Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Viral! Dawet Lele Semarang dari Daging Ikan Bikin Anak Nangis Minta Nambah

Semarang – Dawet lele Semarang kembali mencuri perhatian warganet setelah sejumlah video memperlihatkan cendol gurih yang dibuat dari daging ikan lele. Minuman bernama Lelica itu digagas Endang Sriwati bersama kelompok UMKM dan Pokdakan Mina Candi 3, Kelurahan Candi, Kota Semarang. Inovasi ini hadir untuk menjawab persoalan klasik: banyak anak enggan makan ikan karena tidak tahan bau amis.

Melalui produk ini, Endang ingin mengubah citra ikan lele yang selama ini dianggap berbau lumpur. Ia menyebut, selama ini lele lebih sering diolah dengan cara digoreng sehingga rasanya cenderung itu-itu saja. Pendekatan berbeda ditempuh dengan mengubah lele menjadi minuman manis yang akrab dengan selera anak-anak. Cara itu dinilai lebih mudah diterima ketimbang memaksa anak menyantap ikan dalam bentuk lauk seperti biasa.

Kehadiran Lelica juga bukan sekadar tren sesaat. Produk ini menyasar pasar yang lebih luas, mulai dari konsumen rumahan hingga tempat makan. Semangatnya sederhana, yakni membuat olahan ikan terasa lebih ramah di lidah, khususnya bagi anak-anak yang belum terbiasa dengan rasa dan aroma ikan air tawar.

Dawet Lele Semarang, Solusi Anak yang Enggan Makan Ikan

Ide itu muncul dari kebiasaan anak-anak yang lebih menyukai rasa manis. “Kita berinovasi bagaimana caranya anak-anak yang tadinya enggak suka makan ikan jadi suka makan,” kata Endang. Sebelum meracik resep, ia mencari referensi terlebih dahulu. “Dulu kita tadinya mencoba itu lihat-lihat, browsing dulu, bagaimana anak-anak kalau bisa makan ikan tapi tetap tidak terasa amis,” ujarnya.

Dari penelusuran itu, ia menyimpulkan bahwa sumber utama aroma amis ada pada darah ikan. “Kita harus memproses amis itu dari darah lelenya. Kita bersihkan dulu,” ucap Endang. Setelah darah dibersihkan, daging lele diberi perasan jeruk nipis atau lemon bersama es batu. Es disebut membantu mengikat lemak, sedangkan jeruk berfungsi menekan bau amis yang biasa menempel pada ikan air tawar.

Tahap pembersihan ini disebut menjadi kunci. Tanpa proses itu, aroma amis akan terbawa hingga ke adonan sehingga hasilnya kurang sedap. Karena itu, Endang dan warga memilih mengerjakan bagian ini dengan teliti sebelum daging lele masuk ke tahap penggilingan.

Adonan cendol dawet lele Semarang dibuat dari tepung beras dan hunkue, bukan tapioka. Endang menegaskan, daging lele sengaja digiling kasar agar teksturnya tetap terasa saat disantap. Kuahnya sendiri memadukan santan, gula aren, dan susu evaporasi sehingga menghasilkan rasa manis gurih yang lembut. Kombinasi itu membuat sajian terasa seperti dawet pada umumnya, hanya saja ada sensasi tersendiri dari daging ikannya.

Pemilihan bahan juga diperhitungkan matang. Tepung beras dan hunkue dipilih karena memberi tekstur yang pas untuk cendol, sementara santan dan gula aren menghadirkan rasa manis alami yang tidak berlebihan. Sentuhan susu evaporasi membuat kuah terasa lebih gurih dan lembut ketika diminum.

Tekstur Khas Cendol Dawet Lele Semarang

Perbedaan paling mencolok ada pada cendolnya. “Kalau yang membedakan dari cendolnya ini ada tekstur daging lelenya. Kalau cendol lain kan lembut, kalau ini kami memang sengaja daging lelenya dihalusin agak kasar,” jelas Endang.

Tekstur kasar itu memang disengaja. Tujuannya agar penikmat tetap bisa merasakan keberadaan daging lele di dalam cendol. Dengan begitu, produk ini bukan hanya minuman manis biasa, melainkan cara menyantap ikan dengan pengalaman yang berbeda. Endang menilai, sensasi itulah yang membuat orang penasaran dan ingin mencoba lagi.

Awalnya, gagasan ini sempat menuai keraguan dari orang sekitar. Banyak yang mencibir karena menganggap lele pasti berbau amis dan tidak enak. “Dulu itu kita menghilangkan image orang-orang, ah lele pasti amis, enggak enak. Nyinyir dulu sebetulnya. Langsung kita coba dulu. Kalau belum coba kan kita belum ngerti rasanya seperti apa,” kenang Endang.

Keraguan itu sirna setelah mereka mencicipi langsung dawet lele Semarang. Reaksi anak-anak justru jadi bukti paling meyakinkan. “Anak-anak ini juga pada suka. Malah ada yang nangis minta lagi waktu itu,” kata Endang.

Sejumlah pemberitaan mengangkat kisah ini, termasuk yang dimuat di kuasakata.com dan indoraya.news. Menurut Endang, produk ini juga sejalan dengan program Gemar Makan Ikan. “Iya, kemungkinan itu juga karena kita pakainya mungkin selama ini cuma digoreng. Gemar makan ikan,” ujarnya.

Program tersebut mendorong warga untuk lebih sering menyajikan ikan dalam menu harian. Lewat olahan seperti cendol, ajakan itu dianggap lebih mudah diterima anak-anak. Endang melihat, pendekatan rasa menjadi jalan yang paling efektif untuk mengenalkan ikan sejak dini.

Dukungan itu membuat produk ini kian dikenal. Ketua Pokdakan Mina Candi 3, Agus Setyobudi, menyebut lele yang dipasok merupakan jenis Sangkuriang dan Mutiara. Pasokan tersebut ditujukan untuk pasar lokal, tempat makan, serta pemenuhan gizi warga. Jenis lele itu dinilai cocok untuk diolah menjadi berbagai produk, termasuk minuman cendol.

Dawet Lele Semarang Disajikan di Kunjungan Pejabat Daerah

Pada sejumlah kunjungan pejabat daerah, dawet lele Semarang disajikan sebagai sajian khas dan mendapat apresiasi. Momen itu menjadi kesempatan memperkenalkan olahan lele sekaligus memperkuat citra Candi sebagai kawasan penghasil lele. Penyajian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa produk olahan warga mampu tampil di forum yang lebih luas.

Endang juga menyinggung inovasi yang sudah lebih dulu ada, seperti lele marinasi dan sosis lele. Dari sederet produk itu, cendol dari daging lele disebut paling menarik perhatian anak-anak. Warga sekitar pun mulai melihat lele bukan sekadar lauk goreng. Beragam olahan itu menunjukkan bahwa lele bisa diubah menjadi banyak bentuk sajian yang berbeda.

Saat ini produksi dawet lele Semarang masih terbatas dan hanya melayani pesanan atau by order. Untuk harga, Endang menyebut produk ini dibanderol sekitar 1,5 kali dawet biasa. Angka itu dinilai masih terjangkau untuk ukuran minuman dengan tambahan protein ikan. Keterbatasan produksi itu membuat produk ini belum tersedia setiap hari di pasaran.

Semarang memang dikenal kaya cerita, mulai dari akulturasi budaya Semarang hingga fenomena tabebuya Jalan Madukoro yang sempat viral. Di tengah derasnya tren kuliner, dawet lele Semarang menawarkan pendekatan sederhana: mengubah bahan yang akrab menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Kota ini punya banyak cerita serupa, ketika warga mengolah bahan lokal menjadi produk yang bernilai tambah.

Bagi Endang, keberhasilan kecil ini cukup bermakna. Selama anak-anak mau makan ikan tanpa merasa amis, ia menilai apa yang dicoba bersama kelompok UMKM membuahkan hasil. Ke depan, ia berharap dawet lele Semarang semakin dikenal tanpa menghilangkan ciri khas rasanya. Konsistensi rasa menjadi hal yang ingin dijaga seiring bertambahnya peminat.

Dikutip dari sumber: kuasakata.com | indoraya.news