Kirim Artikel

Kekeringan Pertanian Semarang: Tembalang Paling Rawan, Petani Diminta Percepat Tanam

Kekeringan pertanian Semarang
ilustrasi tanah kekeringan

Kekeringan pertanian Semarang mulai diantisipasi Pemerintah Kota Semarang menjelang puncak musim kemarau. Dinas Pertanian memetakan kawasan rawan agar pasokan air ke lahan tetap terjaga dan produksi pangan tidak goyah.

Langkah itu penting karena sebagian sawah di kota masih bergantung pada air hujan. Begitu curah hujan menurun lama, risiko gagal panen naik. Pemetaan resmi jadi dasar penyiapan pompa, embung, dan jaringan irigasi.

Kekeringan Pertanian Semarang: Apa yang Dilakukan Pemkot?

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shotiah, menyatakan pihaknya sedang mengidentifikasi wilayah dengan kerawanan tinggi. Fokus diarahkan ke daerah yang memang sering kekurangan air setiap kemarau, terutama persawahan tadah hujan.

Hasil pemetaan akan dipakai menyusun langkah antisipasi. Selain infrastruktur pendukung, petani diimbau mempercepat masa tanam. Logikanya sederhana: kalau tanam lebih awal, fase kritis tanaman bisa lewat sebelum puncak kemarau memuncak.

Kenapa Tembalang Disebut Paling Rawan?

Hampir semua wilayah Kota Semarang punya titik rawan kekeringan saat kemarau. Namun kawasan Tembalang disebut salah satu yang paling rentan karena sebagian besar areal persawahannya merupakan sawah tadah hujan. Tanpa hujan, sumber air utama langsung menipis.

Itu sebabnya isu kekeringan pertanian Semarang tidak hanya soal cuaca terik, tapi juga tipe irigasi. Sawah yang tidak tersambung irigasi teknis lebih cepat terdampak.

Berdasarkan data Dinas Pertanian yang dikutip media, luas lahan persawahan di Kota Semarang sekitar 2.134 hektare. Lahan itu dioptimalkan untuk mendukung swasembada pangan, termasuk produksi beras dan kedelai. Angka seluas itu menjelaskan mengapa pemetaan dini dianggap penting: dampaknya bisa terasa di pasokan lokal.

Antisipasi yang Disiapkan

  • Pemetaan kawasan rawan kekeringan.
  • Penyiapan jaringan irigasi, embung, dan optimalisasi pompa air.
  • Imbauan percepatan tanam kepada petani.
  • Monitoring wilayah yang secara historis sering kekeringan.

Secara terpisah, BMKG juga memasukkan Kota Semarang dan Kabupaten Semarang ke daftar wilayah Jateng yang berpotensi kekeringan meteorologis, dengan puncak kemarau diperkirakan sekitar Agustus 2026. Warga diimbau mulai hemat air. Konteks itu memperkuat urgensi langkah Dinas Pertanian di sektor lahan.

Saran Praktis buat Warga dan Petani

Bagi petani di zona rawan, percepatan tanam dan komunikasi dengan penyuluh soal akses pompa atau embung jadi langkah awal. Bagi warga kota, penghematan air harian membantu menekan tekanan pada sumber air baku saat kemarau memanjang. Pantau juga rilis cuaca resmi BMKG agar keputusan tanam dan irigasi tidak hanya berdasarkan rasa panas di siang hari.

Pembaca yang ingin menengok isu kota lain bisa baca juga sekolah tani milenial Semarang soal regenerasi petani, atau fenomena cuaca Semarang.

Catatan Validitas

Fakta pemetaan, imbauan percepatan tanam, luas lahan 2.134 hektare, dan status Tembalang sebagai kawasan rawan merujuk liputan 21 Juli 2026. Data BMKG soal waspada kekeringan meteorologis merujuk liputan terpisah di tanggal yang sama. Statusnya antisipasi, bukan klaim bahwa gagal panen sudah meluas di seluruh kota.

Dikutip dari kompas.com

Sumber eksternal: kompas.com (lahan pertanian) · kompas.com (BMKG)