Semarang – Penduduk kota semarang tercatat 1.703.799 jiwa berdasarkan rilis Data Kependudukan Semester I Tahun 2026 dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Semarang per 30 Juni 2026. Angka tersebut menjadi potret terbaru sebuah kota seluas 373,70 kilometer persegi yang terbagi menjadi 16 kecamatan dan 177 kelurahan, sekaligus menegaskan bahwa jumlah warga yang harus dilayani setiap hari kini sudah melewati ambang 1,7 juta jiwa.
Rilis itu berbeda tipis dari proyeksi Badan Pusat Statistik yang dirangkum dalam statistik PPID Kota Semarang yang terbit 12 Maret 2026. BPS memproyeksikan jumlah penduduk Kota Semarang pada 2025 mencapai 1.722.421 jiwa. Selisih keduanya lahir dari metode pencatatan yang tidak sama, bukan dari perbedaan arah pertumbuhan. Laporan Suara Merdeka pada 30 Juni 2026 mencatat data administrasi kependudukan hingga akhir 2025 berada di kisaran 1,70 juta jiwa, sementara proyeksi pertengahan 2025 berada di angka sekitar 1,72 juta jiwa.
Penduduk Kota Semarang Tembus 1,7 Juta Jiwa
Dispendukcapil menyebut data kependudukan menjadi dasar perencanaan dan penyelenggaraan program pelayanan publik. Karena itu, angka penduduk Kota Semarang bukan sekadar laporan administratif, melainkan acuan untuk memperkirakan kebutuhan layanan warga setiap hari, mulai dari sekolah dan pusat kesehatan hingga ruang terbuka, jaringan air bersih, dan angkutan umum. Rincian lima kecamatan terbesar bisa dibaca pada rilis Dispendukcapil Kota Semarang.
Lima Kecamatan dengan Penduduk Kota Semarang Terbanyak
Rilis yang sama menempatkan Pedurungan sebagai kecamatan dengan penduduk terbanyak, yaitu 200.028 jiwa. Di bawahnya menyusul Tembalang dengan 196.267 jiwa, Semarang Barat 151.256 jiwa, Banyumanik 145.923 jiwa, dan Ngaliyan 144.634 jiwa. Lima wilayah itu menampung bagian besar penduduk Kota Semarang dan menjadi kantong hunian utama di luar pusat kota.
Konsentrasi tersebut memperlihatkan pola sebaran yang tidak merata. Data PPID Kota Semarang mencatat kepadatan rata-rata 4.608 jiwa per kilometer persegi. Kecamatan Semarang Timur menjadi wilayah paling padat dengan 12.266 jiwa per kilometer persegi, sedangkan Tugu paling lengang dengan 1.222 jiwa per kilometer persegi. Jarak angka keduanya menggambarkan betapa timpang tekanan penduduk di dalam satu wilayah kota.
Perbedaan itu penting dibaca. Wilayah berkepadatan tinggi menuntut pasokan air, pengelolaan sampah, drainase, dan angkutan umum yang lebih besar, sedangkan wilayah berpenduduk jarang menghadapi persoalan lain, seperti kebutuhan memperluas jangkauan layanan. Bagi pengelola kota, keduanya sama-sama memerlukan perhatian.
Laporan Suara Merdeka menyebut kepadatan penduduk sekitar 4.600 jiwa per kilometer persegi. Kecamatan seperti Semarang Tengah, Semarang Selatan, Candisari, dan Gayamsari jauh lebih padat daripada wilayah pinggiran seperti Mijen atau Tugu. Pola semacam itu lazim muncul ketika aktivitas ekonomi dan layanan publik terkonsentrasi di pusat kota. Karena itu, pembangunan permukiman dan jaringan layanan di wilayah pinggiran menjadi bagian penting dari agenda kota.
Statistik yang sama mencatat rasio jenis kelamin 97,80, artinya jumlah perempuan melebihi laki-laki. Laju pertumbuhan penduduk Kota Semarang rata-rata 0,86 persen per tahun pada periode 2020 sampai 2025. Laju itu relatif terkendali, tetapi dalam hitungan tahunan tetap menambah jumlah warga yang harus dilayani. Setiap tambahan membawa implikasi pada kebutuhan ruang hunian, air bersih, sanitasi, transportasi, dan lapangan kerja.
Mengapa Penduduk Kota Semarang Terus Bertambah
Dari sisi ketenagakerjaan, angkatan kerja menyerap 994.994 jiwa. Tingkat Kesempatan Kerja mencapai 94,35 persen atau 938.766 jiwa yang aktif bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka 5,65 persen atau 56.228 jiwa, dan kelompok ini didominasi lulusan SMA sebesar 46,84 persen. Komposisi itu memperlihatkan bahwa pasar kerja kota masih menampung sebagian besar pencari kerja, meski lulusan sekolah menengah atas menjadi bagian terbesar yang belum terserap.
Beberapa faktor bekerja bersamaan. Posisi sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah menjadikan kota ini pusat kegiatan pemerintahan dan ekonomi. Banyak perguruan tinggi menarik mahasiswa dari berbagai daerah. Kawasan industri dan perdagangan terus berkembang, sementara infrastruktur makin lengkap melalui jalan tol, pelabuhan, bandara, dan transportasi publik. Urbanisasi dari kabupaten sekitar melengkapi dorongan pertumbuhan penduduk Kota Semarang. Semua faktor itu saling menguatkan dan membuat arus perpindahan warga ke kota ini cenderung stabil dari tahun ke tahun.
Sebaran aktivitas mengikuti bentuk wilayah. Bagian utara berupa dataran rendah yang menjadi pusat perdagangan, pelabuhan, dan kawasan industri. Wilayah selatan seperti Banyumanik, Gunungpati, dan Mijen berada di dataran tinggi dengan udara lebih sejuk. Ikon wisata seperti Kota Lama, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan Pantai Marina turut membentuk identitas kota yang dikenal luas, sekaligus menambah daya tarik bagi pendatang.
Status buruh, karyawan, atau pegawai mendominasi angkatan kerja yang terserap dengan porsi 61,36 persen, disusul pekerja yang berusaha sendiri 20,45 persen. Sektor jasa menyediakan lapangan kerja terbesar. Upah Minimum Kota Semarang tahun 2026 ditetapkan Rp 3.701.709 atau naik 7,15 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan itu menjadi penanda bahwa biaya hidup dan tuntutan kesejahteraan pekerja ikut bergerak seiring pertumbuhan kota. Data lengkapnya tersedia di statistik PPID Kota Semarang.
Kombinasi jumlah warga yang besar dan luas wilayah yang terbatas membuat pengelolaan kota menuntut perencanaan yang rapi. Pemerintah kota perlu memastikan layanan publik menjangkau seluruh kelurahan, termasuk wilayah pinggiran yang pertumbuhannya lebih lambat. Data kependudukan yang diperbarui berkala menjadi alat penting untuk membaca kebutuhan itu, termasuk saat menyusun anggaran dan program pembangunan. Pembagian 16 kecamatan dan 177 kelurahan menjadi kerangka kerja layanan tersebut, sehingga pemerataan layanan menjadi kata kunci.
Bagi penduduk Kota Semarang, deretan angka tersebut bukan sekadar bahan laporan tahunan. Jumlah 1.703.799 jiwa menuntut kesiapan layanan publik, ruang hunian, transportasi, dan lapangan kerja yang tumbuh secepat warganya. Perbedaan metode pencatatan antara data administrasi dan proyeksi juga mengingatkan bahwa pembacaan statistik perlu cermat agar kebijakan tidak salah sasaran. Ulasan soal perkotaan dan data kependudukan daerah lain bisa dibaca di YukTalk.
Dikutip dari sumber: semarangkota.go.id | suaramerdeka.com

