Kirim Artikel

Museum Fotografi Semarang: Gedung Lift Pertama di Indonesia Siap Jadi Ruang Sejarah Visual

dok: lingkar.co | istimewa

Museum fotografi Semarang kembali jadi perbincangan hangat setelah muncul rencana mengubah gedung eks Jiwasraya di kawasan Kota Lama menjadi ruang arsip visual berskala nasional. Bangunan yang kerap disebut sebagai salah satu gedung ber-lift paling awal di Indonesia itu diproyeksikan menyimpan jejak fotografi dari berbagai daerah, sekaligus menambah daya tarik wisata sejarah di jantung kota.

Rencana ini bukan sekadar ganti papan nama. Ada kajian teknis, kolaborasi lintas lembaga, dan dukungan pemerintah kota yang sedang disiapkan agar bangunan cagar budaya itu layak menjadi museum. Berikut ringkasan fakta yang sudah beredar di media, disusun ulang untuk pembaca YukTalk.

Museum Fotografi Semarang di Gedung Eks Jiwasraya

Lokasi yang dibidik berada di kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya di gedung eks Jiwasraya. Dalam pemberitaan, bangunan itu dikenal punya nilai sejarah kuat dan diyakini termasuk gedung pertama di Indonesia yang dilengkapi lift. Transformasi menjadi Museum Fotografi Indonesia digadang-gadang akan menghidupkan kembali ruang kosong yang sempat sepi, sekaligus memberi tempat bagi arsip foto perjuangan, kehidupan masyarakat, hingga koleksi keluarga yang bernilai sejarah.

museum fotografi semarang di gedung eks Jiwasraya Kota Lama
Ilustrasi ruang dalam gedung eks Jiwasraya di Kota Lama Semarang. (Dok. Pemkot Semarang via kompas.com)

Kenapa Museum Fotografi Semarang Jadi Sorotan?

Semarang dipilih karena reputasinya sebagai titik temu budaya dan kota dengan jejak kolonial yang masih hidup di Kota Lama. Museum fotografi Semarang diharapkan tidak berhenti di fungsi penyimpanan. Ia digambarkan sebagai ruang edukasi yang menghubungkan generasi sekarang dengan perjalanan bangsa lewat gambar.

Bagi warga dan pelaku wisata, kehadiran museum tematik seperti ini bisa memperpanjang lama kunjungan di Kota Lama. Pengunjung yang biasanya berhenti di Gereja Blenduk, Taman Srigunting, atau spot foto jalanan, punya alasan baru untuk masuk ke dalam bangunan bersejarah dan belajar lewat arsip visual.

Kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan Danantara

Proses penyiapan mulai menguat setelah Kementerian Kebudayaan bersama Danantara meninjau langsung lokasi. Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menyampaikan bahwa kementeriannya akan bekerja sama dengan Danantara untuk mewujudkan gedung Jiwasraya sebagai Museum Fotografi Indonesia di Kota Semarang.

Tahap awal yang disebut media adalah kajian teknis. Tujuannya memastikan kondisi bangunan memenuhi standar museum berskala nasional. Artinya, belum langsung dibuka untuk umum. Ada pekerjaan rumah soal struktur, tata pameran, keamanan koleksi, dan skema pengelolaan jangka panjang.

Siapa yang akan terlibat mengisi museum fotografi Semarang?

Menurut pemaparan yang dikutip media, pengembangan museum akan melibatkan banyak pihak: Pemerintah Kota Semarang, kurator, akademisi, hingga masyarakat yang punya koleksi foto bernilai sejarah. Pendekatan ini masuk akal karena arsip visual Indonesia tersebar di institusi formal maupun album keluarga. Kalau dibuka ruang partisipasi, museum fotografi Semarang berpeluang jadi tempat bertemunya memori kolektif, bukan hanya pameran statis.

Sikap Pemkot Semarang

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyambut rencana tersebut. Museum berskala nasional dinilai bisa jadi kebanggaan warga sekaligus memperkuat citra Semarang sebagai kota warisan budaya. Pemkot disebut siap mendukung proses pembangunan, mulai dari perizinan, penataan bangunan, hingga pengumpulan koleksi.

Dukungan lokal ini penting. Tanpa sinkronisasi izin, akses pengunjung, dan penataan kawasan sekitar, museum bagus sekalipun bisa terasa terpisah dari ekosistem Kota Lama yang sudah ramai pejalan kaki di akhir pekan.

Apa Dampaknya bagi Kota Lama dan Wisata Budaya?

Kalau realisasi berjalan, museum fotografi Semarang punya potensi menjadi magnet baru di rute wisata heritage. Kawasan Kota Lama selama ini kuat di suasana visual jalanan, arsitektur, dan kuliner. Museum tematik menambah lapisan: pengunjung bisa menikmati bangunan dari luar, lalu masuk untuk melihat bagaimana Indonesia merekam dirinya sendiri lewat kamera dari masa ke masa.

Secara ekonomi kreatif, kehadiran museum juga bisa membuka ruang kolaborasi dengan komunitas fotografi, pameran temporer, workshop, hingga program edukasi sekolah. Itu sejalan dengan arah revitalisasi Kota Lama yang ingin menghidupkan bangunan, bukan hanya mempercantik fasad.

Hal yang Masih Perlu Dicermati

  • Jadwal buka resmi museum belum diumumkan secara detail di sumber yang dirujuk.
  • Kajian teknis masih jadi tahap awal, jadi statusnya masih rencana yang sedang dimatangkan.
  • Koleksi apa saja yang akan dipamerkan pertama kali belum dirinci penuh di liputan publik.

Dengan kata lain, kabar ini menjanjikan, tapi tetap perlu diikuti perkembangan resmi dari Kementerian Kebudayaan, Danantara, dan Pemkot Semarang. Untuk pembaca yang ingin membandingkan konteks cuaca dan isu kota lain di Semarang, kamu juga bisa baca liputan YukTalk soal fenomena cuaca Semarang.

Ringkasnya

Museum fotografi Semarang direncanakan menempati gedung eks Jiwasraya di Kota Lama, bangunan bersejarah yang dikenal punya lift sejak era awal modernisasi gedung di Indonesia. Kementerian Kebudayaan dan Danantara disebut berkolaborasi, sementara Pemkot Semarang menyambut dan siap mendukung. Kalau eksekusinya konsisten, Kota Lama bukan cuma spot foto, tapi juga rumah bagi foto-foto yang menyimpan sejarah bangsa.

Dikutip dari kompas.com | lingkar.co

Sumber eksternal: kompas.com · lingkar.co