Semarang – Seorang pemuda pecinta reptil Curug Lawe mengalami kecelakaan mencekam saat menjalani aktivitas herping di kawasan Curug Lawe Benowo, Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Galih Rizky (20 tahun), pemuda asal Gondokusuman, Yogyakarta, terperosok ke dalam jurang sedalam sekitar 40 meter pada Jumat malam, 28 Agustus 2026.
Kejadian yang terjadi sekitar pukul 22.15 WIB itu sempat mengkhawatirkan rekan-rekannya yang berada di lokasi. Beruntung, tim Search and Rescue (SAR) dari Kantor SAR Semarang berhasil mengevakuasi Galih dalam kondisi selamat setelah proses evakuasi yang memakan waktu sekitar 2,5 jam.
Apa Itu Herping dan Mengapa Dilakukan di Malam Hari?
Herping adalah aktivitas mencari, mengamati, atau mendokumentasikan reptil serta amfibi di habitat aslinya. Aktivitas ini populer di kalangan komunitas peneliti dan penghobi hewan bersisik atau berkaki empat tersebut. Bagi para pecinta reptil Curug Lawe dan wilayah Jawa Tengah lainnya, herping menjadi salah satu metode untuk mempelajari keanekaragaman hayati secara langsung di lapangan.
Galih Rizky bersama tiga rekannya, yang semuanya merupakan penggemar reptil dan amfibi, sengaja melakukan penelitian terhadap hewan nocturnal atau hewan yang aktif bergerak di malam hari. Aktivitas ini dilakukan pada malam hari karena sebagian besar spesies reptil dan amfibi memang lebih aktif berburu makanan dan bergerak di luar siang.
Kronologi Kecelakaan di Curug Lawe Benowo
Menurut informasi yang dikumpulkan dari sejumlah sumber, kronologi kejadian bermula saat Galih dan tiga rekannya menyusuri jalur setapak di kawasan hutan Curug Lawe Benowo. Mereka tengah fokus mencari hewan nocturnal menggunakan senter sebagai penerangan.
Galih berjalan mundur sambil mengarahkan senter ke area sekeliling untuk menerangi kondisi hutan. Sayangnya, pemuda 20 tahun tersebut tidak menyadari bahwa di belakangnya terdapat jurang yang cukup dalam. Tanpa peringatan, Galih terperosok dan terjatuh ke dasar jurang dengan kedalaman mencapai 40 meter.
Rekan-rekan Galih yang menyaksikan kejadian tersebut langsung berupaya menghubungi pihak berwenang. Mereka segera menelepon Basarnas untuk melaporkan kejadian dan meminta bantuan evakuasi secepat mungkin mengingat kondisi medan dan waktu yang sudah malam.
Operasi Evakuasi Tim SAR Gabungan
Setelah menerima laporan, Kantor SAR Semarang yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, segera menerjunkan tim gabungan untuk melakukan operasi penyelamatan. Tim SAR dikerahkan ke lokasi kejadian di kawasan Curug Lawe Benowo untuk menjangkau korban yang terjebak di dasar jurang.
Proses evakuasi tidak berjalan mudah. Medan yang curam dan kedalaman jurang yang mencapai 40 meter menuntut tim SAR menggunakan teknik khusus yang dikenal sebagai HART (High Angle Rescue Technique). Teknik ini merupakan metode standar yang digunakan untuk operasi penyelamatan di medan dengan kemiringan curam dan akses terbatas.
Selama proses evakuasi, tim gabungan harus bekerja dengan hati-hati dan koordinasi yang ketat untuk memastikan keselamatan korban maupun personel penyelamat. Kondisi malam hari di kawasan hutan Curug Lawe menambah tingkat kesulitan operasi tersebut.
Upaya evakuasi akhirnya membuahkan hasil positif. Sekitar pukul 02.00 WIB pada Sabtu, 29 Agustus 2026, Galih Rizky berhasil dievakuasi dari dasar jurang. Dengan demikian, proses evakuasi berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam.
Kondisi Korban Setelah Dievakuasi
Galih Rizky dilaporkan selamat dari kecelakaan tersebut. Namun, pemuda pecinta reptil Curug Lawe itu mengalami sejumlah cedera akibat jatuh dari ketinggian yang cukup signifikan. Cedera yang dialami Galih meliputi luka di bagian kepala, lengan kanan, serta tungkai kanan.
Usai dievakuasi dari lokasi kejadian, Galih langsung dilarikan ke RSUD Ungaran untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Tim medis di rumah sakit tersebut melakukan pemeriksaan dan pengobatan atas cedera-cedera yang dialami korban.
Peringatan Bagi Pecinta Reptil Curug Lawe dan Komunitas Herping
Kecelakaan yang menimpa Galih Rizky ini menjadi pengingat penting bagi para pecinta reptil Curug Lawe dan seluruh komunitas herping di Indonesia. Aktivitas herping memang menarik dan memiliki nilai ilmiah yang tinggi, namun tetap membawa risiko yang tidak boleh dianggap remeh, terutama saat dilakukan di malam hari di kawasan hutan dengan medan yang berbukit dan curam.
Beberapa tips keselamatan yang sebaiknya diterapkan saat melakukan aktivitas herping antara lain:
Pertama, selalu berhati-hati dengan kondisi medan di sekitar. Jangan berjalan mundur tanpa memastikan keamanan jalur di belakang, terutama di kawasan hutan atau perbukitan yang mungkin memiliki jurang atau tebing tersembunyi.
Kedua, gunakan senter yang memiliki jangkauan cahaya luas agar area di sekitar, termasuk jalur yang dilewati, dapat terlihat dengan jelas. Jangan hanya fokus pada area pencarian hewan dan mengabaikan kondisi jalur.
Ketiga, pastikan selalu beraktivitas dalam rombongan dan tetap menjaga jarak yang aman antar anggota. Komunikasi yang baik antar anggota rombongan sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Keempat, bawa peralatan komunikasi darurat yang memadai. Dalam kejadian Galih, rekan-rekannya berhasil menghubungi Basarnas dengan cepat, yang menjadi faktor penting dalam keselamatan korban.
Kelima, kenali profil medan di lokasi herping sebelum melakukan aktivitas. Pahami rute, titik-titik berbahaya, dan kondisi geografis kawasan tersebut.
Kawasan Curug Lawe Benowo sebagai Habitat Keanekaragaman Hayati
Kawasan Curug Lawe Benowo di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, merupakan salah satu area yang memiliki keanekaragaman hayati cukup tinggi. Keberadaan air terjun dan vegetasi hutan yang lebat menjadikan kawasan ini sebagai habitat berbagai spesies reptil dan amfibi.
Tidak mengherankan jika kawasan ini menjadi lokasi favorit bagi para pecinta reptil Curug Lawe dan komunitas herping untuk melakukan penelitian. Keberagaman spesies hewan nocturnal di kawasan tersebut menarik minat para peneliti dan penghobi reptil dari berbagai daerah, termasuk dari Yogyakarta seperti yang dialami oleh Galih Rizky.
Namun, keindahan dan potensi hayati kawasan tersebut juga diiringi oleh tantangan medan yang tidak ringan. Bukit-bukit dan jurang yang ada di sekitar Curug Lawe menuntut setiap pengunjung untuk selalu waspada dan mengutamakan keselamatan.
Dukungan Warga dan Komunitas
Kejadian yang menimpa Galih Rizky ini mendapat perhatian dari warga sekitar dan komunitas herping di berbagai daerah. Banyak yang memberikan ucapan syukur karena korban berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup meski mengalami cedera.
Kasus ini juga mendorong diskusi dalam komunitas pecinta reptil mengenai pentingnya standar keselamatan saat melakukan aktivitas herping. Sejumlah komunitas menyatakan akan lebih memperketat prosedur keselamatan dalam setiap kegiatan lapangan yang mereka selenggarakan.
Semangat para pecinta reptil Curug Lawe dalam meneliti dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati memang patut diapresiasi. Namun, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas penelitian lapangan.
Baca berita lainnya di YukTalk.
Dikutip dari sumber: detik.com | jateng.idntimes.com | rri.co.id

