang, seperti yang pernah diulas di artikel lain YukTalk.id.

Bagi warga, mangrove Tambak Mulyo bukan sekadar proyek penghijauan. Tanaman itu adalah tabungan jangka panjang, cara menahan air pasang tanpa harus terus menambah beton, sekaligus harapan yang mereka titipkan kepada generasi berikutnya. Rini menyebut anak cucunya sebagai pihak yang paling mungkin merasakan manfaatnya, dan itu cukup menjadi alasan untuk tetap menanam meski hasilnya belum bisa dipetik hari ini.

Dikutip dari sumber: tribunnews.com | idntimes.com