Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Klub Pencinta Buku SMPN 12 Semarang, Cara Siswa Banyumanik Tumbuhkan Minat Baca

klub pecinta buku
Foto Ilustrasi Rak Buku. Dok: Pexels (Erik Mclean)

Semarang – Klub pencinta buku SMPN 12 Semarang tumbuh bukan dari program besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dirawat bertahun-tahun. Di SMP Negeri 12 Semarang, Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, sisi selatan Kota Semarang, para siswa yang gemar meminjam buku di perpustakaan sekolah akhirnya memiliki wadah resmi untuk berdiskusi. Anggota klub pencinta buku SMPN 12 Semarang dikenal sebagai pengunjung setia perpustakaan, dan mereka rutin menggelar diskusi soal bacaan yang sedang dinikmati.

Perpustakaan sekolah itu menjadi ruang pertama yang membentuk kebiasaan tersebut. Dari rak-rak buku di sana, anggota klub pencinta buku SMPN 12 Semarang bergerak ke ruang lain, mulai dari taman kota hingga ruang kelas, dengan buku sebagai pintu masuk pembicaraan.

Klub Pencinta Buku SMPN 12 Semarang Dimulai dari Ajakan Kepala Sekolah

Kepala Sekolah SMP N 12 Semarang, Rini Rusmiasih, menuturkan bahwa inisiatif membentuk book club dimulai sekitar 2024. Ketika itu, ia mengajak sejumlah siswa yang rajin meminjam buku di perpustakaan untuk menghadiri kegiatan book club yang rutin digelar di Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang.

Kebiasaan itu kemudian berjalan sendiri. Rini mengenang bagaimana salah satu siswa akhirnya datang ke kegiatan tersebut tanpa diantar. “Terus akhirnya tanpa saya antar, dia datang ke sana sendiri. Jadi berkunjung ke sana lagi,” kata Rini kepada tim Jagat Literasi Kompas.com, Jumat (18/9/2026).

Mayoritas partisipan book club di Taman Indonesia Kaya adalah mahasiswa. Di tengah perkumpulan itu, Rini menemukan salah satu peserta yang ternyata alumnus SMP N 12 Semarang. Sang alumnus lalu diundang sebagai narasumber untuk berbagi ilmu soal aktivitas book club kepada almamaternya, cara berbagi yang membuat siswa melihat langsung kelanjutan dari kebiasaan membaca.

Target 18 Buku dan Umpan Balik dari Guru Bahasa Indonesia

Membentuk klub pencinta buku SMPN 12 Semarang dinilai belum cukup untuk menumbuhkan minat baca. Guru Bahasa Indonesia, Ani Handayani, menuturkan setiap siswa SMP N 12 Semarang ditargetkan merampungkan sedikitnya 18 buku bacaan setelah lulus. Target itu dirancang bertahap agar minat baca tumbuh sedikit demi sedikit, bukan menjadi beban yang membuat siswa menjauh dari buku.

Ani menekankan pentingnya pendampingan dalam proses itu. “Tidak hanya sekadar memberikan tugas, tetapi juga kita berikan umpan balik. Bagaimana dari yang sudah dibaca itu juga ditulis ringkasan bukunya,” ujarnya.

Hasilnya mulai terlihat pada siswa kelas 8. “Jadi mereka sudah tahu, sampai dengan kalau yang di kelas 8 itu, sudah sampai dengan dia bisa melihat bagaimana kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut,” tutur Ani.

Kebiasaan membaca yang dipupuk di sekolah punya tempat berpulang di kota ini. Semarang kini memiliki ruang literasi baru, seperti toko buku dan ruang ketiga yang dibahas YukTalk dalam ulasan soal Gramedia Jalma Semarang, sehingga siswa punya lebih banyak pilihan untuk melanjutkan kebiasaan membaca di luar jam sekolah.

Menyusun Cerita hingga Merakit Mobil di Jagat Literasi

Geliat literasi di sekolah ini bertemu dengan kegiatan Jagat Literasi: Ekspedisi Kata ke Nyata yang digelar di SMP N 12 Semarang, Jumat (18/9/2026). Kegiatan itu terselenggara berkat dukungan MR. DIY dan Gramedia. Para siswa yang sebagian juga anggota klub pencinta buku SMPN 12 Semarang dibagi menjadi beberapa kelompok untuk belajar secara aktif bersama fasilitator.

Sesi pertama diisi pemahaman teks. Siswa diminta mengurutkan teks dan gambar agar menjadi cerita yang runtut, seperti menyusun kepingan puzzle. Mereka duduk lesehan, saling berdiskusi, mencocokkan gambar dengan teks, dan suasana ruangan pun riuh saat susunan cerita mulai menemukan alurnya.

Sesi kedua mengajak siswa membuat poster dengan tema bebas selama pesannya positif. Berbekal krayon warna-warni dan kertas gambar, mereka membuat poster berisi ajakan tidak membuang sampah ke laut, slogan pendidikan berkualitas, hingga pesan tentang kesetaraan gender. Keragaman pesan itu memperlihatkan cara pandang siswa terhadap isu terkini.

Pada sesi ketiga, siswa belajar STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan merakit mobil mainan bertenaga baterai dari kit yang disediakan. Mereka menyimak instruksi dan tidak ragu meminta bantuan fasilitator saat menemui kesulitan. Satu siswa berhasil merakit mobilnya, tetapi mobil itu hanya bisa berjalan mundur, dan ruangan berubah menjadi gelak tawa. Ia tidak menyerah dan mencoba memperbaiki mobilnya.

Siswa bernama Karissa mengaku belajar banyak dari kegiatan tersebut. “Ketika mobil itu tidak berjalan harus dicari kesalahannya di mana. Jadi belajar untuk tidak mudah menyerah karena kesalahan itu bisa diperbaiki,” ungkapnya.

Harapan Siswa soal Harga Buku

Di sela kegiatan, tim Jagat Literasi menanyakan harapan siswa soal kondisi literasi di Indonesia maupun di sekolah. Seorang siswi menyampaikan harapannya agar harga buku di Indonesia lebih terjangkau bagi pelajar. “Cukup kecewa karena harga buku di Indonesia itu tidak tergolong murah bagi dana pelajar. Saya berharap harga buku di Indonesia itu dibuat lebih murah,” ujarnya.

Catatan itu relevan karena harga sering menjadi penghambat pertama bagi siswa yang ingin menambah bacaan. Program Jagat Literasi sendiri mengusung gagasan gerakan literasi dari kata ke nyata untuk membuka akses pengetahuan, dan menyediakan jalur donasi literasi lewat tautan bit.ly/JagatLiterasi2026 bagi siapa pun yang ingin ikut mendukung.

Bagi SMP N 12 Semarang, klub pencinta buku SMPN 12 Semarang tetap menjadi titik awal. Dari perpustakaan sekolah, kebiasaan membaca dibawa ke diskusi, target 18 buku, hingga kegiatan yang menyentuh keterampilan lain seperti menyusun cerita dan merakit mobil. Cerita lengkap soal kegiatan dan program literasi ini bisa dibaca di pemberitaan Kompas.com Regional, termasuk kanal Jagat Literasi yang mengangkat gerakan literasi dari kata ke nyata.

Dengan klub pencinta buku SMPN 12 Semarang yang terus berjalan dan dukungan dari berbagai pihak, harapan agar siswa Banyumanik tumbuh sebagai pembaca yang kritis tetap terbuka. Sebab dari kebiasaan membaca di sekolah, pengetahuan bisa berjalan lebih jauh daripada sekadar halaman buku.

Dikutip dari sumber: kompas.com