Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Sekolah Tani Milenial Semarang: Pemuda Sarjana Pilih Bertani demi Pangan

dok: ilustrasi

Sekolah tani milenial Semarang menjadi sorotan setelah Pemerintah Kabupaten Semarang kembali menggelar pelatihan bagi pemuda yang ingin serius di sektor pertanian. Di tengah banyaknya anak muda yang memilih pabrik dan industri, muncul sosok sarjana yang justru melangkah ke sawah.

Muhammad Khairul Anang (25) menjadi salah satu wajah program itu. Ia khawatir regenerasi petani terputus. Kalau anak muda terus menjauh dari lahan, pasokan pangan bisa terancam. Kekhawatiran itu yang membawanya masuk ke Sekolah Tani Milenial Pangan Berdikari di Dusun Sawah Gondang, Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

Sekolah Tani Milenial Semarang dan Krisis Generasi Petani

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, menyebut program ini strategi mengantisipasi krisis sumber daya manusia. Data Sensus Pertanian 2023 yang dikutip media menunjukkan petani muda (milenial) di Kabupaten Semarang tinggal 11,8 persen, sementara petani berusia tua mencapai 77,8 persen.

Dalam 10 tahun terakhir, jumlah rumah tangga usaha pertanian berkurang hingga 10,27 persen, padahal jumlah penduduk terus bertambah. Angka itu jadi alarm: lahan dan pasar pangan butuh penerus, bukan hanya mesin.

sekolah tani milenial semarang panen cabai bersama bupati
Bupati Semarang Ngesti Nugraha panen cabai usai launching Sekolah Tani Milenial. (KOMPAS.com/Dian Ade Permana)

Siapa Peserta dan Berapa Target 2026?

Pada 2026, pelatihan menargetkan 240 hingga 250 pemuda yang dibagi dalam enam angkatan. Fokus lokasi di kecamatan penghasil tembakau: Sumowono, Tengaran, Bancak, Kaliwungu, dan Bandungan. Anggaran disebut Rp 240 juta dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Khairul, yang sudah menyandang gelar sarjana, ikut karena ingin menekuni pertanian secara serius. Di wilayahnya padi masih dominan, tapi ia ingin mencoba tanaman lain, termasuk cabai rawit. Pilihan itu mencerminkan arah sekolah tani milenial Semarang: bukan hanya melestarikan cara lama, tapi membuka ruang diversifikasi.

Peserta tidak hanya diajari teknik bercocok tanam dan transisi ke pertanian organik. Ada juga kapasitas manajemen kewirausahaan dan pemasaran digital. Edy menekankan SDM sebagai enabler: program bagus pun sia-sia jika manusianya tidak disiapkan, karena pertanian belum sepenuhnya bisa digantikan mesin.

Pesan Bupati: Petani Modern, Bukan Hanya Cangkul

Bupati Semarang Ngesti Nugraha menekankan perubahan persepsi. Petani masa kini tidak lagi hanya diidentikkan dengan kerja kasar memegang cangkul, melainkan mengadopsi teknologi dan inovasi. Pelatihan mencakup tanaman pangan, hortikultura seperti cabai dan bunga, hingga peternakan. Ada juga dorongan pengalihan bertahap dari pupuk kimia ke pertanian organik untuk memulihkan kualitas tanah.

Kenapa Cerita Ini Penting?

  • Regenerasi petani di Kabupaten Semarang sedang menipis (11,8 persen petani muda).
  • Program punya target peserta dan sumber anggaran yang jelas di liputan publik.
  • Narasi pemuda sarjana bertani membantu menggeser stigma pekerjaan pertanian.
  • Materi digital marketing membuka peluang hilirisasi hasil panen.

Bagi pembaca di Kota Semarang dan sekitarnya, isu regenerasi petani berkaitan langsung dengan harga pangan dan ketahanan pasokan. Kamu juga bisa membaca konteks kota lain di YukTalk lewat museum fotografi Semarang untuk melihat sisi lain transformasi kota.

Catatan Validitas

Fakta utama merujuk liputan 21-22 Juli 2026: nama peserta, data Sensus Pertanian 2023, target peserta, anggaran DBHCHT, serta pernyataan Dispertanikap dan Bupati Semarang. Peluncuran digelar di Sumowono, Kabupaten Semarang. Penulisan nama peserta di media: Muhammad Khairul Anang / Khoirul.

Dikutip dari kompas.com | jatengpos.co.id

Sumber eksternal: kompas.com · jatengpos.co.id