Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Asap TPA Jatibarang Sebar ke 5 Kecamatan, Udara Semarang Wajib Diwaspadai

Kepulan asap TPA Jatibarang Semarang membubung dari tumpukan sampah
Foto: Collab Media / Pexels

Semarang – Asap TPA Jatibarang menyebar ke sejumlah wilayah di lima kecamatan Kota Semarang setelah kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kecamatan Mijen berlangsung sejak Rabu malam, 30 September 2026. Pemerintah Kota Semarang menyebut lima kecamatan terdampak, yaitu Mijen, Ngaliyan, Gunungpati, Tugu, dan Semarang Barat. Hingga Jumat, 2 Oktober 2026, api belum benar-benar padam dan masih menyisakan titik-titik kecil yang terus mengeluarkan kepulan asap.

Warga di kawasan terdampak diminta mewaspadai risiko gangguan pernapasan. Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, menyatakan sejumlah wilayah di lima kecamatan itu terpapar kabut asap. Pemerintah menyiagakan puskesmas terdekat dan menyiapkan pembagian masker bagi warga. “Apabila tidak bisa, mohon menggunakan masker untuk mengurangi potensi ISPA,” imbau Handi. Sampai kini, belum ada laporan warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat paparan asap tersebut.

Sebaran asap TPA Jatibarang capai lima kecamatan

Kebakaran bermula di zona 1 lalu merembet ke zona 2 dan zona 3. Luas lahan yang terbakar mencapai 10 hektare. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Sih Rianung, mengatakan pihaknya berupaya melokalisir api agar tidak menyebar lebih jauh. “Yang terdampak hampir 10 hektare. Ini upaya kami melokalisir agar tidak menyebar,” kata Sih Rianung di lokasi. Kronologi lengkap soal luas area yang terbakar juga dimuat detik.com.

Sebaran asap TPA Jatibarang membuat petugas membendung sungai di sekitar lokasi sebagai pasokan air dan mengerahkan alat berat. Puluhan petugas dikerahkan ke titik-titik api yang tersebar. Tantri Pradono, pejabat bidang operasional dan penyelamatan Damkar Kota Semarang, menuturkan api sudah mulai mengecil, tetapi masih menyisakan titik kecil. “Masih terus kami lakukan penanangan. Sudah mulai padam tidak besar apinya yang tersisa hanya titik titik kecil. Tapi asapnya masih tebal, mengepul,” ujarnya.

Tantri menambahkan pemadaman memerlukan penyemprotan air hingga ke lapisan dalam tumpukan sampah. Menurutnya, proses itu butuh waktu dan jangka waktunya belum dapat dipastikan. “Jadi ini juga harus disemprot air sampai dalam-dalamnya, keseluruhan. Butuh proses, jangka waktunya belum tahu tapi kami terus usahakan, kami lakukan secepatnya. Mohon doa dari masyarakat,” ucapnya. Kandungan gas metana di lokasi disebut mulai berkurang, namun titik api yang tersebar membuat pemadaman berlangsung lama. Angin puting beliung yang sempat melintas juga membuat sampah plastik berhamburan di area kebakaran, seperti dilaporkan tribunnews.com.

Kondisi terkini asap TPA Jatibarang Semarang yang menyebar ke lima kecamatan
Foto: Collab Media / Pexels

Dampak asap TPA Jatibarang bagi kesehatan warga

Dinas Kesehatan Kota Semarang mengukur kualitas udara pada Kamis, 1 Oktober 2026, di dua titik, yakni SMAN 7 Semarang dan Kantor Kelurahan Bambankerep. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menyampaikan hasil pengukuran itu. SMAN 7 Semarang berjarak sekitar 1,9 kilometer dari TPA. Di titik itu, kadar sulfur dioksida tercatat 258,26 mikrogram per meter kubik.

Paparan asap TPA Jatibarang itu berada di atas ambang batas baku mutu udara ambien yang ditetapkan 150 mikrogram per meter kubik. Artinya, udara di lokasi pengukuran tidak memenuhi syarat kesehatan. Abdul Hakam merekomendasikan pemakaian masker, terutama bagi kelompok rentan, antara lain bayi, ibu hamil, warga lanjut usia, dan penderita komorbid. Puskesmas di sekitar TPA disiagakan untuk memantau dampak asap. Rincian pengukuran kualitas udara ini juga dilaporkan metrotvnews.com.

Warga merasakan langsung dampak asap TPA Jatibarang. Ardian Dwi Kurnia, warga sekitar, hingga pukul 08.30 masih mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Ia bahkan membawa baju ganti karena bau sangit menempel di pakaian. “Bau sangit, iya ada asap kabut tipis,” ujarnya. “Baunya nempel di baju, ini saya bawa baju ganti. Semoga bapak-bapak damkar tetap semangat dan dimudahkan tugasnya,” kata Ardian. Kesaksian warga ini pertama dilaporkan kumparan.com.

Dampak serupa dirasakan Puji Utami, warga Sadeng, Gunungpati. Meski rumahnya cukup jauh dari TPA, ia mengaku ikut terdampak. “Pagi ini kabut asap, lumayan tebal. Cukup menganggu. Indikator di air purifier saya juga merah,” kata Puji. Pengurus RT setempat meminta warga memakai masker, dan warga yang mengalami sesak napas diarahkan ke puskesmas. “Diinstruksikan kalau ada yang terdampak kabut sampai sesak nafas bisa langsung ke puskesmas,” jelasnya.

Sekolah terdampak asap TPA Jatibarang beralih daring

Kabut asap juga mengganggu kegiatan belajar mengajar. SD Negeri 4 Ngaliyan mengalihkan pembelajaran menjadi daring penuh pada Jumat, 2 Oktober 2026, karena lokasinya berdekatan dengan TPA. Camat Ngaliyan, Moeljianto, menyampaikan kebijakan itu. “Tapi sementara ini memang yang agak terdampak itu salah satu ada di SD Negeri 4 Ngaliyan ini sehingga pada hari ini, Jumat 2 Oktober, anak-anak terpaksa diliburkan ataupun bukan diliburkan tapi belajar secara daring,” ujarnya. Kebijakan sekolah ini juga diberitakan kompas.com.

Satu kelas, yaitu kelas 6, tetap masuk sebentar untuk mengikuti simulasi ujian. Tim gabungan kecamatan dan puskesmas turun mengecek mutu udara di lingkungan sekolah. Hasil pengukuran di ruang kelas dinilai masih dalam batas aman, sementara angka di ruang guru melebihi ambang normal. Pemantauan tim kecamatan bersama fasilitas kesehatan sejauh ini mencatat hanya SDN 4 Ngaliyan yang menjalankan pembelajaran daring secara penuh.

Antisipasi dan pembelajaran dari asap TPA Jatibarang

Pemerintah mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan selama asap TPA Jatibarang belum pulih. Bagi yang tetap harus beraktivitas, masker menjadi pelindung utama. Kelompok rentan diminta lebih waspada karena paparan asap berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan. Pembagian masker kepada warga terdampak pun disiapkan sebagai langkah cepat.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan pengelolaan sampah di Kota Semarang. Laporan soal pengelolaan sampah menjadi bahan bakar pirolisis pernah mengulas bagaimana tumpukan sampah dapat diubah menjadi energi sekaligus menekan risiko kebakaran di tempat pembuangan. Pendekatan semacam itu dinilai relevan agar kejadian serupa tidak berulang di kemudian hari.

Hingga berita ini ditulis, petugas masih berupaya memadamkan sisa titik api. Warga di lima kecamatan diminta tetap memantau informasi resmi dan menjaga kesehatan masing-masing. Sebaran yang luas menjadi pengingat bahwa kualitas udara di kawasan sekitar tempat pembuangan akhir perlu terus dipantau.

Dikutip dari sumber: kumparan.com | kompas.com | detik.com | metrotvnews.com | tribunnews.com