Semarang – Dampak musim kemarau di Jawa Tengah kini semakin meluas ke berbagai sektor kehidupan. Salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah adalah Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Selama hampir dua pekan terakhir, warga setempat didera musibah krisis air bersih jabungan semarang yang mengkhawatirkan akibat menyusutnya debit sumber mata air utama.
Kondisi krisis air bersih jabungan semarang ini memaksa ribuan warga untuk memutar otak demi bisa mencukupi kebutuhan harian mereka. Warga kini harus mengandalkan bantuan kiriman mobil tangki (dropping) untuk memasak dan minum. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, sebagian warga terpaksa memanfaatkan sisa aliran air sungai Kali Ketekan yang juga mulai mengering.
Dampak Krisis Air Bersih Jabungan Semarang Kian Meluas
Musibah kekeringan yang memicu krisis air bersih jabungan semarang ini dilaporkan telah melanda tiga wilayah rukun warga secara merata, yakni RW 3, RW 4, dan RW 5. Pihak pemerintah kelurahan setempat memperkirakan sekitar 2.500 penduduk terkena dampak langsung dari musibah ini. Kelompok masyarakat di ketiga RW tersebut kini harus bersusah payah mengantre berjam-jam demi mendapatkan jatah pembagian air bersih.
Menurut Lurah Jabungan, Muchammad Chasani, menyusutnya pasokan air bersih sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh warganya sejak setelah hari raya Iduladha lalu. Namun, dalam dua pekan belakangan, kondisi sumber air dari mata air utama benar-benar mengering total. Keadaan ini membuat warga sangat bergantung pada bantuan air tangki dari luar daerah.
Bencana kekeringan ini tentu menjadi pengingat pentingnya tata kelola pangan dan air yang teratur, serupa dengan ketegasan pemerintah pusat seperti saat BGN copot 137 kepala SPPG demi ketertiban jaminan pelayanan publik bagi penerima manfaat program negara.
Perjuangan Antre Air Bersih di Samping Masjid Al Hidayah
Setiap kali armada tangki air bersih tiba di Kelurahan Jabungan, warga langsung berbondong-bondong merapat ke lokasi dropping di samping Masjid Al Hidayah RT 02 RW 03. Warga mengantre dengan tertib sembari menjinjing jeriken, galon kosong, hingga wadah gembes.
Rubinah (64), warga RT 2 RW 3 Kampung Sidoro, menuturkan bahwa ia membawa empat wadah gembes setiap kali ada pembagian air. Persediaan tersebut biasanya hanya bertahan selama dua hingga tiga hari saja. Jika bantuan tangki terlambat datang, Rubinah terpaksa berjalan kaki menuju Sungai Ketekan demi mengambil air sungai secara manual. Air sungai tersebut dimanfaatkan khusus untuk mandi dan mencuci pakaian agar persediaan air bersih dari bantuan tangki bisa dihemat penuh untuk keperluan konsumsi.
Jaringan Pipa PDAM Belum Masuk Seluruh RT
Warga sebenarnya memiliki pasokan air mandiri melalui jaringan Pamsimas. Namun, Istikhoroh (34) mengeluhkan bahwa air Pamsimas tersebut mengandung kadar zat besi yang sangat tinggi, sehingga tidak layak dan tidak aman jika dikonsumsi sebagai air minum. Gangguan pasokan air minum bersih dari sumber mata air Penggung yang tersendat dalam dua pekan ini memperparah penderitaan warga di RT 2 RW 3.
Hal ini terjadi karena jaringan PDAM Kota Semarang belum masuk menjangkau wilayah RT 2 dan RT 3, melainkan baru melayani RT 1. Warga sangat berharap janji realisasi perluasan jaringan pipa PDAM pada bulan Agustus ini bisa terlaksana dengan cepat demi mengakhiri penderitaan tahunan warga dari kekeringan ekstrem.
Solusi Jangka Panjang Mengatasi Kekeringan Tahunan
Krisis kekeringan yang kerap berulang di Kelurahan Jabungan ini menuntut adanya aksi nyata jangka panjang dari Pemerintah Kota Semarang maupun instansi terkait. Menurut beberapa tokoh masyarakat setempat, program pembuatan sumur artesis dalam berskala besar di titik-titik rawan dinilai sebagai solusi paling efisien. Sumur artesis dengan kedalaman lebih dari 100 meter dipercaya mampu menembus lapisan akuifer dalam yang debit airnya relatif stabil meskipun musim kemarau berlangsung hingga berbulan-bulan.
Selain sumur artesis, edukasi mengenai teknik pemanenan air hujan (rainwater harvesting) juga perlu digalakkan sebelum memasuki musim kemarau berikutnya. Dengan menampung dan menyaring air hujan selama musim basah, warga dapat memiliki cadangan sediaan air mandiri yang melimpah untuk kebutuhan non-konsumsi, sehingga tidak perlu mengantre berjam-jam saat dropping tangki air bersih terlambat datang. Upaya kolaboratif antara warga dan pemerintah daerah ini sangat mendesak agar kemandirian air di kelurahan ini segera terbentuk.
Dikutip dari sumber: tribunnews.com | kompas.com

