Terbuka di tab baru
Kirim Artikel

Aksi Jateng Guyub Heboh di Gubernuran: Ritual Nyiwer dan Desakan Hentikan Kriminalisasi Petani

Aksi Jateng Guyub memenuhi halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Ratusan massa dari sejumlah kabupaten menggelar unjuk rasa yang direncanakan berlangsung tiga hari, lengkap dengan ritual Jawa nyiwer sebagai simbol tolak bala dan penolakan terhadap kebijakan yang dinilai tidak memihak rakyat.

Pantauan di lokasi, Rabu (22/7/2026), peserta datang dari berbagai daerah, antara lain Kendal, Pati, Jepara, Demak, Rembang, hingga Batang. Sebanyak 28 kabupaten di Jawa Tengah dilaporkan telah mengonfirmasi kehadiran. Aksi dijadwalkan berlanjut hingga Jumat (24/7/2026).

Baca juga: Kekeringan Pertanian Semarang | Sekolah Tani Milenial Semarang

Apa yang Disuarakan dalam Aksi Jateng Guyub

Aliansi masyarakat yang tergabung dalam Jateng Guyub menyoroti isu penyelamatan lingkungan, penuntasan konflik agraria, dan dugaan kriminalisasi terhadap petani. Massa menilai sejumlah kebijakan pemerintah daerah belum berpihak pada warga yang menggantungkan hidup dari tanah dan ruang hidup yang aman.

Dalam laporan media, massa mendesak agar kriminalisasi petani dihentikan. Mereka juga menuntut penyelesaian sengketa lahan yang dinilai berlarut-larut. Suasana di depan Gubernuran dipenuhi spanduk, orasi, serta rangkaian doa dalam ritual nyiwer yang mengelilingi kawasan kantor gubernur.

Aksi Jateng Guyub di depan Gubernuran Semarang
Suasana aksi di halaman Kantor Gubernur Jateng. (detikJateng)

Ritual Nyiwer: Simbol Tolak Bala di Depan Gubernuran

Bagian massa melakukan tradisi nyiwer, mengelilingi kawasan sambil membaca doa dan membawa sesaji. Ritual itu dimaknai sebagai permohonan keselamatan, perlindungan, dan keberkahan, sekaligus kritik simbolik terhadap pihak yang dinilai merugikan rakyat.

“Tujuan Nyiwer ini agar orang-orang yang memiliki sifat tidak baik di pemerintah segera hilang, diganti yang baik,” ujar salah satu perwakilan massa, sebagaimana dikutip media.

Bagi peserta, nyiwer bukan sekadar tontonan budaya. Mereka memadukan bahasa spiritual Jawa dengan tuntutan konkret: hentikan kriminalisasi petani, selesaikan konflik agraria, dan perkuat perlindungan lingkungan. Pendekatan itu membuat aksi Jateng Guyub tampil beda dibanding demo orasi semata.

Siapa yang Hadir dan Berapa Lama Aksi Berjalan

Massa datang dari pantura hingga kawasan lain di Jawa Tengah. Konfirmasi kehadiran dari 28 kabupaten menunjukkan jangkauan aliansi yang luas. Aksi dirancang multi-hari agar isu tidak tenggelam dalam satu putaran orasi, sekaligus memberi ruang dialog jika ada perwakilan pemerintah yang menerima aspirasi.

Hingga laporan media pada 22 Juli 2026, fokus liputan masih pada hari pertama di halaman Gubernuran. Pengamanan berlangsung, sementara massa menjaga ritme aksi dengan ritual, orasi, dan konsolidasi antar daerah. Publik diimbau melintas di Jalan Pahlawan dengan tertib selama unjuk rasa berlangsung.

Mengapa Isu Agraria dan Lingkungan Menguat

Jawa Tengah menyimpan sejumlah titik rawan sengketa lahan, tekanan industri, dan ancaman ruang hidup petani. Ketika warga merasa jalur formal lambat, aksi kolektif di pusat pemerintahan provinsi menjadi saluran untuk menaikkan volume tuntutan. Dalam kerangka itu, aksi Jateng Guyub menjadi wadah lintas kabupaten yang menyatukan keluhan serupa.

Desakan menghentikan kriminalisasi petani mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik agraria berujung pada proses hukum yang memberatkan warga kecil. Aliansi juga menyinggung kebijakan yang dinilai tidak memihak rakyat, meski rincian tiap kasus bisa berbeda antar daerah. Media yang meliput menekankan bahwa massa membawa tiga isu utama: lingkungan, agraria, dan kriminalisasi.

Poin Penting Aksi Jateng Guyub

  • Lokasi: halaman Kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang Selatan
  • Waktu: mulai Rabu (22/7/2026), direncanakan tiga hari hingga 24/7/2026
  • Peserta: massa lintas daerah, 28 kabupaten mengonfirmasi kehadiran
  • Simbol aksi: ritual nyiwer (doa dan sesaji mengelilingi kawasan)
  • Isu utama: lingkungan, konflik agraria, dugaan kriminalisasi petani

Sampai berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi lengkap dari Gubernur Jateng yang dirangkum di sumber yang sama sebagai jawaban final atas seluruh tuntutan. Publik bisa memantau kelanjutan aksi pada hari kedua dan ketiga, termasuk apakah ada pertemuan formal dengan perwakilan Pemprov.

Bagi warga Semarang, unjuk rasa di Jalan Pahlawan berarti penyesuaian lalu lintas di pusat kota. Bagi petani dan komunitas agraria di daerah, aksi Jateng Guyub adalah panggung untuk memastikan suara mereka terdengar di level provinsi, bukan hanya di balai desa atau kantor kabupaten.

Dikutip dari sumber: detik.com | serat.id | jatengnews.id

Sumber lengkap: detikJateng | Serat.id | Jatengnews.id