Gramedia Jalma Semarang resmi menggelar grand opening di Pandanaran, Jumat (24/7/2026). Rangkaian acara dibuka penampilan wayang, dilanjutkan talkshow, dan ditutup showcase band Efek Rumah Kaca. Toko ini diposisikan bukan hanya tempat belanja buku, melainkan ruang ketiga bagi warga dan komunitas kreatif.
Head of Store Experience Gramedia Jalma Semarang, Chris Wahyu, menekankan pengalaman pengunjung dulu, transaksi belakangan. “Yang membedakan itu kita benar-benar mengedepankan pengalaman buat pengunjung kita. Orang bisa menikmati apa saja di sini. Masalah keputusan dia mau bertransaksi atau apa itu keputusan berikutnya,” katanya saat grand opening.

Konsep dan Angka Kunjungan Gramedia Jalma Semarang
Sejak soft opening awal Juni, antusiasme warga melampaui ekspektasi. Akhir pekan bisa 6.000 sampai 7.000 pengunjung, hari kerja lebih dari 3.000. Koleksi mencapai sekitar 19.000 judul, termasuk lebih dari 1.000 buku impor. Fasilitas pendukung meliputi coworking space, sejumlah chamber aktivitas, dan area kuliner.
Best seller di lokasi antara lain “Laut Bercerita” dan “The Psychology of Money”. Karya penulis lokal “Sepotong Mie Ayam Sebelum Mati” disebut masuk kategori mega best seller. Konsep “jalma” diambil dari bahasa Sunda yang berarti manusia, menurut Community Specialist Pramudia Pamungkas, agar interaksi antarmanusia lebih menonjol dibanding toko buku biasa.
Komunitas Kreatif Menyambut Ruang Baru
Ketua Semarang Creative Consortium, Tris Supardi, menilai kehadiran toko ini angin segar bagi ekosistem seni. “Gramedia Jalma ini menjadi ruang yang penting bagi kami yang memang menaungi dan mendorong para pelaku seni kreatif di Semarang,” ujarnya. Aktivitas yang dibicarakan mencakup pemutaran film, talkshow kreatif, workshop desain, pameran pop-up, dan membaca bersama.
Klub Buku Jalma sudah berjalan. Ruang Temu Jalma menghadirkan penulis puisi Jinawi Rana. Sejumlah penulis yang pernah hadir meliputi JS Khairen, Ahmad Fuadi, Dee Lestari, hingga Fahruddin Faiz. Ayu Utami dijadwalkan hadir dalam waktu dekat. Hafifah (26) dari Semarang Book Club mengaku lega punya alternatif working space dan tempat baca saat perpustakaan kota libur akhir pekan.
Testimoni Warga
Anggi (29) dan Dina (30) mengaku menanti pembukaan karena ini Gramedia Jalma kedua di Indonesia. Mereka melihat rak ditata lebih humanis, ada workspace, dan ruang baca. “Buat aku baca buku itu ngilangin stres,” kata Dina. Narasi ini menegaskan gramedia jalma semarang sebagai ruang sosial, bukan hanya etalase komersial.
Mengapa Gramedia Jalma Semarang Menarik untuk Kota Atlas?
Di tengah maraknya kafe dan mal, ruang yang menggabungkan baca, kerja, diskusi, dan pertunjukan seni relatif jarang. Model ini menjawab kebutuhan literasi yang tidak selalu lewat buku, tetapi juga budaya. Bagi pelaku UMKM kuliner di dalam gerai, traffic kunjungan tinggi jadi peluang. Bagi komunitas, ada alamat tetap untuk kolaborasi.
Baca juga isu kota lain di lahan industri greater Semarang dan Jateng Open 2026.
Dikutip dari sumber: kompas.com

