Semarang – Akulturasi budaya semarang bukan cerita baru. Jejaknya terbentuk sejak abad ke-17, ketika kota pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa ini menjadi tempat bertemu masyarakat Jawa, Tionghoa, Arab, Melayu, dan Eropa. Semarang kini ibu kota Jawa Tengah, dan posisinya di jalur perdagangan pesisir membentuk karakternya sebagai ruang multikultural. Warisannya masih terbaca lewat permukiman dan tempat ibadah.
Kota Benteng dan Pemukiman Berdasarkan Etnis
David Bulbeck dalam Chinese Economic Activity in Netherlands India menyebut pemukiman berdasarkan etnis ditetapkan pada 1672. Golongan Eropa ditempatkan di Semarang atas yang kini menjadi kawasan Candi, sedangkan pemukiman etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa dipusatkan di dalam benteng yang dikuasai militer kolonial. Pusat pemerintahan kolonial itu dikenal sebagai Kota Benteng, kini Kota Lama Semarang.
Kota Benteng dulu dikelilingi tembok dan parit lebar untuk memisahkan permukiman antar etnis. Wijanarka dalam buku Semarang Tempo Dulu menyebut empat pintu masuk, yaitu Gouvernements Burg atau Societeit Burg di dekat Jembatan Berok, de Cost Port, de Punt Amsterdam, dan de Tawangs Punt, serta lima menara pemantau. Pemisahan ruang itu tidak menghapus pergaulan warga, dan dari situ akulturasi budaya semarang tumbuh dengan pola khas.
Dari Simongan ke Pecinan Kota Semarang
Leo Suryadinata dalam buku Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia menyebut kampung Pecinan hadir ketika tangsi militer kolonial didirikan di tepi timur muara Kali Semarang. Pertengahan abad ke-17 pemerintah kolonial menguasai kapal yang masuk Kali Semarang dan memungut pajak, memicu gesekan dengan warga Tionghoa di Simongan yang juga memakai transportasi sungai. Perlawanan mereka berakhir dengan pengibaran bendera putih, lalu warga dipindahkan ke sisi timur sungai dekat tangsi militer agar mudah diawasi. Dari situ lahir Pecinan Kota Semarang, simpul awal akulturasi budaya semarang.
Kawasan Pecinan kini menjadi sentra perdagangan. Ruko berjajar dari Jalan KH Wahid Hasyim hingga Jalan Gang Warung, Semarang Tengah, sementara gang kecil jadi permukiman sekaligus tempat berbisnis warga Tionghoa. Di dalam benteng, etnis Tionghoa hidup di tiga penjuru, yakni Pecinan Lor, Pecinan Kidul, dan Pecinan Kulon, dengan Pecinan Lor sebagai penghubung ke Pasar Padamaran dan wilayah luar benteng.
Sejumlah nama gang berubah dari bahasa Tionghoa. Gang Mangkok sebelumnya Oa-kee, Gang Belakang sebelumnya Say-kee, Gang Cilik sebelumnya Hoay-kee, dan Gang Lombok sebelumnya Kang-kee karena dulu banyak tanaman lombok. Pada akhir abad ke-17 rumah berarsitektur Tionghoa mulai dibangun di Gang Warung dan Gang Pinggir, dan sejumlah klenteng dibangun sebagai penanda kawasan. Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya mencatat sejak 1695 penduduk Tionghoa di Semarang terbesar di Jawa, dan Pecinan Semarang punya 8 kelenteng, penanda kuat akulturasi budaya semarang.
Pemerhati budaya Semarang, Asrida Ulinuha, menilai pengelompokan pemukiman justru membuat Pecinan menjadi kawasan multikultural. Sinergi antar etnis terjalin sejak abad ke-17 hingga sekarang, dan salah satu bentuk akulturasinya adalah Lontong Cap Go Meh. Warga Gang Baru, Sumarjo, mengenang saat Imlek 1977 masyarakat Tionghoa disuguhi wayang oleh warga Jawa. Saat Idul Fitri dan Natal, warga Tionghoa juga mendatangi rumah warga yang merayakan.
Ulasan sejarah soal pergeseran kawasan ini ada pada catatan SinPo.id tentang Pecinan Semarang. Dari sana terlihat tata ruang kolonial, arus dagang, dan kehidupan warga berjalan bersamaan, sehingga akulturasi budaya semarang tumbuh dari kebiasaan di gang dan pasar.
Akulturasi Budaya Semarang di Tempat Ibadah dan Bangunan Tua
Armada Laksamana Zheng He atau Cheng Ho disebut singgah di Simongan pada 1405, berkaitan dengan kompleks Sam Poo Kong atau Gedung Batu. Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Lama berkembang sebagai pusat perdagangan dengan jaringan jalan, kantor, dan fasilitas transportasi bergaya kolonial. Kota Lama berada di sekitar Jalan Letjen Suprapto, Semarang Utara, dan satu jalan utamanya dahulu berada di lingkungan benteng Vijfhoek.
Jejak Eropa tampak pada Gereja Blenduk di Kota Lama yang dibangun pada 1753 dan menjadi salah satu gereja tua di Indonesia. Ada pula Lawang Sewu, kantor pusat perusahaan kereta api swasta NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) yang dibangun sejak 1904 dan rampung 1907, dengan tambahan hingga sekitar 1918. Namanya berasal dari bahasa Jawa yang berarti seribu pintu.
Jejak Arab muncul lewat Masjid Jami Pekojan di Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. Masjid itu termasuk tertua di Semarang dan dibangun pada abad ke-19, dengan arsitektur yang memadukan pengaruh Gujarat, China, Melayu, Eropa, dan Jawa. Kampung Pekojan dihuni tiga etnis dalam satu kampung, yaitu Tionghoa, Khoja, dan Jawa. Kawasan Jalan Petek dan Jalan Layur di Semarang Utara lama menjadi permukiman warga keturunan Arab, dengan Masjid Menara Layur dari abad ke-18 sebagai penandanya.
Jejak Jawa terlihat dari Kampung Kauman di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang, masjid bergaya arsitektur Jawa yang peletakan batu pertamanya pada 1743 dan rampung 1749. Perpaduan bangunan ibadah empat tradisi itu bukti akulturasi budaya semarang berlangsung di ruang publik.
Gambang Semarang dan Kawasan Pecinan yang Terus Hidup
Semarang dikenal sebagai tempat bermukim banyak etnis, seperti Eropa, Arab, Tionghoa, dan Melayu, sehingga terjadi proses akulturasi. Salah satunya Gambang Semarang, kesenian musik tradisional kerakyatan yang menggabungkan musik, vokal, tari, dan lawak, sekaligus wujud akulturasi budaya semarang yang paling dikenal. Kesenian itu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2018 sesuai SK Mendikbud RI. Lagu Gambang Semarang digagas Lie Hoo Soen, anggota Volksraad yang juga anggota organisasi seni Krido Handoyo, dan turunan Gambang Kromong Betawi yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Instrumen Tionghoa seperti kongahyan, tekhian, sukhong, krenceng, terompet kecil, alat musik gesek, dan suling dipadukan dengan instrumen Jawa seperti bonang, gambang, dan gong. Busana penyanyi dan penarinya memakai kebaya bordir dan sarung pesisiran, sehingga nuansa Jawa dan China terlihat jelas. Gambang Semarang biasa dipentaskan pada perayaan tahun baru China di klenteng, pernikahan, khitanan, karnaval, dan Dugderan.
Budaya Semarang juga lahir dari akulturasi, antara lain Warak Ngendhog dan tradisi Dugderan menjelang Ramadan, Batik Semarangan dengan Sentra Batik Rejomulyo yang memiliki lebih dari 25 gerai, serta lumpia Semarang berbahan rebung dan telur dengan variasi ayam dan udang. Jejak kulinernya ada di Kranggan, Gang Lombok, dan koridor oleh-oleh Jalan Pandanaran.
Deretan peristiwa itu menegaskan akulturasi budaya semarang bukan sisa masa lalu yang dipajang di museum. Ia hidup di klenteng yang menampung pertunjukan wayang, di masjid berkubah gaya Gujarat, di gereja tua di Kota Lama, dan di gang Pecinan yang kini dikelola warganya sendiri. Pembahasan soal kota dan budaya daerah lain juga pernah diulas di YukTalk. Bagi warga Semarang, keragaman itu bukan beban, melainkan modal yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Dikutip dari sumber: sinpo.id | indonesia.travel | espos.id | rri.co.id

