Semarang – Kekeringan Meteseh, Tembalang, Kota Semarang, memaksa warga Rejosari RT 7 RW 10 berjuang keras mendapatkan air bersih. Sejak akhir Juli 2026, debit air Pamsimas di kawasan itu menyusut drastis. Air memang masih mengalir dari keran, tetapi volumenya tidak lagi cukup untuk memasak, mencuci, apalagi mandi, sehingga setiap hari warga harus mengeluarkan uang ekstra demi bisa mandi.
Ketua RT 7, Sohibul Adib, menuturkan, biaya untuk kebutuhan mandi saja terbilang besar. Satu kepala keluarga dengan empat anggota bisa menghabiskan empat galon air isi ulang dalam sehari dengan total pengeluaran Rp16.000. Pengeluaran itu terus berulang setiap hari selama musim kemarau, belum lagi kebutuhan air untuk memasak dan keperluan lainnya. Dalam kondisi normal, Pamsimas di kawasan ini dikelola yayasan, tetapi saat kemarau pasokannya menyusut drastis.
Sumur-sumur warga pun ikut menyusut. Menurut Sohibul, sumur dengan kedalaman sekitar delapan meter kini hanya menyisakan satu hingga satu setengah meter air. Karena itu, saat kemarau, warga mengambil air dari sumur artetis milik pondok pesantren Pak Haji Nasrudin. Airnya bisa diperoleh secara gratis, tetapi jaraknya sekitar empat kilometer dari permukiman, dan sebagian warga mengalirkannya lewat pipa.
Kekeringan Meteseh dan Rutinitas Antre 5.000 Liter Air Bantuan
Pada Selasa (18/8/2026), truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang tiba di lokasi membawa 5.000 liter air bersih. Warga langsung berdatangan membawa ember dan mengantre. Petugas membagikan air tersebut ke tandon dan ember milik warga satu per satu secara bergiliran. Suasana antrean berlangsung tertib meski semua orang berharap jatahnya segera terpenuhi di tengah kekeringan Meteseh. Rombongan truk tersebut datang setelah permintaan warga diajukan sehari sebelumnya, dan respons dari pemerintah kota terbilang cepat.
Saromah (51), warga RT 7 RW 10, mengaku sejak akhir Juli mengandalkan air Pamsimas pondok untuk kebutuhan sehari-hari. Pasokan yang tersedia tidak cukup, sehingga kehadiran truk bantuan sangat dinantikan. Ketika gilirannya tiba, Saromah menerima sekitar 20 ember air dan menilai jatah itu cukup untuk tiga hari ke depan, khususnya untuk mencuci dan mandi.
Staf Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Sugiharto, menjelaskan, satu tangki berisi sekitar 5.000 liter air dialokasikan untuk satu RT yang dihuni 36 kepala keluarga. Penyaluran dilakukan sehari setelah permintaan masuk. Permintaan warga diajukan Senin sore dan diusahakan langsung direalisasikan Selasa pagi.
Air bantuan tersebut difokuskan untuk mandi. Sementara untuk mencuci, sebagian warga memilih memanfaatkan air sungai yang jaraknya sekitar 700 meter dari permukiman. Pemandangan warga berjalan membawa baju kotor menuju sungai pun mulai sering terlihat seiring memuncaknya musim kemarau.
Warga berharap bantuan serupa bisa datang rutin, idealnya empat hingga lima kali dalam sebulan. Alasannya, kebutuhan air di tengah kekeringan Meteseh tidak hanya menyangkut konsumsi, tetapi juga mandi dan cuci yang tidak bisa ditunda. Jika bantuan datang terlambat, pengeluaran harian untuk membeli galon otomatis membengkak.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Patrick Bagus Yudhistira, menyebut ada lima kecamatan yang menjadi prioritas pemantauan kekeringan, yakni Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik. Di Tembalang, titik yang dipantau meliputi Rowosari, Meteseh, Bulusan, dan Mangunharjo. Sementara di Ngaliyan ada Wonosari, di Gunungpati ada Cepoko dan sebagian Sukorejo, serta Jabungan di Banyumanik. Untuk Mijen, titik pemantauan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan di lapangan.
BPBD Kota Semarang menyiapkan sekitar 900.000 liter air bersih untuk menghadapi musim kemarau tahun ini. Hingga Selasa, sekitar 48.000 liter di antaranya sudah disalurkan ke sejumlah titik terdampak. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, sehingga kesiapan stok menjadi kunci penanganan kekeringan Meteseh.
Meteseh sendiri masuk daftar pemantauan BPBD di Tembalang bersama Rowosari, Bulusan, dan Mangunharjo. Kondisi serupa pernah terjadi di kelurahan lain di Kota Semarang. Sebelumnya, krisis air bersih juga melanda warga Jabungan, Banyumanik, seperti yang diulas YukTalk dalam pemberitaan tentang krisis air bersih Jabungan Semarang. Penanganan di lokasi tersebut bisa menjadi pelajaran agar kekeringan Meteseh tidak berlarut-larut.
Puncak kemarau yang berlangsung hingga September membuat masa sulit warga di tengah kekeringan Meteseh belum berakhir. Dengan stok sekitar 900.000 liter yang disiapkan BPBD, warga berharap pasokan air bantuan tidak terputus hingga musim hujan tiba. Bagi warga terdampak di lima kecamatan prioritas, pengajuan dropping air bisa dilakukan dengan menghubungi kontak resmi yang disediakan BPBD Kota Semarang, sebagaimana tercantum dalam daftar kecamatan rawan kekeringan yang dirilis Tribun Jateng.
Sohibul berharap koordinasi antara warga, pengelola Pamsimas, dan pemerintah bisa mempercepat pemulihan pasokan air. Ia juga mengapresiasi langkah cepat BPBD yang menyalurkan bantuan sehari setelah permintaan masuk. Kisah penanganan kekeringan Meteseh ini juga menjadi catatan penting bagi daerah lain yang berada di daftar pemantauan.
Dikutip dari sumber: detik.com | tribunnews.com

