Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Heboh! Suhu Panas Semarang Tembus 37,1 Derajat, Air Keran Warga Jadi Mendidih

suhu semarang panas
Dok. Pexels (Matheus Bertelli)

Semarang – suhu panas Semarang menyita perhatian publik setelah pengukuran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyentuh 37,1 derajat Celsius. Angka itu menempatkan Kota Semarang dalam jajaran wilayah dengan suhu maksimum tertinggi di Indonesia sepanjang September 2026. Laporan pertama soal kondisi ini muncul pada Senin, 28 September 2026, sekitar pukul 13.07 WIB dan langsung menjadi perbincangan warga.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Icky, membenarkan bahwa kota ini termasuk salah satu wilayah dengan pengukuran suhu paling tinggi. “Betul (Kota Semarang) menjadi salah satu wilayah dengan pengukuran suhu tertinggi,” kata Icky. Ia kemudian memaparkan detail angka yang tercatat pada alat ukur stasiun tersebut. “Hasil pengukuran suhu maksimum pada tanggal 25 September 2026 mencapai 37,1,” ujarnya.

Menurut Icky, September 2026 berada di urutan kedua sebagai bulan dengan suhu maksimum tertinggi yang pernah tercatat di Semarang. Artinya, capaian bulan ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan bagian dari pola cuaca yang bertahan cukup lama. Karena itu BMKG mengingatkan warga akan bahaya kebakaran hutan dan lahan. “Terutama di wilayah dengan vegetasi kering,” tutur Icky. Peringatan itu disampaikan menyusul kondisi terik yang bertahan pada rentang tinggi selama beberapa hari terakhir.

Suhu panas Semarang Capai 37,1 Derajat Celsius

Angka 37,1 derajat Celsius merupakan hasil pengukuran suhu maksimum pada 25 September 2026. Catatan tersebut membuat suhu panas Semarang disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Tanah Air pada periode akhir September. Sejumlah warga mengaku merasakan udara yang lebih menyengat dibanding hari hari biasa, terutama pada jam jam tengah hari ketika sinar matahari berada di posisi paling tegak.

Perbandingan data antardaerah memperlihatkan bahwa suhu panas Semarang memang berada di kelompok atas. Radar Semarang melaporkan pengamatan BMKG pada 27 September 2026 mencatat suhu Semarang 36,0 derajat Celsius. Angka itu berbeda dari capaian 37,1 derajat Celsius pada 25 September 2026. Pada pengamatan yang sama, suhu tertinggi nasional berada di Lampung Utara dengan 37,4 derajat Celsius.

Dua catatan itu menunjukkan bagaimana suhu di satu kota bisa bergerak dari hari ke hari. Pengukuran 25 September menghasilkan angka 37,1 derajat Celsius, sedangkan pengamatan 27 September berada di 36,0 derajat Celsius. Selisih lebih dari satu derajat dalam rentang dua hari menjelaskan mengapa laporan cuaca perlu dibaca dengan memperhatikan tanggal pengukurannya. Kedua angka itu sama sama sah karena berasal dari waktu pengamatan yang berbeda.

BMKG memprakirakan suhu maksimum di 14 wilayah Jawa Tengah berpotensi menyentuh 36 derajat Celsius pada Senin, 28 September 2026, dengan Kota Semarang ikut masuk daftar tersebut. Prakiraan itu berlaku pada rentang pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Untuk Semarang dan sekitarnya, cuaca pagi hingga siang diprakirakan cerah sampai cerah berawan, sedangkan suhu udara berada di kisaran 27 sampai 36 derajat Celsius dengan kelembapan 40 sampai 75 persen. Angin bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.

Suhu panas Semarang Bikin Air Keran Warga Menghangat

Dampak suhu panas Semarang tidak hanya terasa di jalanan. Di permukiman Jangli, Tembalang, air keran di rumah penduduk ikut menghangat pada siang hari. Via, salah satu warga, menyebut air yang dipakai berwudhu tetap terasa panas saat waktu zuhur dan asar. “Tadi dipakai wudhu dzuhur sama ashar aja masih panas. Nek maghrib ini mulai suhu normal,” katanya.

Via menduga panas air berasal dari pipa yang terpapar sinar matahari sepanjang siang. “Saat siang saja, karena pipanya kan kehantam matahari langsung, jadi otomatis jadi panas,” tuturnya. Menurutnya, air keran kembali terasa normal ketika matahari mulai turun dan suhu udara menurun. Pola itu sejalan dengan pengalaman warga lain yang mengeluh soal air yang menghangat hanya pada jam jam terik.

Keluhan serupa disampaikan Wulandari, warga Podorejo, Ngaliyan. Ia menyebut air keran di rumahnya baru kembali dingin ketika malam tiba. “Nanti kalau malam sudah tak panas lagi,” ujar Wulandari sambil berseloroh bahwa air keran itu seperti “pemanas air gratis”. Cerita warga ini memperlihatkan bagaimana suhu panas Semarang menyentuh perkara rumah tangga yang paling sederhana, mulai dari mencuci hingga bersuci.

Foto keran air di Podorejo itu diambil pada Senin, 28 September 2026. Gambar tersebut menampilkan bagaimana air dari keran tetap mengalir normal, namun suhunya jauh lebih hangat dari biasanya. Kondisi itu menjadi penanda konkret bahwa terik bukan hanya soal angka di layar, tetapi juga soal pengalaman sehari hari warga di permukiman.

Peristiwa air keran menghangat ini ramai dibahas warganet. Sebuah akun Instagram lokal, yang namanya disensor sumber sebagai @folk***, menulis, “Pantesan, panase semlenget. Tekan omah gelinyeng (Pantesan, panasnya menyengat. Sampai rumah pusing/kliyengan)”. Unggahan bernada kelakar itu menjadi penanda bahwa suhu panas Semarang dirasakan banyak orang, bukan hanya di satu kawasan tertentu saja.

Suhu panas Semarang dan Pantauan Suhu di Daerah Lain

Laporan yang sama menyebut periode 20 sampai 23 September suhu di sejumlah daerah menembus 37 derajat Celsius, meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung, dan Sulawesi Tenggara. Hari tanpa hujan ekstrem lebih dari 60 hari juga terpantau di sebagian Jawa bagian tengah dan timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Tenggara Timur. Kondisi kering itu membuat risiko kebakaran lahan meningkat di banyak wilayah, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Hari tanpa hujan yang panjang membuat bahan bakar alami di permukaan tanah menjadi mudah terbakar. Itulah alasan imbauan karhutla mencuat bersamaan dengan catatan suhu tinggi. Daerah dengan vegetasi yang mengering lebih rentan terhadap percikan api, baik dari aktivitas manusia maupun faktor lain. Karena itu peringatan BMKG menyasar wilayah dengan vegetasi kering, bukan hanya kawasan hutan.

BMKG terus memantau perkembangan suhu di wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang, menyusul catatan tertinggi pada akhir September. Masyarakat dapat memantau informasi resmi agar tidak keliru membaca angka yang beredar di media sosial. Dengan pemantauan berkala itu, suhu panas Semarang diharapkan bisa dipahami sebagai bagian dari pola cuaca musiman, bukan peristiwa tunggal yang berdiri sendiri.

Dikutip dari sumber: kompas.com | radarsemarang.jawapos.com